Jumat, 03 April 2015

RUMAH ADAT PROVINSI SUMATERA BARAT


Provinsi dengan ibu kota Padang ini menyimpan banyak hal menyenangkan untuk Anda. Tak hanya kuliner yang menggoyang lidah, keunikan rumah adat Sumatera Barat ini juga tak boleh Anda lewatkan. Arsitekturnya yang unik nan rumit akan menyihir mata Anda. Sudah tahu apa rumah adat provinsi dengan yang didominasi etnis Minangkabau ini? 

Rumah Gadang 
Istilah “Rumah Gadang” boleh jadi familiar di telinga Anda. Bangunan yang terkadang juga ditulis Rumah Godang ini didaulat sebagai rumah adat Sumatera Barat. Ia merupakan rumah tradisional etnis Minangkabau dan tersebar merata di seluruh wilayah Sumatera Barat, mengingat wilayah ini memang didominasi suku yang beragama islam tersebut. Nama lain dari rumah ini adalah Rumah Bagonjong atau Rumah Baanjung.
Rumah Gadang ini mampu menyihir mata Anda dengan keapikan arsitekturnya. Signatur yang paling menyita perhatian adalah bagian atapnya yang meruncing serupa tanduk kerbau. Atap ini seolah bersusun sehingga ujung tajam tersebut bisa lebih dari 4 dalam satu rumah. Dahulu kala, atap Rumah Gadang ini terbuat dari ijuk selayaknya rumah tradisional lainnya. Namun kemajuan teknologi membuat rumah Gadang ikut bersolek. Sekarang kita bisa menjumpai rumah Gadang dengan atap dari seng.
Secara umum, rumah gadang dibangun dengan bentuk persegi empat. Badan rumah dibagi ke dalam dua bagian utama yakni muka dan belakang. Pada bagian depan, lazimnya terdapat banyak ukiran ornament dengan motif umum seperti bunga, akar, daun serta bidang genjang dan persegi. Adapun bagian luar belakang rumah Gadang dilapisi dengan memakai bahan bambu yang dibelah. Rumah cantik ini dibangin dengan menggunakan tiang-tiang yang panjang. badan rumah seolah ditinggikan ke atas namun uniknya tidak mudah goyah karena guncangan hebat sekalipun. Rumah gadang ini memiliki satu tangga yang terletak pada bagian depan rumah. Sementara itu, ruangan yang berfungsi sebagai dapur dibangun terpisah, letaknya biasanya di belakang rumah.
Seperti rumah adat lainnya, setiap bagian dari rumah Gadang juga menyimpan makna filosofis yang erat kaitannya dengan budaya dan agama masyarakat setempat. 

Menengok Bagian Dalam Rumah Gadang
Fungsi utama rumah Gadang adalah sebagai tempat tinggal bersama keluarga. Namun berbeda dengan rumah lainnya, si Gadang ini memiliki ketentuan tersendiri, antara lain: 
1). Jumlah kamar yang ada di dalam rumah Gadang bergantung pada jumlah perempuan yang ada di dalam keluarga tersebut. Semua perempuan yang memiliki suami mendapatkan satu kamar. Dapun perempuan tua tanpa suami akan diberi kamar yang letaknya berada di dekat dapur. Kamar tersebut umumnya ditempati oleh anak-anak kecil. Sementara itu, bagi gadis remaja biasanya digabung dalam satu ruangan dan letaknya di ujung rumah yang terpisah.
2). Ruang di dalam rumah Gadang selalu berjumlah ganjil, antara tiga dan sebelas.
3). Rumah adat Sumatera Barat ini didirikan di atas tanah milik bersama keluarga induk dalam sebuah kaum. Ia juga diturunkan dari generasi yang satu ke generasi lainnya. Pemegang warisnya adalah perempuan di keluarga tersebut
4). Selain kamar tidur, semua ruangan yang ada di dalam badan rumah bersifat publik.
5). Di halaman rumah Gadang, umumnya terdapat dua bangunan yang disebut dengan nama Rangkiang. Bangunan ini merupakan tempat menyimpan padi.
6). Pada rumah gadang terdapat bangunan yang ada pada sayap kiri pun kanan rumah. Bangunan tersebut dikenal dengan nama anjuang atau anjungan. Fungsinya adalah sebagai tempat untuk pengantin bersanding serta pengobatan. Alasan inilah yang membuat rumah Gadang juga dikenal dengan nama rumah Baanjuang.
7). Selain Rangkiang, tak jauh dari rumah gadang juga biasanya dibangun surau kecil tempat semua anggota keluarga melaksanakan kegiatan beribadah, pendidikan, juga lazim dijadikan tempat tidur laki-laki yang belum memiliki istri.

8) Rumah adat Sumatera Barat ini memiliki dinding yang juga tak kalah menariknya dari atapnya. Dinding ini diukir penuh dengan sedikit membubuhkan warna seperti merah, hijau, juga terkadang oranye. Keseluruhan elemen pada bangunan membuat siapapun yang memandang pasti akan takjub, termasuk Anda.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Rumah adat, Tradisi, )

Kamis, 02 April 2015

TRADISI, BUDAYA SENI KOLINTANG MINAHASA SULAWESI UTARA

Kolintang merupakan alat musik khas dari Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Kolintang terbuat dari bahan dasar kayu, seperti kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya (jenis kayu yang agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya tersusun sedemikian rupa membentuk garis-garis sejajar). Bila dipukul kolintang dapat mengeluarkan bunyi yang rentang suara yang panjang, dapat mencapai nada-nada tinggi (high pitch note) maupun rendah (low pitch note).
Alat musik merdu yang tumbuh dan berkembang di Minahasa, Sulawesi Utara tersebut, berhasil dicatatkan ke dalam buku rekor dunia, The Guiness Book World of Records. Pada hari Sabtu (31/10.2009) lalu, musik kolintang beserta musik bambu lainnya dimainkan secara massal oleh lebih dari 3000 orang di Stadion Maesa, Tondano, Sulawesi Utara. Selain pertunjukan musik massal, juga dipamerkan perangkat kolintang dan musik bambu yang berukuran raksasa.
Sertifikat pengakuan dari Guiness World Records (GWR) diserahkan oleh perwakilan lembaga tersebut, Lucia Sinigagliesi, kepada penyelenggara acara, Benny J Mamoto, Direktur Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. Sertifikat selanjutnya diserahkan kepada Bupati Minahasa, Vreeke Runtu. Di dalam acara tersebut, Lucia Sinigagliesi mengungkapkan, hasil penelitian tim GWR yang berkantor di London, Inggris, menunjukkan bahwa instrumen, melodi, dan irama kolintang dan musik bambu di Indonesia belum ada yang menyamai di dunia. GWR mencatat kolintang dan musik bambu sebagai wujud seni tradisi yang menakjubkan dunia.
Alat musik khas Minahasa yang dalam dunia musik termasuk jenis xilofon kayu itu pada awalnya hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer di atas kedua kaki pemainnya dengan posisi duduk di tanah, dengan kedua kaki terbujur lurus ke depan. Dengan berjalannya waktu, kedua kaki pemain diganti dengan dua batang pisang, atau kadang-ladang diganti dengan tali, mirip alat musik arumba di Jawa Barat.
Penggunaan peti resonator seperti penampilan kolintang saat ini baru dimulai sekitar tahun 1830 saat Pangeran Diponegoro dibuang ke Minahasa. Konon, ketika dibuang ke Minahasa, Pangeran Diponegoro dan pengikutnya membawa serta perangkat alat musik gamelan, lengkap dengan gambangnya. Perangkat alat musik itu ditempatkan di kotak resonator. Hal itulah yang menginspirasi orang Minahasa untuk membuat kotak resonator bagi peralatan musik kolintang mereka.
Sesudah Perang Dunia II, barulah kolintang muncul kembali yang dipelopori oleh Nelwan Katuuk (seorang yang menyusun nada kolintang menurut susunan nada musik universal). Pada mulanya hanya terdiri dari satu Melody dengan susunan nada diatonis, dengan jarak nada 2 oktaf, dan sebagai pengiring dipakai alat-alat “string” seperti gitar, ukulele dan stringbas.
Tahun 1954 kolintang sudah dibuat 2 ½ oktaf (masih diatonis). Pada tahun 1960 sudah mencapai 3 ½ oktaf dengan nada 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Dasar nada masih terbatas pada tiga kunci (Naturel, 1 mol, dan 1 kruis) dengan jarak nada 4 ½ oktaf dari F s./d. C. Dan pengembangan musik kolintang tetap berlangsung baik kualitas alat, perluasan jarak nada, bentuk peti resonator (untuk memperbaiki suara), maupun penampilan.
Saat ini Kolintang yang dibuat sudah mencapai 6 (enam) oktaf dengan chromatisch penuh.
Demikian pula dengan teknik memukulkan stick pada bilah kolintang. Karena sesuai irama yang beraneka ragam, maka untuk menghasilkan irama tertentu maka teknik memukulkan stik pada tiap alat pun berbeda beda. Pada materi ini, diberikan teknik teknik dasar cara memukulkan stick pada kolintang. Untuk dapat memahami teknik, dibutuhkan pengetahuan akan harga dan jumlah ketukan dalam setiap bar nada. Dan berbekal pengetahuan dasar dasar bermain kolintang ini saja, ditambah dengan bakat individu, maka grup/ kelompok musik kolintang telah dapat memainkan berbagai jenis lagu dengan tingkat kesulitan yang variatif secara spontan.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter. Tradisi, Kesenian, )


***)berbagai sumber

Rabu, 01 April 2015

BUDAYA & TRADISI ALAT MUSIK TIFA


Indonesia  memiliki  berbagai jenis alat musik yang berbeda-beda antar daerah. Hal ini dikarenakan karakteristik wilayahnya yang kepulauan sehingga mengakibatkan banyakya suku, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda. Oleh sebab itu kita perlu mengenal akan berbagai macam kekayaan bangsa yang bukan hanya alamnya saja, namun budayanya. Salah satunya itu adalah alat musik tifa yang berasal dari Papua dan Maluku. Meskipun namanya berbeda, karena masyarakat Maluku menyebutnya dengan tahito atau tihal.

Tifa adalah alat musik yang berasal dari maluku dan papua, Tifa mirip seperti gendang cara dimainkan adalah dengan dipukul. Terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. bentuknyapun biasanya dibuat dengan ukiran. tiap suku di maluku dan papuamemiliki tifa dengan ciri khas nya masing-masing.

Tifa sendiri memiliki berbagai macam jenis, misalanya saja terdapat tifa jekir, tifa dasar, tifa potong, tifa jekir potong, dan tifa bas. Tiap jenis ini memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain. Sebab suara yang dihasilkan dari tiap jenis tifa ini berbeda, namun ketika dimainkan bersamaan akan mengahsilkan harmonisasi nada yang indah. Namun secara keseluruhan nilai guna dari tifa sendiri itu sama.


Tifa biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang, Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi. rian ini biasanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti upacara-upacara adat maupun acara-acara penting lainnya.  (Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, )

Selasa, 31 Maret 2015

RUMAH ADAT MENTAWAI UMA


Pernah mendengar nama Mentawai sebelumnya? Kabupaten yang masuk ke dalam regional Provinsi Sumatera Barat ini terbilang cukup terkenal. Potensi wisatanya menarik banyak turis untuk berkunjung ke sana. Mentawai pada dasarnya diambil dari nama suku yang mendiami wilayah tersebut. Mereka menyebut Kabupaten Mentawai dengan nama Bumi Sikerei. Jika Anda berkunjung ke sana, jangan lupa untuk mengamati rumah adat mereka yang salah satunya disebut Uma. Meski berada dalam wilayah administratif Sumatera Barat, namun rumah adat Mentawai
memang bukanlah  rumah gadang

Jenis-jenis Rumah di Mentawai
Jika dihitung, sedikitnya ada tiga jenis rumah adat mentawai. Pembagiannya didasarkan pada fungsi rumah itu sendiri, antara lain: 
1). Uma. Rumah adat Metawai yang satu ini memiliki bangunan yang besar dan ditujukan sebagai tempat penginapan bersama. Uma ini juga dijadikan bangunan tempat warisan serta alat-alat pusaka disimpan. Selain itu ia juga kerap kali dijadikan tempat untuk persembahan serta penyimpanan tengkorak hasil buruan. Fungsi lain dari Uma adalah sebagai balai besar tempat pertemuan kerabat serta upacara-upacara adat. Tiap kampung di Kabupaten Mentawai memiliki Uma masing-masing. Adapun yang menjadi kepala dari Uma tersebut dikenal dengan istilah Rimata. Uma ini dibuat dari kayu pilihan yang kokoh. Bentuknya seperti rumah panggung. Bagian kolongnya biasanya dimanfaatkan untuk beternak.
2). Lalep. Merupakan rumah adat Mentawai yang ditujukan bagi pasangan suami isteri yang telah dianggap sah pernikahannya oleh adat. Lazimnya lalep ini berada di dalam Uma.
3). Rusuk. Rumah adat Mentawai ini dibuat secara khusus. Fungsinya sebagai tempat anak-anak muda, janda serta orang-orang yang diusir dari kampung.

Membedah Bagian-bagian Uma 
Sama seperti bangunan adat di wilayah lain, Uma pun memiliki keunikannya sendiri. Salah satunya adalah pembangunannya yang tak menggunakan paku sama sekali. Meski demikian, Uma tetap bisa berdiri tegak tak mudah roboh. Rahasia Uma terletak pada peletakan pasak dan tiang yang cermat dan rapi. Selain itu, konstruksi kokoh Uma juga berkat sambungan silang bertakik yang apik.
Secara umum, bangunan Uma menyerupai tenda ataupun atap yang cenderung memanjang. Tenda atau atap ini dibangun di atas tiang-tiang. Tenda atau atap ini menangungi Uma secara keseluruhan bahkan nyaris ke lantai rumah. Atap Uma biasanya diambil dari daun rumbia serta tumbuhan lainnya yang hidup di rawa atau bibir pantai. Oleh karena beratapkan rumbia, masyarakat Mentawai rutin mengganti atap Uma mereka terlebih di musim penghujan.
Menengok kerangka bangunan Uma, umumnya ia terdiri atas lima perangkat konstruksi utama rumah yakni tonggak-tonggak, tiang-tiang penopang atap serta balok-balok. Semua fitur ini kemudian dibangung berjejer dan melintang ke arah belakang. Untuk kemudian selanjutnya mereka akan saling berhubungan bersama dengan balok yang memanjang. Struktur Uma yang merupakan hasil dari teknik ikat, sambung dan tusuk ini cukup kuat. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat Uma pun tidak sembarangan, melainkan bahan-bahan alam yang terjamin mutunya.

Jika ditelaah, ruangan Uma pun bisa dibagi menjadi dua jenis: 
1). Bagian depan, yang termasuk di dalamnya adalah serambi yang terbuka. Ia merupakan tempat dimana anggota keluarga juga tetamu bisa mengobrol. Saat malam hari, tempat ini juga ramai difungsikan sebagai tempat bercerita kejadian sehari-hari juga tempat tidur bagi pria dalam anggota keluarga.
2). Bagian dalam, yakni mencakup tempat tidur untuk keluarga terutama wanita. Selain untuk tempat tidur, terdapat pula tungku perapian yang digunakan untuk memasak. Bagian tengah Uma ini juga terkadang digunakan sebagai tempat untuk melakukan ritual tarian adat Mentawai.

Rumah adat Mentawai
 ini umumnya dibangun bersama dengan pekarangan yang luas. Di bagian belakang Uma, masyarakat Mentawai umumnya menanam pohon sagu serta tanaman lainnya.

Senin, 30 Maret 2015

CIRI KHAS DAN TRADISI BATIK PAPUA


Batik yang telah mencatatkan namanya di Unesco sebagai Warisan Budaya Dunia yang berasal dari Indonensia, dan umumnya sebagian masyarakat Indonensia mengenal batik itu hanya berada di Pulau Jawa saja, dan ternyata Batik  tidak hanya Jawa saja loh, di Papua juga memiliki Batik.lalu seperti apa batik yang berada di Papua.

Beberapa peninggalan arkeolog, yang tersebar di Papua dengan berbagai ragam dari peradaban sejarah manusia, bukti nyata itu dapat di jumpai dalam bentuk lukisan - lukisan dinding goa yang dapt di temukan di daerah Fak-fak, Biak, Jayapura dan daerah lainnya di Papua. Lukisan yang di perkirakan oleh para Ilmuwan berasal dari zaman 40.000 hingga 30.000 tahun Sebelum Masehi, Peninggalan nilai sejarah ini kemudian menjadi sumber inspirasi para perajin papua untuk menghasilkan karya seni bertema etnik

Tak hanya lukisan dinding, bukti sejarah lain yang berupa fosil, artefak dan benda purbakala juga mempengaruhi kreatifitas Seniman Papua dalam menciptakan cederamata khas daerah Papua. setelah melewati beberapa modifikasi, motif atau corak hiasan kuno tersebut akhirnya dijadikan motif batik Papua.

Batik Papua yang dapat di temukan di pasaran, seperti motif Burung Cenderawasih, motif Komoro, motif Sentani, dan lainnya, dengan dasar warna yang cerah, seperti merah ataupun orange, ada juga motif yang di variasi dengan sentuhan garis - garis emas dan di juluki batik Prada.

Keunikan batik Papua membuatnya kini banyak dilirik pencinta batik lokal maupun international. Batik papua tak hanya melambangkan culture masyarakat yang ada di sekitar, tapi juga menorehkan unsur sejarah dan arkeolog di dalamnya.
Berikut ini adalah gambar - gambar batik Papua sesuai dengan nama dan motifnya :
*). Batik Komoro dengan motif gambar patung berdiri 
*). Batik Asmat dengan motif gambar patung duduk
*). Motif Cederawasih, dengan gambar yang di dominasi dengan burung cenderawasih  
*).  Batik Sentani, dengan motif gambar alur melingkar

Batik khas daerah Papua, yang merupakan ciri khas culture kehidupan masyarakat di papua, ini layak untuk kita lestarikan karena merupakan aset nasional lainnya, bila tertarik untuk memiliki batik - batik papua.   (Adat, Budaya, Ciri Khas,Tradisi, )