Rabu, 06 Mei 2015

UPACARA ADAT TINGKEBAN


Dalam masyarakat Jawa, upacara Tingkeban biasa dilakukan bagi calon ibu yang mengandung untuk pertama kalinya. Karena pelaksanaannya pada saat kandungan berusia 7 (tujuh) bulan, maka Upacara Tingkeban sering juga disebut dengan upacara mitoni. Rangkaian Upacara Tingkeban terdiri dari :
Sungkeman
Sungkeman ini dilakukan oleh istri kepada suami dan dilanjutkan oleh suami – istri pada orangtuanya.
Siraman
Siraman ini dilakukan kepada calon orang tua jabang bayi dengan air dari 7 sumber dan dilakukan oleh tujuh orang sesepuh keluarga. Gayung yang dipakai untuk siraman ini terbuat dari kelapa yang masih ada dagingnya dan bagian dasarnya diberi lobang. Setelah siraman si calon ibu dpakaikan kain 7 warna, yang melambangkan sifat-sifat baik yang akan dibawa oleh jabang bayi dalam kandungan.
Calon ayah si bayi kemudian menjatuhkan tropong (alat tenun tradisional ) di sela kain 7 warna yang melambangkan proses kelahiran si bayi kelak yang berjalan lancar dan sempurna.
Pantes-pantes (Ganti Busana 7 kali)
Dalam acara pantes-pantes ini calon ibu dipakaikan kain dan kebaya 7 macam. Kain dan kebaya yang pertama sampai yang ke enam merupakan busana yang menunjukkan kemewahan dan kebesaran. Ibu-ibu yang hadir saat ditanya apakah si calon ibu pantas menggunakan busana-busana tersebut menberikan jawaban :“dereng Pantes” (belum pantas). Setelah dipakaikan busana ke tujuh yang berupa kain lurik dengan motif sederhana baru ibu-ibu yang hadir menjawab : “pantes” (pantas). Di sini merupakan perlambang bahwa ibu yang sedang mengandung sebiknya tidak memikirkan hal yang sifatnya keduniawian dan berpenampilan bersahaja.
Tigas Kendit
Calon ibu kemudian diikat perutnya (dikenditi) dengan janur kuning. Ikatan janur ini harus dipotong (ditigas) oleh calon ayah si bayi untuk membuka ikatan yang menghalangi lahirnya si jabang bayi. Ikatan tersebut dipotong dengan keris yang ujungnya diberi kunyit sebagai tolak bala.
Brojolan
Dalam acara brojolan ini, dua buah Cengkir gading (kelapa gading muda) yang telah diberi gambar wayang (biasanya gambar Betara Kamajaya-Dewi Ratih atau Harjuna – Sembadra) dimasukkan oleh calon ayah melalui perut calon ibu dan diterima oleh nenek jabang bayi. Harapan dari acara ini adalah supaya si jabang bayi yang lahir memiliki fisik dan sifat seperti tokoh wayang tersebut.
Angrem
Di sini Calon Ibu duduk di tumpukan kain yang tadi digunakan dalam acaraPantes-pantes seperti ayam betina yang sedang mengerami telurnya. Harapannya adalah agar si jabang bayi dapat lahir cukup bulan.
Dhahar Ajang Cowek
Di sini calon ayah duduk mendamping calon ibu di tumpukan kain dan berdua mengambil makanan yang disediakan dengan alas makan cowek (cobek)dan mereka berdua memakannya sampai habis. Harapannya adalah supaya plasenta bayi menjadi sehat sehingga si jabang bayi dapat bertumbuh dengan sehat.
Setelah semua acara ini selesai, dilanjutkan dengan acara dodol dawet/dodol rujak,yang merupakan penutup rangkaian upacara Tingkeban. Tamu yang hadir membeli dawet tersebut menggunakan uang yang terbuat dari kreweng (tanah liat).

Upacara Tingkeban ini merupakan perlambang dari rangkaian doa dari calon orang tua, keluarga besar beserta kerabat agar jabang bayi dalam kandungan kelak dapat lahir dengan lancar dan selamat.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, upacara adat, )

0 komentar:

Posting Komentar