Sabtu, 06 Juni 2015

BUDAYA & TRADISI PERNIKAHAN DI JAWA

Proses pernikahan adat Jawa dimulai dengan Siraman yang dilakukan sebagi proses pembersihan jiwa dan raga yang dilakukan sehari sebelum ijab kabul.
Ada 7 Pitulungan (penolong) yang melakukan proses siraman. Airnya merupakan campuran dari kembang setaman yang disebut Banyu Perwitosari yang jika memungkinkan diambil dari 7 mata air. Diawali siraman oleh orangtua calon pengantin, acara siraman ditutup oleh siraman pemaes yang kemudian memecahkan kendi.
Beranjak malam, acara dilanjutkan dengan Midodareni, yaitu malam kedua mempelai melepas masa lajang. Dalam acara Midodareni yang digelar di kediaman perempuan ini, ada acara nyantrik untuk memastikan pengantin laki-laki akan hadir pada ijab kabul dan kepastian bahwa keluarga mempelai perempuan siap melaksanakan perkawinan dan upacara panggih di hari berikutnya.
Upacara Panggih
Usai acara akad nikah dilakukan upacara Panggih, di mana kembang mayang dibawa keluar rumah dan diletakkan di persimpangan dekat rumah yang tujuannya untuk mengusir roh jahat. Setelah itu pengantin perempuan yang bertemu pengantin laki-laki akan melanjutkan upacara dengan melakukan
1) Balangan suruh
Melempar daun sirih yang melambangkan cinta kasih dan kesetiaan
2) Wiji dadi
Mempelai laki-laki menginjak telur ayam hingga pecah, kemudian mempelai perempuan akan membasuh kaki sang suami dengan air bunga. Proses ini melambangkan seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya.
3) Pupuk
Ibu mempelai perempuan mengusap mempelai mantu laki-laki sebagai tanda ikhlas menerimanya sebagai bagian dari keluarga.
4) Sinduran
Berjalan perlahan-lahan dengan menyampirkan kain sindur sebagai tanda bahwa kedua mempelai sudah diterima sebagai keluarga.
5) Timbang
Kedua mempelai duduk di pangkuan bapak mempelai perempuan sebagai tanda kasih sayang orangtua terhadap anak dan menantu sama besarnya.
6) Kacar-kucur
Kacar-kucur yang dituangkan ke pangkuan perempuan sebagai simbol pemberian nafkah.
7) Dahar Klimah
Saling menyuapi satu sama lain yang melambangkan kedua mempelai akan hidup bersama dalam susah maupun senang.
8 Mertui
Orangtua mempelai perempuan menjemput orangtua mempelai laki-laki di depan rumah untuk berjalan bersama menuju tempat upacara.
9) Sungkeman
Kedua mempelai memohon restu dari kedua orangtua.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )

Jumat, 05 Juni 2015

BUDAYA & TRADISI PERNIKAHAN DI LAMPUNG


Masyarakat asli Lampung terbagai dalam dua kelompok besar yaitu Pepadun dan Saibatin. Kelompok Lampung Pepadun umumnya mendiami daerah pedalaman sementara masyarakat Lampung Saibatin lebih banyak mendiami wilayah sepanjang pantai timur, selatan, dan barat, karenanya sering disebut juga sebagai Lampung Pesisir. Baik Lampung Pepadun maupun Saibatin memiliki keunikan masing-masing dari segi adat istiadat, busana, juga tatacara melangsungkan pernikahan.  Prosesi pernikahan adat berikut merupakan tata cara yang lebih sering dilakukan oleh masyarakat Lampung Pepadun.
Sebelum Pernikahan
Pada zaman dahulu ada beberapa tahapan yang dilakukan sebelum sampai ke proses pernikahan. Namun beberapa sudah tak lagi dilakukan mengingat pergaulan yang semakin luas, pria dan wanita sudah lebih bebas memilih pasangan masing-masing tanpa keterlibatan orangtua.
a. Nindai/Nyubuk
Yakni proses awal dimana orangtua calon mempelai pria akan menilai apakah si gadis berkenan dihati atau tidak. Zaman dahulu pada upacara Begawi (Cakak Pepadun) biasanya diadakan Cangget Pilangan, dimana bujang dan gadis hadir dengan mengenakan busana adat, disinilah utusan keluarga calon pengantin pria nyubuk atau nindai gadis dibalai adat.
b. Be ulih-ulihan (Bertanya-tanya)
Usai proses Nindai, apabila gadis sudah berkenan dihati, berarti selangkah menuju perkawinan sudah ditapaki. Calon mempelai pria mencari tahu apakah gadis tersebut sudah ada yang punya atau masih bebas, keturunannya bagaimana (bibit, bobot). Jika sudah cocok, maka diadakan pendekatan. Yang dilanjutkan dengan bekado atau berkunjung ke kediaman si gadis dengan membawa alat-alat makan dan minum untuk mengutarakan isi hati.
c. Nunang (ngelamar)
Pada hari yang sudah ditentukan calon pengantin pria datang melamar dengan membawa bawaan berupa makanan, kue-kue, dodol, alat merokok, alat-alat nyireh ugay cambai (sirih pinang). Jumlah dalam satu macam disesuaikan dengan tahta atau kedudukan calon pengantin pria. Dalam kunjungan tersebut dikemukakan maksud dan tujuan kepada orangtua si gadis yaitu untuk meminang si gadis.
d. Nyirok (ngikat)
Acara ini bisa dijadikan sekaligus pada waktu melamar, dimana calon pengantin pria memberikan tanda pengikat dan hadiah istimewa bagi si gadis berupa mas berlian, kain jung sarat dan sebagainya. Tata cara Nyirok adalah:
Orang tua calon pengantin pria mengikat pinggang si gadis dengan benang lutan (benang terbuat dari kapas berwarna putih, merah, hitam atau tridatu) sepanjang 1 meter dengan niat semoga menjadi jodoh dan dijauhkan dari halangan.
e. Berunding (Menjeu)
Utusan calon pengantin pria datang kerumah calon mempelai wanita (manjau) dengan membawa dudul cumbi  untuk berunding mengenai uang jujur, mas kawin, adat macam apa yang akan dilaksanakan, dan menentukan tempat dilakukannya akad nikah. Menurut tradisi adat Lampung, umumnya pernikahan dilaksanakan di rumah calon pengantin pria, tetapi hal itupun dapat dibicarakan bersama.
f. Sesimburan (dimandikan)
Upacara sesimburan dilaksanakan di kali atau di sumur dengan arak-arakan. Calon pengantin wanita dipayungi dengan payung gober dan diiringi tetabuhan (gender, gujih dan lain-lain), talo lunik. Lalu calon pengantin wanita dan gadis-gadis beserta ibu-ibu mandi bersama saling simbur, mengandung makna bahwa masa bermain telah berakhir dan sebagai tolak bala karena besok akan melaksanakan akad nikah.
g. Betanges (mandi uap)
Merebus rempah-rempah wewangian yang disebut pepun sampai mendidih dan diletakkan dibawah kursi. Calon pengantin wanita duduk di atas kursi tersebut dan dilingkari dengan tikar pandan (dikurung), bagian atas tikar ditutup dengan tampah atau kain, sehingga uap menyebar ke seluruh tubuh, agar tubuh mengeluarkan aroma harum, dan tidak terlalu banyak mengeluarkan keringat. Lama betanges kira-kira 15-25 menit.

i. Berparas (mencukur)
Setelah betanges dilanjutkan dengan berparas atau menghilangkan bulu-bulu halus dan membentuk alis agar tampak menarik dan mempermudah membentuk cintok  pada dahi dan pelipis. Pada malam hari dilanjutkan memasang pacar pada kuku calon mempelai wanita.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )

Rabu, 03 Juni 2015

BUDAYA & TRADISI TABOT DI BENGKULU

Perayaan Tabot pada mulanya dibawa dan dikembangkan oleh orang-orang India asal Siphoy yang datang bersama datangnya tentara Inggris ke Bengkulu tahun 1685. Mereka datang ke Bengkulu dari Madras-Benggali India bagian selatan, bersama-sama bangsa Inggris semasa pendudukannya di Bengkulu. Salah satu pendatang tersebut adalah Ulama Syiah bernama Syeh Burhanuddin yang kemudian lebih dikenal dengan nama Imam Senggolo. Seperti telah diuraikan sebelumnya, nama "Tabut" berasal dari kata Arab yaitu Tabut, yang secara harfiah berarti Kotak Kayu atau Peti. Konon menurut kepercayaan kaum Bani Israil pada waktu itu bahwa bila Tabut ini muncul dan berada di tangan pemimpin mereka, akan mendatangkan kebaikan bagi mereka. Namun sebaliknya bila Tabut tersebut hilang maka akan dapat mendatangkan malapeta bagi mereka.
Karena upacara ini sudah cukup lama tumbuh dan berkembang di sebagian masyarakat Kota Bengkulu, maka akhirnya dipandang sebagai upacara tradisional orang Bengkulu. Baik dari kalangan kaum Sipai maupun oleh seluruh masyarakat Melayu Bengkulu. Dengan demikian jadilah Upacara Tabot sebagai Upacara Tradisional dari suku Melayu Bengkulu.
Di Bengkulu sendiri, upacara Tabot ini merupakan upacara hari berkabung atas gugurnya Syaid Agung Husien bin Ali bin Abi Thalib, salah seorang cucu Nabi Muhammad SAW. Inti dari upacara tersebut adalah mengenang usaha dan upaya para pemimpin Syi'ah dan kaumnya yang berupaya mengumpulkan bagian-bagian dari jenazah Husien. Setelah semua bagian tubuhnya terkumpul kemudian diarak dan dimakamkan di Padang Karbala. Seluruh upacara berlangsung selama 10 hari, yaitu dari tanggal 01 sampai dengan 10 Muharram. Adapun tahapan dari upacara Tabot tersebut adalah sebagai berikut : Mengambil Tanah, Duduk Penja, Meradai, Merajang, Arak Penja, Arak Serban, Gam (masa tenang/berkabung) dan Arak Gedang serta Tabot terbuang.
Upacara Tabot di Bengkulu mengandung aspek ritual dan non ritual. Aspek ritual hanya boleh dilakukan oleh Keluarga Keturunan Tabot yang dipimpin oleh sesepuh keturunannya langsung, serta memiliki ketentuan-ketentuan khusus dan norma-norma yang harus ditaati oleh mereka. Sedangkan acara yang mengandung aspek non ritual dapat diikuti oleh siapa saja.
Tabot yang terus berkembang dari tahun ke tahun itu lama-kelamaan sudah semakin meninggalkan arti upacara tabot itu sendiri. Tabot yang sekarang lebih ke acara festival dan Tabot sendiri dijadikan suatu objek pariwisata di Bengkulu.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )


***)berbagai sunber



Selasa, 02 Juni 2015

RUMAH ADAT NUWO SESAT DI LAMPUNG

Rumah adat Nuwo Sesat yang berasal dari daerah Lampung Sumatera. Rumah tradisional adat Lampung ini termaksud kategori rumah panggung. Atapnya terbuat dari anyaman ilalang dan sebagian besar bahnnya terbuat dari kayu. Bentuk rumah panggun ini untuk menghindari serangan hewan dan lebih kokoh bila terjadi gempa bumi, karena masyarakat lampung telah mengenal gempa dari zaman dahulu dan lampung terletak di pertemuan lempeng Asia dan Australia.
Terdapat ornamen yang khas pada bagian sisi bangunan tertentu rumah sessat ini. Umumnya bentuk rumah sessat berbentuk rumah besar. Namun saat ini bentuknya tidak terlalu besar. Di perkampungan penduduk asli Lampung sebagian besar rumah adat ini dibangun tidak bertiang dan berlantai di tanah dengan fungsi yang tetap sama.
Ciri khas lainnya di rumah sesat ini adalah hiasan payung besar di atapnya [Rurung Agung] yang berwarna putih, kuning, dan merah yang melambangkan tingkat Kepenyimbangan bagi masyarakat adat Lampung Pepadun.
Bentuk bangunan tempat tinggal masyarakat Kabupaten Lampung boleh di bilang cukup beraneka ragam. Hal ini dapat di lihat dari keragaman bentuk rumah yang didirikan oleh warga setempat sebagai tempat tinggal.
Fungsi rumah adat Nuwo Sesat pada dasarnya merupakan balai pertemuan adat tempat para Perwatin pada saat mengadakan Pepung atau musyawarah adat, karenanya itu juga disebut sebagai Sesat Balai Agung. Bagian bagian dari bangunan ini adalah :
a). Ijan Geladak merupakan tangga masuk yang dilengkapi dengan atap yang disebut Rurung Agung.
b). Anjungan, yaitu serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil
c). Pusiban sebagai ruang tempat musyawarah resmi.
d). Ruang Tetabuhan merupakan tempat menyimpan alat musik tradisional.
e). Ruang Gajah Merem sebagai tempat istirahat bagi para Penyimbang.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Rumah adat,)

Senin, 01 Juni 2015

BUDAYA & TRADISI PERANG KETUPAT DI BANGKA


Perang ketupat bangka ditempilang merupakan suatu seni adat istiadat budaya bangka belitung, perang ketupat tempilang adalah perayaan pesta adat yang telah berlangsung sejak zaman nenek moyang masyarakat tempilang. Konon kabarnya kegiatan ini telah berlangsung sejak masyarakat belum mengenal adanya agama.
Acara perang ketupat tempilang biasanya dilakukan atau diselenggarakan setiap masuk tahun baru islam  (1  Muharam), perayaan ini dilakukan dipantai tempilang bangka barat, uniknya saat melakukan tradisi ini serta berlangsungnya acara ini , penduduk sekitar pantai Tempilang yang menyelenggarakan acara ini akan membuka pintu rumah sebesar-besarnya untuk menyambut tamu-tamu yang berkunjung ke desa mereka.
Perang ketupat di tempilang ini diawali dengan prosesi pemanggilan roh “halus” oleh dukun kampung dengan pemberian sesajen kepada mahluk halus tersebut, menurut sesepuh masyarakat disana mereka para mahluk halus itu didatangkan ke pinggir pantai pasir kuning kemudian disambut dengan pesta dan tarian adat, setelah itu barulah para peserta yang ikut dalam lempar ketupat ini saling melempar ketupat ke setiap orang yang mereka temui, adat istiadat budaya perang ketupat tempilang bangka.

Acara ini cukup digemari oleh kaum muda di daerah Bangka, banyak pemuda yang sengaja datang dari jauh, atau malah pulang dari perantauan untuk menghadiri acara ini. Wialayh tempilang merupakan wilayah bangka barat untuk menuju desa tempilang ini membutuhkan jarak tempuh sekitar 2  jam perjalanan dari kota pangkal pinang, adat istiadat budaya perang ketupat tempilang bangka.