Tampilkan postingan dengan label tarian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tarian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Agustus 2015

TARI TITI NITI MAHLIGAI TARIAN KHAS JAMBI


Tari Niti Mahligai, Tarian Unik Khas Jambi
Tarian ini menjadi lambang Bumi Alam Sakti Kerinci yang menunjukkan bahwa tarian ini memang bernuansa magis. Rencananya Pemkab Kerinci akan mengusulkan warisan budaya ini untuk dipatenkan.
Tarian tradisional khas Kerinci, Provinsi Jambi “Niti Mahligai” ditampikan di Pentas Tari Nusantara yang berlangsung di Tenggarong, Kalimantan Timur, 18 Juni 2011 lalu. “Kita membawa tari Niti Mahligai yang saat ini telah menjadi ikon seni budaya Kerinci,” kata Sekretaris Disbudpar Kerinci, Amri Swarta, di Kerinci.
Sebelum bertolak ke Tanggarong, tim kesenian dari Kerinci itu terlebih dahulu akan tampil di Taman Budaya Jambi di Kota Jambi dan Taman Tungkal Ancol Beach di Kota Kualatungkal. Tari Niti Mahligai adalah seni pertunjukan yang merupakan gabungan dari seni tari, silat, dan atraksi “panutis” yaitu kebatinan khas Kerinci, atau “mercok” sejenis debus khas Kerinci.
Tari tradisi ini adalah salah satu warisan tradisi purba Proto-Melayu yang masih lestari di Kerinci hingga saat ini.
Kepercayaan masyarakat Kalimantan terhadap hal yang bersifat magis hampir sama dengan masyarakat Kerinci sehingganya tim tari Niti Mahligai tersebut diundang hadir di Tenggarong.
Lebih jauh dia mengatakan, diantara atraksi Panutis dan Mercok yang telah diolah dalam koreografi tari tersebut diantaranya adalah para penari wanita menari diatas beling, duri dan aur, paku, mata pedang, dan bara api.
Meraih Tahta
Tari Niti Mahligai yang merupakan jenis tari Asyek berkembang di daerah kecamatan Gunung Kerinci tepatnya di desa Siulak Mukai Tengah. Tari Niti Mahligai termasuk jenis tari tradisional yang mengutarakan “kehendak” dan bersifat magis.
Tari Niti Mahligai berasal dari kata Niti artinya berjalan di atas suatu benda, naik artinya menuju sesuatu yang tertinggi dan mahligai adalah tahta atau istana. Tari Niti mahligai memiliki makna tarian yang dilakukan secara khusuk untuk mencapai sebuah tujuan yaitu memperoleh tahta atau istana. Tari ini dulunya digunakan dalam upacara pemujaan yaitu upacara adat penobatan gelar adat bilan salih.
Menurut Muchtar Hadis, salah satu tokoh seniman Kerinci menyatakan bilan salih adalah gelar adat yang di sandang oleh anak batino (kaum perempuan) yang bertugas untuk mendampingi tugas pemangku adat yang menyandang gelar sko, yang terdiri dari: Depati, Ninik Mamak, dan Anak Jantan yang disandang oleh kaum laki-laki.
Upacara penobatan bilan salih, merupakan upacara yang dilakukan oleh masyarakat Siulak Mukai Tengah secara turun-temurun yang disebut dengan upacara Naik Mahligai. Pada zaman dahulu tarian ini memiliki fungsi sebagai : sarana komunikasi kepada roh nenek moyang; sarana komunikasi kepada masyarakat; sarana penyembuhan; sarana pengungkapan rasa syukur; dan sebagai sarana pengikat solidaritas masyarakat setempat khususnya antar penyandang gelar adat.
Tarian ini memiliki keunikan dari tari-tarian yang berkembang di Indonesia saat ini, yaitu adanya atraksi yang menantang dan berbahaya. Pada saat dimulai atraksi, saat inilah para penari mulai dirasuki roh-roh nenek moyang yang mereka percayai mendatangkan kekuatan yang melebihi kekuatan manusia. Sehingga, para penari tidak sadarkan diri atautrance, selama atraksi berlangsung. 
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, tarian tradisional, tarian, )


Jumat, 03 Juli 2015

UPACARA ADAT RAMBU TUKA TANA TORAJA

Rambu Tuka’ merupakan upacara adat yang lebih menekankan pada ucapan syukur. Di upacara ini, tidak akan ditemukan kesedihan atau pun ratapan tangis. Hanya anda kegembiraan dan suka cita. Upacara ini biasanya diadakan di acara – acara seperti pernikahan, syukur atas hasil panen, atau peresmian rumah Tongkonan. Di acara ini, semua rumpun keluarga akan berkumpul dan sekaligus menjadi ajang mempererat hubungan antar keluarga.
Beberapa upacara yang sering dilaksanakan adalah Ma’Bua, Meroek, atau Mangrara Banua Sura’.Ma’Bua sendiri adalah acara syukur atas rumah atau pun berkah yang didapatkan dan dalam pelaksanaannya melibatkan rumpun keluarga. Meroek juga merupakan acara syukur atas rumah baru dan berkat lain namun pelaksanaannya melibatkan banyak orang, tidak hanya dari rumpun keluarga. Sementara Mangrara Banua Sura’ merupakan acara syukur atas rumah baru yang hanya dilakukan oleh lingkup keluarga penghuni rumah baru tersebut.
Untuk waktu pelaksanaanya, upacara Rambu Tuka dilakukan di pagi atau sebelum siang tiba dan bertempat di sebelah timur Tongkonan. Hal ini tentu berbeda dengan Rambu Solo’ yang diadakan di siang hari dan bertempat di sebelah barat Tongkonan.
Di setiap acara syukuran ini, akan dilengkapi dengan tari – tarian khas Tana Toraja seperti Pa’ Gellu, Pa’ Bonabella, Gellu Tungga’, Ondo Samalele, Pa’ Dao Bulan, Pa’ Burake, Memanna, Maluya, Pa’ Tirra’, Panimbong, dan masih banyak lagi. Akan ditampilkan juga musik – musik adat seperti Pa’ Pompang, Pa’ Barrung, dan Pa’ Pelle. Jenis tarian dan musik yang ditampilkan hanya khusus untuk acara Rambu Tuka’.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat,Tradisi, tarian, )

Jumat, 22 Mei 2015

TARIAN BARIS TUNGGAL DI BALI

Tari Baris merupakan salah satu tarian sakral yang digunakan oleh umat Hindu di Bali sebagai pelengkap di suatu upacara keagamaan agama Hindu di Bali. Sifat sakral dalam tari Baris ialah, bahwa tari ini merupakan sebuah tarian untuk membuktikan kedewasaan seseorang dalam segi jasmani. Kedewasaan seseorang pria dibuktikan dengan mempertunjukkan kemahiran dalam olah keprajuritan yang biasanya disertai dengan kemahiran dalam memainkan senjata perang.
Tari Baris ini merupakan juga tari kepahlawanan, mempertunjukkan jiwa keprajuritan dan juga dalam memainkan senjata dalam perang, sebuah tarian kedewasaan jasmani, gerakan-gerakan tarian menununjukkan kewibawaan seorang prajurit dalam setiap langkahnya yang tegap dan berwibawa. Kematangan jiwa tercermin dari gerak langkah yang dinamis dan tatapan mata yang dalam dan karakter yang kuat.
Maka dari itu, tari Baris selain merupakan tarian sakral juga merupakan tari kepahlawanan. Adapun ciri khas dari tari Baris ialah, pertama tari ini lebih menonjolkan ketegapan dan kemantapan dalam langkah – langkah kaki serta kemahiran memainkan senjata perang. Kedua, pakaiannya juga mempunyai corak yang khas, yaitu penutup kepalanya bebebtuk kerucut, dan penutup badannya terdiri dari baju panjang serta hiasan kain – kain kecil panjang yaitu awir dan lelamakan.
Tari Baris terbagi menjadi 2 bagian, salah satunya adalah tari Baris Tunggal. Tari baris tunggal merupakan tarian sakral yang digunakan pada saat Upacara Pitra Yadnya yaitu Karya mamukur, dimana disini tari baris tunggal berfungsi sebagai sarana penghatur punia atau persembahan bagi para leluhur yang dihantarkan dengan mantra-mantra suci Sulinggih dan alunan gamelan pengiring tari baris tunggal itu sendiri. Tari baris tunggal merupakan tarian lepas yang dibawakan oleh seorang laki-laki, dimana menggambarkan seorang prajurit gagah perkasa yang memiliki kematangan jiwa dan kepercayaan dimana itu diperlihatkan dengan gerakan tari yang dinamis dan lugas. Berbeda dengan tari Baris Tunggal sakral, tari Baris Tunggal Profan juga biasanya ditampilkan sebagai tari lepas dalam beragam pagelaran seni pertunjukan balih-balihan
(Adat, Budaya, Ciri Khas, tarian, Tradisi, )


***)berbagai sumber

Rabu, 29 April 2015

TRADISI BUDAYA TARIAN BETAWI

Sebagai penduduk asli Jakarta, suku Betawi kaya akan kesenian dan budaya. Namun, tidak semua kesenian Betawi dikenal masyarakat luas, termasuk Tari Ronggeng Topeng Blantek ini. Walau, jauh sebelum kesenian tradisional Betawi lainnya dikenal masyarakat luas, wisata seni budaya Betawi ini telah hadir di antara masyarakat Betawi.
wisata seni budaya Tari Ronggeng Topeng Blantek ini berasal dari dua suku kata, yakni topeng dan blantek. Kata topeng yang dimaksud berasal dari bahasa Cina pada zaman Dinasti Ming yaitu to dan pengTo berarti sandi dan peng artinya wara. Jadi kata topeng berarti sandiwara. Sedangkan kata blantek memiliki banyak arti yang berasal dari beberapa pendapat. Ada yang mengatakan blantek berasal dari suara musik yang mengiringinya yaitu rebana biang, rebana anak dan kecrek yang menghasilkan suara blang blang crek. Namun, lidah masyarakat lokal sulit untuk menyebut blang blang crek dan ingin enaknya saja dalam penyebutan maka munculah kata blantek.
Wisata seni budaya Betawi ini memiliki ciri khas yaitu terdapat tiga buah sundung (kayu yang dirangkai berbentuk segi tiga yang biasa digunakan untuk memikul sayuran). Satu sundung berukuran besar dan dua berukuran kecil lalu diletakkan di panggung saat pentas sebagai pembatas para pemain yang sedang berlakon dengan panjak, musik, juga dengan para pemain lain yang belum dapat giliran berlakon. Perangkat lainnya yang digunakan saat pentas berupa obor yang diletakkan di tengah panggung pentas.
Namun amat disayangkan, di zaman moderinasi seperti sekarang, kesenian yang dulu terkenal di kalangan rakyat jelata ini kondisinya nyaris punah. Bahkan, keberadaan seniman dan sanggar tari Ronggeng Topeng Blantek sulit ditemukan sekarang.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, tarian, )

Minggu, 19 April 2015

BUDAYA & TRADISI SASEMBA TORAJA UTARA SULSEL

Seperti apa tradisi petani dalam menggelar pesta panen raya di Desa Kande Api, Kecamatan Tikala Rantepao Kabupaten Toraja Utara? Tak berbeda dengan perkampungan lain yang ada di Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, warga Desa Kande Api pun masih melestarikan tradisi adat budaya warisan leluhur mereka. Setiap tahun, warga Kande Api menggelar tradisi pesta panen dengan membawa berbagai macam makanan khas seperti nasi bambu atau dikenal dengan nama peong.
Pemandangan itu pula yang terjadi sekitar dua pekan silam. Diiringi dengan tari ma’gallu, serta ma’ lambuk atau menumbuk padi secara beramai-ramai mereka pun berpesta. Mengawali prosesi pesta panen, terlebih dahulu salah seorang pemuka adat setempat memberikan wejangan adat (ma’parappa’) yang berisi pesan pesan leluhur tentang aturan bertani, yang hingga sekarang masih dianut oleh masyarakat setempat. Setelah itu, warga yang memadati lokasi pesta panen, disuguhkan tarian ma’gallu yang dibawakan oleh remaja putri.
Tarian ini bermakna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang berlimpah. Dalam tarian ini. Warga yang merasa terhibur memberikan uang (sawer) sebagai tanda kegembiraan dan terimah kasih. Sahabat anehdidunia.com sementara itu, sebagian warga menggelar tradisi ma’lambuk atau menumbuk padi. Dalam tradisi ini, kaum pria memukul lesung dengan irama tinggi, diikuti gerakan menyerupai tarian serta teriakan khas Toraja. Warga setempat meyakini, jika irama ketukan lesung dapat mengusir hama padi. Semakin tinggi irama ketukan, maka semakin banyak hama yang diusir.
Dan, yang paling unik adalah tradisi aksi adu kaki “sisemba” atau baku tendang, yang lebih terlihat seperti tawuran massal.Pasalnya, warga dari kampung tetangga, saling berhadap hadapan untuk melumpuhkan, dengan cara beradu kaki “tendang” secara massal. Bagi peserta yang jatuh, maka lawan tidak lagi diperbolehkan menyerang. Ada cara yang digunakan agar tidak mudah jatuh, mereka saling berpegangan tangan sambil menyerang dengan tendangan kaki.
Tak heran jika banyak warga yang mengalami cedera, mulai dari keseleo hingga luka terbuka akibat kerasnya tendangan lawan. Namun, jika ada peserta yang sudah dianggap terlalu kasar, maka para tokoh adat segera memisahkan mereka. Sahabat anehdidunia.comwalaupun terlihat kasar dan keras, namun warga yang saling tendang di lapangan bebas, tidaklah membawa dendam hingga keluar arena. Usai "sisemba", mereka bubar dan kembali akrab.
"Tradisi sisemba ini bukanlah permainan anarkis, namun tradisi ini adalah sebuah keharusan warga setempat demi mendapatkan hasil panen yang berlimpah ditahun akan datang. Pasalnya, jika tidak melaksanakan tradisi sisemba, maka diyakini akan berakibat gagal panen," tutur Isac Padangsulle, selaku tokoh adat Kande Api.


(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi.Tokoh, tarian, )





Senin, 06 April 2015

BUDAYA & TRADISI TARIAN SUKU BIAK PAPUA


Tarian Yospan merupakan tarian rakyat yang biasa dilakukan dalam kegiatan-kegiatan acara adat maupun peringatan hari-hari besar. Dan berkelompok dan memiliki irama dan ritme dilakukan secara riang, sangat unik dan menarik.
Suku Biak merupakan salah satu kelompok masyarakat Papua yang hidup dan tinggal di kabupaten Biak Numfor. Turun temurun, setiap kegiatan yang terkait dengan alur kehidupan mereka berjalan berdasarkan aturan adat. Aturan adat itu berasal dari para leluhur suku Biak yang diyakini sebagai tetua adat. Salah satu aturan adat yang harus dijalani yakni prosesi adat sebelum warga Biak melangsungkan pernikahan. Bagaimana prosesi ritual adat itu?
Sebelum melangsungkan pernikahan, pihak keluarga dari lelaki Biak yang ingin menikah itu diwajibkan untuk melamar wanita calon pendamping. Di Biak, terdapat dua cara untuk melamar calon pengantin wanita. Pertama, pinangan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki sewaktu anak lelaki mereka ataupun anak gadis yang akan dilamar masih berusia anak-anak. Dalam bahasa Biak, tradisi ini disebut Sanepen. Cara yang kedua yakni Fakfuken, orang tua lelaki melamar gadis yang akan menjadi pengantin setelah kedua anak mereka berumur minimal 15 tahun. Pada saat melamar itu, pihak lelaki membawa Kaken atau tanda perkenalan seperti gelang ataupun kalung dari manik-manik. Tidak ada ketentuan adat, berapa banyak kaken yang harus diserahkan, jumlah dan jenisnya berdasarkan pada kemampuan materi dari pihak keluarga lelaki. Jika orang tua dari pihak perempuan menerima lamaran itu, mereka juga memberikan kaken kepada pihak lelaki. Sama halnya dengan tanda perkenalan yang diberikan oleh pihak lelaki, pihak perempuan memberikan kaken sesuai dengan kemampuannya.
Jika kedua belah pihak telah setuju untuk menyelenggarakan pernikahan, mereka menentukan mas kawin yang nantinya diberikan pihak lelaki kepada pihak wanita. Dulu, mas kawin itu umumnya berupa Kamfar yakni gelang dari kulit kerang. Jika lelaki yang akan menikah itu berasal dari keluarga terpandang, ia memberikan sebuah perahu layar sebagai mas kawin. Namun seiring dengan perkembangan jaman, suku Biak mengganti jenis mas kawin itu dengan gelang yang terbuat dari perak. Setelah penentuan mas kawin, kedua orang tua dari kedua belah pihak pergi menuju rumah tetua adat suku Biak. Bagi suku Biak, tetua adat memiliki peran yang sangat penting. Begitu pentingnya peran tetua adat itu, pihak keluarga akan menyelenggarakan pernikahan pada hari yang oleh tetua adat dianggap sebagai hari baik. Sementara itu, segala macam kebutuhan pernikahan mulai dipersiapkan satu minggu menjelang hari pernikahan dilaksanakan.
Pernikahan adat suku Biak mulai dilaksanakan satu hari sebelum hari pernikahan tiba. Kedua calon mempelai yang akan menikah mengawali tradisi ini dengan acara makan bersama dengan semua saudara lelaki dari pihak ibu kedua mempelai. Keesokan harinya, keluarga wanita mulai menghias sang gadis sesuai adat. Setelah dianggap tampil sempurna, barulah calon pengantin wanita dibawa menuju rumah pengantin lelaki. Di rumah pihak lelaki itulah, puncak acara dalam pernikahan adat suku Biak dilaksanakan. Ketika menikah, lelaki ataupun wanita Biak mengenakan pakaian adat Papua yang bentuknya hampir sama. Mereka juga memakai gelang, kalung, serta ikat pinggang dari manik-manik.
Acara puncak pernikahan adat suku Biak diawali dengan penyerahan seperangkat senjata berupa tombak, panah, serta parang. Penyerahan itu diawali dari pihak keluarga wanita kepada pihak lelaki. Bagi suku Biak, penyerahan dari pihak wanita itu menjadi simbol bahwa keluarga wanita telah sepenuhnya menyerahkan anak gadis mereka kepada keluarga lelaki. Setelah diterima oleh wakil dari pihak lelaki, pihak keluarga lelaki menyerahkan pemberian yang bentuknya sama kepada pihak perempuan. Kali ini, pemberian ini menjadi simbol, keluarga lelaki telah menerima anak gadis itu dan menjaganya seperti anak mereka sendiri. Setelah itu, barulah kepala adat mulai mengawali inti acara pernikahan.
Inti acara pernikahan adat diawali dengan pemberian sebatang rokok yang tampak seperti cerutu. Rokok itu wajib dihisap oleh pengantin lelaki kemudian diisap oleh pengantin wanita. Tak lama kemudian, tetua adat memberikan dua buah ubi yang telah dibakar di atas bara api kepada kedua mempelai. Ketika itu, setiap pengantin memperoleh sebuah ubi. Doa dan mantera yang dibacakan oleh sang tetua adat mengiringi prosesi pemberian ubi itu kepada kedua mempelai. Dalam tradisi ini, doa merupakan permohonan restu kepada Tuhan agar kedua mempelai mendapat kebahagiaan. Setelah doa selesai dibacakan, kedua mempelai melaksanakan tradisi saling menyuapi ubi. Seluruh rangkaian acara pernikahan adat suku Biak ini diakhiri dengan makan bersama dengan seluruh keluarga dari kedua pihak dan para tamu undangan. Dengan berakhirnya tradisi makan bersama itu, usai sudah seluruh rangkaian acara pernikahan adat suku Biak di kabupaten Biak Numfor, Papua.


(Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, tarian,)