Jumat, 06 Maret 2015

UPACARA ADAT MEPENDES DI BALI


Kehidupan seorang manusia keturunan Hindu Bali tak pernah lepas dari upacara adat dan keagamaan, sejak ia dilahirkan hingga akhir hayatnya. Berbagai ritual keagamaan yang digelar oleh masyarakat Bali, diperuntukan sebagai penyeimbang, baik kehidupan manusia dengan Sang Khalik, manusia dengan alam dan kehidupan sesama manusia.
Orang-orang di bali memiliki budaya yang masih terjaga sampai sekarang walaupun banyak pengaruh kebudayaan asing yang masuk ke wilayahnya yang di bawa oleh wisatawan mancanegara dan hal inilah yang menrik perhatian wisatawan untuk datang ke Bali karena budayanya yang begitu terkenal.
Salah satu kebudayaan unik yang di miliki bali adalah potong gigi , kedengarannya memang aneh tapi ini merupakan upacara adat yang mengandung makna yaitu pembersihan sifat buruk yang ada pada diri manusia. Dalam bahasa Bali, potong gigi adalah Mepandes, Matatah atau Mesanggih. Upacara ini ialah mengikir atau meratakan enam buah taring yang ada di deretan gigi atas. Upacara yang dianggap sakral ini diperuntukan bagi anak-anak yang mulai beranjak dewasa. Yakni bagi anak perempuan yang telah mengalami menstruasi, sedangkan bagi anak laki-laki yang sudah mengalami perubahan suara.
Dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali, upacara adat Mepandes adalah salah satu rangkaian kegiatan ritual keagamaan yang diniatkan untuk mengendalikan enam sifat buruk dalam diri manusia. Keenam sifat buruk manusia itu disebut dengan Sad Ripu: Hawanafsu, keserakahan, kemarahan, mabuk membutakan pikiran, perasaan bingung, dan Iri hati.
Sebelum upacara, pendeta meminta restu di tempat suci, sementara bagi anak-anak dipercikan air suci atau tirta dan memohon keselamatan. Kemudian pendeta memotong rambut anak-anak dan menuliskan lambang suci.
Setelah itu, anak-anak menginjak sesajen yang disediakan sebagai simbol mohon kekuatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), kemudian naik ke bale tempat pelaksanaan Mepandes. Selanjutnya pendeta mendoakan anak-anak tersebut dan memberikan wejangan (nasihat) agar menjadi manusia yang baik.
Dengan upacara ini, anak-anak yang beranjak dewasa diantarkan ke suatu kehidupan yang mendewasakan diri mereka yang disebut Niskala. Sifat-sifat buruk yang dibersihkan melalui potong gigi di antaranya adalah sifat tamak, hawa nafsu, kemarahan, iri hati, mabuk yang dapat membutakan pikiran.
Bila tidak dikendalikan, tentu saja dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak baik, bisa merugikan dan membahayakan bagi anak-anak itu dikemudian hari.


(Budaya, Karakter. Kebiasaan, upacara adat.Tradisi.Tokoh, )










***)berbagai sumber

0 komentar:

Posting Komentar