Tampilkan postingan dengan label Karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karakter. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2015

UPACARA PASOLA NUSA TENGGARA BARAT

Dalam upacara tradisional Indonesia ini, akan ada dua kelompok yang melakukan “perang-perangan”. Setiap kelompok yang terdiri atas lebih dari 100 pemuda itu “berperang” dengan bersenjatakan tombak dari kayu yang ujungnya tumpul, dan juga mengenakan baju perang dalam adat mereka. Pada bulan Februari atau Maret setiap tahunnya, upacara ini akan digelar untuk menyampaikan doa kepada Tuhan, agar panen mereka pada tahun itu bisa berhasil
Tradisi perang-perangan dengan menunggang kuda sambil menyerang lawan dengan lembing ini bisa kita saksikan dengan mengunjungi Pulau Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tradisi ini disebut dengan nama Pasola.
Nama Pasola berasal dari kata "sola" atau "hola", yang berarti lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar. Acara melempar lembing kayu ini dilakukan para pemuda desa di Sumba dari atas kuda yang sedang dipacu kencang yang berlawanan arah.
Kabupaten Sumba Barat Daya, Propinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai ritus Pasola yang sangat karakteristik dengan muatan sejarah yang sudah mentradisi. Pasola pertama digelar di Kodi kemudian di Wanokaka, Gaura dan Lamboya. Gelar pasola di daerah-daerah itu berbeda namun tetap dalam kurun waktu Pebruari dan Maret setiap tahun. Penanggalannya ditentukan oleh rato (tokoh adat yang berwenang).
Menyebut Pasola bagi masyarakat Kodi tidak bisa dilepaskan dari kisah kembara purba tiga bersaudara Ngongu Toumatutu, Yagi Waikareri, dan Ubu Dulla dari kampung Waiwuang (sebuah perkampungan adat di Wanokaka). Kisah yang kemudian melahirkan tokoh sentral Rabu Kaba. Dara purba inilah yang kemudian merangkaikan jalinan kawin mawin Waiwuang (Wanukaka) dengan Tossi (Kodi) dimana memeteraikan ritus, “Nyale dan Pasola” yang digelar mentradisi hingga kini.
Saat yang tepat untuk melihat Pasola sebenarnya datang 1 sampai dengan 2 hari dari hari H diadakan Pasola, karena sebelum hari H ada tradisi yang diadakan. Salah satunya adalah tradisi nyale yang merupakan puncak dari segala kegiatan untuk memulai pasola. Pasola, tradisi perang-perangan dengan menunggang kuda sambil menyerang lawan dengan lembing di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
Sebelum Pasola dimulai biasanya diawali dengan pelaksanaan adat nyale. Adat nyale adalah salah satu upacara yang memanjatkan rasa syukur atas anugerah yang didapatkan, yang ditandai dengan datangnya musim panen dan cacing laut yang melimpah di pinggir pantai.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter, upacara adat.Tradisi.Tokoh, Tradisi, )


***)berbagai sumber

Sabtu, 02 Mei 2015

TRADISI UPACARA PEDANG PORA

Upacara Pedang Pora merupakan tradisi di lingkungan Perwira yang telah lulus dari akademi militer, akademi angkatan laut, akademi angkatan udara dan akademi kepolisian. Meski hampir sama, keduanya memiliki sedikit perbedaan. Makna dari upacara ini yaitu memberikan penghormatan kepada seorang perwira yang sedang melangsungkan pernikahan. Upacara pedang Pora menggambarkan secara simbolis saat seorang Perwira memasuki gerbang atau gapura kehidupan rumah tangga dan melepas masa lajangn ya untuk mengarungi mahligai rumah tangga.
Untuk prosesi ini diperlukan pula beberapa orang yang nantinya akan berpartisipasi dalam upacara. Beberapa petugas itu, antara lain satu pasukan pedang, inspektur upacara, komandan upacara, perwira upacara, pembawa puisi, pembawa acara, pembawa baki, pembawa lilin serta operator musik. Personal ini pun disesuaikan dengan prosesi yang menjadi tradisi setiap keturunan.
Pemilihan upacara tergantung pada situasi dan keinginan mempelai yang merupakan alumni akademi dari masing-masing akademi dan masing-masing angkatan. Begitu juga musik yang digunakan dalam prosesi. ini Namun prinsip dan aturan dasar pelaksanaan upacara ini tetaplah sama.
Kelengkapan yang dibutuhkan diantaranya kalungan bunga (melati/anggrek), hand bouquet, kaos tangan, lilin bor putih/ merah jambu beserta tempat lilinnya, baki berlapis taplak, kadga (pedang pendek), pedang, seperangkat pakaian bayangkari/ persit, teks mc dan puisi. Perlengkapan ini harus disesuaikan dengan tradisi masing-masing kesatuan/ angkatan.
Lebih jelasnya Upacara Pedang Pora adalah sebuah tradisi Upacara Ke Militeran biasanya dilakukan terhadap perwira muda di lingkungan TNI dan kepolisian ketika ada salah satu anggota mereka melangsungkan pernikahan atau dilakukan untuk penyambutan pejabat baru dan merupakan sebuah tradisi wajib yang telah turun-menurun. Pedang pora sendiri adalah jajaran pedang kehormatan berbentuk gapura yang di lewati ke dua mempelai, menggambarkan saat di masukinya pintu gerbang kehidupan rumah tangga yang baru.
Ada banyak simbol dalam ritual itu, diantaranya melambangkan persaudaraan, solidaritas, permohonan perlindungan pada Tuhan,dan lain sebagainya.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter, upacara adat, Tradisi, )







***)beberapa sumber

Senin, 16 Maret 2015

RUMAH ADAT & TRADISI CIRIKHAS BENGKULU

Provinsi Bengkulu  terletak di Pulau Sumatera bagian barat daya. Ia berbatasan dengan Sumatera Barat, Jambi di sebelah timur dan Lampung di arah selatan. Bengkulu dikenal dalam beragam nama antara lain Bengkulen, Benkoelen, Bencoolen dan juga Bangkahulu. Dahulu, wilayah ini pernah dihuni banyak kerajaan antara lain Kerajaan Selebar, Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Balai Buntar, Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Marau Riang dan masih banyak lagi lainnya. Mungkin karena alasan inilah, Bengkulu kemudian kental dengan budaya. Salah satu fitur seni yang bisa dinikmati di tempat ini adalah rumah tradisional. Sama seperti wilayah lainnya,  juga menyimpan falsafah hidup masyarakat setempat. 
Rumah Adat Bubungan Lima 
Rumah adat Bengkulu bernama Bubungan Lima. Secara umum, bangunan ini tergolong rumah panggung. Sejatinya, nama “Bubungan Lima” melekat bukan tanpa alasan. Ia merujuk pada atap rumah tersebut. Selain disebut dengan “Bubungan Lima”, rumah adat Bengkulu ini juga terkadang dikenal dengan nama “Bubungan Haji” “Bubungan Limas”, dan juga “Bubungan Jembatan”. 
Rumah apik nan cantik ini umumnya terbuat dari kayu medang kemuning atau dikenal juga dengan nama balam. Kayu ini dipilih sebab karakternya lembut namun ia tahan lama bahkan hingga ratusan tahun. Adapun bagian lantai rumah Bubungan Lima ini terbuat dari papan,. Bagian atapnya disusun dari ijuk enau bisa juga sirap. Bagian depan rumah terdapat tangga. Anak tangga ini berjumlah ganjil sebab berkaitan dengan adat dan kepercayaan setempat. 
Jika didasarkan pada literatur yang ada, sebenarnya, rumah adat Bengkulu ini tidak ditujukan untuk tempat tinggal umum. Rumah Bubungan Lima memiliki fungsi khusus yakni sebagai tempat dilaksanakannya berbgai ritual adat seperti kelahiran, penyambutan tamu, perkawinan, dan juga kematian. 
Bagian-Bagian Rumah Bubungan Lima
Secara umum, rumah bubungan lima ini terdiri atas: 
Bagian atas, yakni atap yang terbuat dari ijuk, seng namun terkadang juga bambu. Bubungan yang dibuat dalam beragam bentuk. Pecu atau plafon yang terbuat dari papan bisa juga pelupuh. Peran, yakni balok-balok di bagian atas, fungsinya adalah untuk menghubungkan tiang di bagian atas rumah. Kap, atau kerangka tempat kasau menempel. Kasau sendiri berfungsi untuk mendasi reng. Sementara reng berperan sebagai tempat atap menempel. Bagian atas rumah Bubungan Lima selanjutnya adalah listplang, sayuk dan penyunting.
Bagian tengah rumah terdiri atas, kusen atau kerangka pintu juga jendela. Dinding yang lazim terbuat dari papan juga pelupuh. Jendela dalam bentuk ram atau biasa. Pintu yang juga bisa dijumpai dalam bentuk ram atau biasa. Tulusi atau lubang angin, lazimnya berada di atas pintu juga jendela. Ia dibuat dalam beragam jenis lengkap dengan hiasan. Tiang penjuru. Piangung atau tiang pengjuru halaman. Tiang tengah. Dan terakhir adalah bendok, yakni balok yang melintang di sepanjang dinding.
Bagian bawah rumah bubungan lima antara lain lantai yang tersusun dari papan, pelupuh dan juga bambu. Geladan yang terdiri atas 8 papan dim, lebarnya 50 cm, ia dipasang di sepanjang dinding luar di atas balok. Kijing, merupakan penutup balok yang ada di pinggir luar, ia ada di sepanjang dinding rumah. Tilan, yakni balok sedang dengan fungsi sebagai tempat menempelnya lantai. Balok besar yakni kerangka besar tempat lantai. Blandar, yakni penahan talian, bagian ini dipasang melintang. Bedu, balok di bagian ats tempat rel menempel. Bidai, dibuat dari bambu tebal dan dipasang melintang di papan lantai. Tujuannya untuk mempertahankan dari serangan musuh dari arah bawah rumah. Peluph kamar tidur, disusun sejajar dengan papan lantai atau di atas bidai. Lapik tiang, yakni batu pondasi di tiap tiang rumah. Tangga depan juga tangga belakang.
Susunan Rumah Bubungan Lima & Fungsinya 
Jika didasarkan pada fungsi, maka susunan rumah adat Bengkulu ini, sebagai berikut: 
Berendo, yakni tempat untuk menerima tetamu yang kita kenal. Dan tamu tersebut hanya menyampaikan pesan singkat dan tidak bertamu dalam durasi yang lama. Berendo ini juga digunakan untuk bersantai di pagi dan sore hari. Kadang ia juga digunakan anak-anak sebagai tempat bermain.
Hall, adalah ruang untuk menerima tetamu yang kita sudah kenal dengan baik. Ia bisa juga kerabat atau tokoh yang disegani. Selain itu, hall ini juga umum dipakai sebgai tempat untuk bercengkrama bersama dengan keluarga utamanya di malah hari. Kadang juga ia dimanfaatkan sebagai tempat belajar anak-anak dan tempat untuk bermufakat.
Bilik Gedang. Ruangan ini disebut juga dengan nama bilik induk. Ia merupkan ruangan tempat tidur bagi suami dan istri juga anak kecil yang belum disapih.
Bilik Gadis. Ruangan ini digunakan sebagai tempat untuk si gadis dalam keluarga. Ruangan ini umumnya berada di dekat bilik gedang demi alasan keamanan.
Ruang tengah. Bagian yang satu ini lazim dikosongkan dari berbagai macam perabot rumah. Bagian sudutnya dilengkapi dengan tikar sebab memang fungsi utamanya adalah tempat unutuk menerima tamu untuk si ibu rumah tangga, atau juga keluarga dekat si gadis. Selain itu, ruangan ini juga sering digunakan sebagai tempat tidurnya si bujang dalam rumah.
Ruang Makan. Merupakan bagian dari rumah bubungan lima yang digunakan sebagai tempat untuk makan.
Garang. Adalah tempat untuk menyimpan tempayan air atau disebut juga dengan nama gerigik. Ruangan ini lazim digunakan sebagai tempat unutk mencuci piring juga bersih-bersih diri sebelum memulai aktifitas dapur.
Dapur, ruangan ini ada di bagian belakang rumah dekat dengan garang.
Berendo belakang. Ruangan ini merupakan serambi tetapi ada di belakang rumah. Ia merupakan tempat untuk bersantai khususnya bagi wanita. Berendo belakang pada rumah adat Bengkulu ini juga mirip dengan rumah adat Umeak Potong Jang, rumah Kubung Beranak dan juga Rumah Patah Sembilan.     (Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, Karakter, )



Rabu, 11 Maret 2015

MASYARAKAT BALI AGA, PENDUDUK ASLI PULAU BALI


Jauh sebelum terbentuknya masyarakat Bali keturunan Majapahit (Wong Majapahi), mereka tinggal berkelompok-kelompok dengan pemimpinnya masing-masing. Kelompok-kelompok inilah nantinya yang menjadi desa-desa di Bali; mereka adalah orang Bali Aga yang dikenal dengan nama Pasek Bali
Masyarakat Bali secara garis besar memiliki budaya, adat-istiadat, dan tradisi budaya yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Sejak Kerajaan Majapahit berhasil menguasai Bali sekitar tahun 1343 M (walau pun pada masa itu masyarakat Bali masih melakukan perlawanan kepada kekuasaan Majapahit di Bali), begitu Negarakretagamamenyebutkan, bahwa Bali merupakan negara bawahan Majapahit. Berikut kutipannya:
Di Hujung Medini, Pahang yang disebut paling dahulu. Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta Trengganu Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun. Di sebelah timur Jawa seperti yang berikut: Bali dengan negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah.
Berdasarkan keterangan Negarakretagama kita bisa mengetahui bahwa Pulau Bali dengan kerajaannya Badahulu pernah menjadi wilayah Kerajaan Majapahit. Akibat dari penguasaan Majapahit atas pulau ini, dapat dirasakan sampai sekarang. Dampak yang nyata terhadap struktur masyarakat Bali oleh Mapahahit saat sekarang adalah terdapatnya dua golongan besar masyarakat Bali, yaitu masyarakat Bali Aga merupakan masyarakat yang diperkirakan suku asli Pulau Bali dan masyarakat yang berasal dari Majapahit (keturunan Masyarakat Majapahit/wong Majapahit) (I Wayan Bawa, 1938: 394).
Masyarakat Bali Aga adalah kelompok masyarakat yang mendiami wilayah pegunungan dan merupakan masyarakat yang sulit ditundukkan pada saat Kerajaan Majapahit menguasai Bali. Kesulitan Majapahit dalam menundukkan Bali karena mendapat perlawanan dari masyarakat Bali Aga yang dapat dirasakan oleh Raja Sri Kresna Kapakisan, yang ditempatkan oleh Gajah Mada untuk memerintah di Bali. Kerajaan yang dipimpin oleh Raja Sri Kresna  Kapakisan sering mendapat serangan dari masyarakat Bali Aga yang berada di sekitar Danau Batur. Sebagai upaya untuk meredam perlawanan tersebut akhirnya Majapahit mengirim Sri Aji Kresna Kapakisan untuk mendampingi Raja Sri Kresna  Kapakisan (patih). Berkat bantuan Sri Aji Kresna  Kapakisan yang berasal dari keturunan Bali, akhirnya perlawanan dari masyarakat Bali Agak dapat diredakan (mungkin karena pengaruh Sri Ari Aji Kapakisan berasal dari Bali).
Jauh sebelum terbentuknya masyarakat Bali keturunan Majapahit (Wong Majapahi), masyarakat Bali diperkirakan berasal dari keturunan “Austronesia”. Mereka tinggal berkelompok-kelompok dengan pemimpinnya masing-masing. Kelompok-kelompok inilah nantinya yang menjadi desa-desa di Bali; mereka adalah orang Bali Aga yang dikenal dengan nama Pasek Bali. Bukti peninggalan masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana ditemukan di Desa Sembiran dan pesisir timur serta tenggara Danau Batur. Peninggalan-peninggalan itu berupa kapak perimbas, kapak genggam, pahat genggam, dan serut (Soejono, 1962: 34-43; Heekeren, 1972: 46). Wilayah sekitar Danau Batur ternyata sudah dihuni jauh sebelum masuknya kekuasaan Majapahit di Bali, dan dijadikan sebagai salah satu pusat perlawanan oleh masyakat Bali Aga kepada kekuasan Majapahit di Bali pada masa pemerintahan Sri Kresna Kapakisan. Danau Batur mungkin dapat disebut sebagai salah satu tempat kebudayaan dan berdiamnya masyarakat Bali Aga.
Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha, masyarakat Bali masih menganut kepercayaan nenek moyang yang mereka namakan Hyang. Menurut para ahli, kondisi spiritual masyarakat Bali pada saat itu masih “kosong”. Keadaan yang demikan ini berlangsung hingga awal tarikh Masehi, kurang lebih sekitar abad pertama Masehi. Dengan keadaan Bali yang demikian maka mulailah berdatangan orang-orang dari luar Bali ke pulau ini. Di samping untuk mengajarkan agama Hindu, mereka juga ingin “memajukan” Bali dalam segala sektor kehidupan. Untuk hal tersebut datanglah seorang rsi ke Bali bernama Maharsi Markandeya.
Menurut sumber-sumber berupa lontar, sastra, dan purana, Maharsi Markandeya berasal dari India. Seperti dinyatakan sebagai berikut dalam Markandeya Purana, “Sang Yogi Markandeya kawit hana saking Hindu” (sang yogi Markandeya asal mulanya adalah dari India). Berdasarkan data yang ditemukan bahwa nama Markandeya diperkirakan bukan nama perorarangan, melainkan adalah nama perguruan atau nama pasraman seperti halnya juga nama Agastya. Perguruan atau pasraman adalah lembaga yang mempelajari dan mengembangkan ajaran-ajaran dari guru-guru sebelumnya, tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi untuk melanjutkan tradisi dari guru sebelumnya. Jadi sang Maharsi Markandeya adalah seorang rsi dari garis perguruan yang namanya sama dengan nama pendahulunya di India. Ia datang ke Indonesia untuk menyebarkan agama Hindu, terutama paham Waisnawa (pemuja Wisnu).
Setibanya di Nusantara, Maharsi Markandeya mendirikan mendirikan asrama di sekitar Pegunungan Dieng Jawa Tengah. Setelah membuka asrama, akhirnya beliau melanjutkan perjalanan ke timur, tepatnya ke Bali. Maharsi Markandeya kemudian menamakan wilayah tersebut dengan nama Wasuki, kemudian berkembang menjadi nama Basukian dan selanjutnya orang-orang menyebutnya Basuki, yang artinya “keselamatan”. Hingga saat ini, tempat ini dikenal dengan nama Besakih dan tempat beliau menanam panca datu akhirnya didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Besakih. Dan Maharsi Markandeya mengganti nama Gunung Tohlangkir dengan nama Gunung Agung. Tidak hanya itu saja, Maharsi Markandeya akhirnya menamakan pulau ini dengan nama Wali yang berarti “persembahan” atau “korban suci”,  dan dikemudian hari dikenal dengan nama Bali Dwipa atau sekarang dikenal dengan nama Bali, di mana semua orang akan selamat dan sejahtera dengan melaksanakan persembahan yajna atau korban suci.
Orang-orang Aga, murid-murid Maharsi Markandeya menetap di desa-desa yang dilalui oleh beliau. Mereka membaur dengan orang-orang Bali lain, bertani dan bercocok tanam dengan cara yang sangat teratur, menyelenggarakan yajna seperti yang di ajarkan oleh Maharsi Markanadeya. Perjalanan sejarah yang begitu panjang, terutama setelah masuknya kekuasaan Majapahit di Bali yang membawa pengaruh baru, membuat masyarakat Bali Aga “semakin sedikit” bila dibandingkan dengan masyarakat Bali wong Majapahit.
Masyarakat Bali Aga yang sampai saat ini masih taat memegang adat dan istiadat terdapat di beberapa desa dan salah satunya adalah Desa Tenganan. Berdasarkan beberapa penelitian, masyarakat yang tinggal di Desa Tenganan adalah suku asli Bali yang tetap mempertahankan pola hidup tradisional sampai saat ini. Ketaatan masyarakat pada aturan tradisional desa yang diwariskan nenek moyang mereka secara turun temurun menjadi sebuah benteng kokoh dari pengaruh luar.
Menurut beberapa versi catatan sejarah dan penafsirannya, kata tenganan berasal dari kata tengahatau ngatengahan yang memiliki arti “bergerak ke daerah yang lebih dalam”. Kata tersebut berhubungan dengan pergerakan masyarakat desa dari pinggir pantai ke daerah pemukiman di tengah perbukitan, yaitu Bukit Barat (Bukit Kauh) dan Bukit Timur (Bukit Kangin).
Kehidupan sehari-hari masyarakat Tenganan diatur oleh hukum adat yang disebut awig-awig. Hukum adat tersebut diperkirakan ditulis pada abad ke-11 dan diperbaharui tahun 1842. Rumah adat Tenganan dibangun dari campuran batu bata merah, batu kali, dan tanah; atapnya terbuat dari tumpukan daun rumbia. Rumah-rumah tersebut memiliki bentuk dan ukuran relatif sama, dengan ciri khas pintu masuk lebarnya berukuran satu orang dewasa. Ciri khas lain adalah bagian atap pintu menyatu dengan atap rumah.
Desa lainnya yang terkenal sebagai salah satu masyarakat Bali Aga adalah masyarakat Desa Trunyan. Desa Trunyan terletak di pinggir timur Danau Batur, letaknya cukup terpencil karena hanya bisa ditempuh dengan menyeberangi Danau batur. Pada zaman Kerajaan Badahulu, daerah Danau Batur terkenal sebagai lokasi masyarakat Bali Aga; bahkan pada saat Majapahit menyerang kerajaan Badahulu, daerah tersebut sangat gencar melakukan perlawanan. Setelah Majapahit berhasil menundukkan raja terakhir Badahulu dan Gajah Mada mengirim Sri Kresna Kapakisan sebagai Raja di Badahulu yang baru, daerah Danau Batur terkenal sebagai salah satu pusat perlawanan terhadap kekuasaan Majapahit di Bali.
Pada saat sekarang, penduduk di Danau Batur di Desa Trunyan terkenal sebagai masyarakat Bali Aga. Mungkin yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Majapahit di Bali pada saat pemerintahan Sri Kresna Kapakisan adalah masyarakat Trunyan, karena pada saat sekarang daerah Danau Batur ada desa Trunyan yang merupakan masyarakat Bali Aga dan yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Majapahit juga adalah masyarakat Bali Aga. Bali Aga sendiri memiliki arti “penduduk asli Bali” atau “Bali pegunungan”. Penduduk Desa trunyan meyakini dirinya sebagai Bali turunan, sejak leluhur mereka turun dari langit ke bumi Trunyan. Nama Desa Trunyan juga bisa diartikan dengan pohon Tru Menyan yaitu pohon yang menyebarkan bau harum.
Desa Trunyan ini memiliki banyak keunikan. Salah satunya adalah kebiasaan penduduk setempat dalam menguburkan mayat. Masyarakat Desa Trunyan, tidak seperti penduduk Bali kebanyakan yang melakukan upacara ngaben dengan membakar mayat, meletakkan mayat  begitu saja di suatu tempat. Mayat-mayat tersebut dipagari ancak saji yang terbuat dari bambu berbentuk kerucut untuk menghindari serangan binatang buas. Peletakan mayat  tersebut hanya berlaku untuk mereka yang meninggalnya secara wajar. Sedangkan penduduk yang meninggal karena kecelakaan, bunuh diri, terdapat luka atau anak kecil yang belum tanggal gigi susunya, tetap dikubur seperti penguburan mayat pada umumnya.
Keberadaan Desa Tenganan dan Desa Trunyan sebagai sebuah desa adat berusaha melestarikan nilai-nilai leluhur Bali yang telah diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kedua desa tersebut, sebagai masyarakat Bali asli, sangat berbeda dengan masyarakat Bali pada umumnya, yaitu masyarakat Bali yang sudah terpengaruh pada saat Majapahit menguasai Bali.
Kini, antara Bali Aga dengan wong Majapahit hidup berdampingan, sama-sama menjaga nilai dan kepercayaan masing-masing. Mereka tinggal di Pulau Bali secara damai, tidak saling mencurigai, dan saling menghormati satu sama lain. Mereka berada dalam satu pulau dan satu negara, Indonesia
(Budaya, Ciri Khas, Identitas, Karakter,Tradisi.Tokoh,)


***) wacananusantara.org