Sabtu, 30 Mei 2015

BUDAYA & TRADISI TARI GENJEK KARANGASEM BALI

Tari Genjek adalah salah satu jenis kesenian tradisional yang sampai saat ini masih berkembang di Karangasem. Seni Genjek ini awalnya merupakan salah satu seni karawitan, dimana penampilannya pada setiap kesempatan tidak terlalu banyak menggunakan berbagai jenis instrumen seperti yang terdapat pada seni kerawitan lainnya. Elemen yang paling dominan dipakai dalam seni Genjek ini adalah elemen suara (vocal) yang dikemas dalam bentuk tembang atau gending.
Disamping terdapat beberapa alat musik lain yang dipakai sebagai pengiring, yang paling unik dalam penampilan seni Genjek ini adalah adanya sarana lain yang menyertai, yang berupa minuman khas Bali, yaitu tuak. Bermula dari acara kumpul-kumpul sambil minum arak dan tuak, beberapa orang yang sudah hilang kendali dalam artian mabuk, mereka mengeluarkan suara-suara yang tidak tentu dan akhirnya disahuti dengan yang lainnya. Kesan senang dan gembira terpancarkan dari cara mereka mengungkapkan kata-kata dengan berirama selayaknya sebuah lagu tersebut. Sebagian orang lainnya akan menirukan suara musik sebagai pelengkap dari genjek khususnya suara kendang dan kempul.

Kreativitas pun terus berjalan dengan masuknya para wanita yang ikut menyanyi, supaya sahut-menyahut dalam lagu menjadi lebih hidup. Tiba-tiba masuk pula alat tabuh angklung bambu (gerantangan) yang biasa mengiringi tari joged. Maka seni genjek mengalami perjalanan yang demikian cepat, dari seni mabuk menjadi seni koor khas Bali dengan irama yang demikian enerjik. Apalagi unsur mabuknya kemudian berangsur dihilangkan, serta masuknya tarian joged yang membuat tarian ini semakin bervariasi.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, tarian tradisional, )

ADAT & BUDAYA RITUAL BUANG JONG BANGKA BELITUNG

Bangka Belitung selain terkenal dengan negeri laskar pelangi dan sederatan pantai pantai terindah juga memiliki potensi wisata keanekaragaman adat budaya dan tradisi yang unik, salah satunya adalah tradisi buang jong yang diselenggarakan di desa Selincing , kecamatan gantung kabupaten belitung atau desa lepar pongok kecamatan lepar pongok kabupaten bangka selatan.
Prosesi ritual buang jong ini diawali dengan membuat miniatur yang menyerupai kapal laut atau perahu yang disebut dengan jong atau ancak oleh masyarakat setempat desa selincing yang terletak dibelitung timur sekitar 10 km dari pusat manggar, ritual buang jong merupakan ritual kepercayaan suku adat sawang. Suku sawang merupakan suku laut masyarakat belitung sejak jaman penjajahan belanda dan jepang, suku sawang hidupnya berpindah tempat atau nomaden yang berprofesi sebagai nelayan yang beragama islam.
Acara pokok buang jong dimulai pukul 12.00 WIB setelah tetua adat suku sawang merampalkan atau membaca mantra sebagai simbol pembukaan adat buang jong dimulai, setelah itu barulah warga laki-laki dan wanita menari nari sambil menyanyi mendendangkan syair-syair yang dinilai mengandung daya magis sambil mengelilingi perahu atau ancak tidak jarang para penari ini hilang kesadarannya atua kerasukan oleh mahluk halus, adat budaya ritual buang jong bangka belitung.

Sepanjang malam acara ini terus berlanjut secara meriah, seluruh masyarakat belitung atau tamu undangan juga tampak ikut larut dalam acara ini, hingga menjelang subuh acara ini pun berakhir. Puncak acara dari ritual Buang Jong ini pun dimulai dengan arak-arakan kendaraan membawa miniatur perahu ke pantai (dalam ritual ini dilaksanakan di Pantai Mudong) dengan menggunakan sarana transportasi kendaraan roda empat, adat budaya ritual buang jong bangka belitung.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )

Kamis, 28 Mei 2015

BUDAYA DAN ADAT TRADISI ANGON PUTU TEMANGGUNG JAWA TIMUR


Tradisi Angon Putu adalah tradisi yang sudah lama ada di Temanggung. Tradisi ini ditandai dengan acara mengasuh anak, cucu, dan buyut di luar rumah dengan mengajak anak, cucu, dan buyut berekreasi di suatu tempat namun masih dalam lingkup Temanggung. Tradisi ini sering dilaksanakan khususnya di alun-alun kota Temanggung. Tradisi angon putu ini adalah wujud silaturahmi antar anggota keluarga untuk membina kerukunan, kebersamaan. Serta sebagai ungkapan syukur orang tua telah diberi umur panjang, kesehatan dan rejeki yang melimpah. Angon putu memang tradisi turun temurun dari nenek moyang, dimana seseorang yang telah mencapai usia perkawinan lebih dari 50 tahun, telah memiliki anak, cucu, buyut bahkan sampai canggah, apabila telah diberi kelebihan rejeki maka haruslah melakukan tradisi angon putu ini.
Diawali dengan semua persiapan dari rumah, berangkat dari rumah dengan beberapa mobil karena banyaknya anak cucu buyut yang diajak. Sebelum ke alun-alun biasanya orang yang melaksanakan tradisi ini selalu mampir terlebih dahulu di pasar daerah setempat, menggiring anak, cucu, dan buyutnya masuk kepasar untuk membeli bekal perjalanan ke Temanggung, tidak lupa untuk sarana ritual angon putu ini mereka membeli uborampe Kembang Boreh, yang terdiri dari bunga mawar, bunga melati, bunga kanthil, bunga kenanga dan boreh yang berupa adonan kapur dan kunyit. Ini merupakan prosesi awal tradisi angon putu.
Perjalananpun berlanjut ke Temanggung, tujuannya ke alun-alun kota. Maka sesampai di tempat tujuan rombongan keluarga besar yang sedang melaksanakan tradisi itu menghambur menuju taman kota, sementara sang kakek dan neneknya berjalan paling belakang sambil membawa pecut, sebagaimana layaknya orang angon ( mengembala ), pecut atau cambuk yang dibawa bukannya untuk memecut anak-cucu, melainkan hanya simbol angon saja.
Begitu masuk di alun-alunpun mereka berkumpul sebentar di bawah pohon beringin, untuk melakukan ritual angon putu. Satu persatu para anak-cucu menghadap, sang kakek lalu menorehkan boreh di kening masing-masing, baik anak, cucu dan buyut. Setelah ritual borehan, anak, cucu dan buyut dilepas untuk bermain dan membeli jajanan apa saja yang ada di alun-alun itu.

Tradisi angon putu inipun disambut dengan suka-cita oleh para pedagang makanan yang berada di alun-alun, sebuah kesempatan yang tak diduga sebelumnya, tiba-tiba saja siang itu para pedagang kebanjiran pembeli. Tak terkecuali para penjual jasa penyewaan mainan seperti mobil-mobilan, becak mini, kertera mini, tempat mandi bola dan arena bermain lainnya. Sementara sang kakek cukup puas duduk-duduk di bangku taman, dan sang nenek tampak bahagia sekali, tersenyum  memandang semua anak-cucu bergembira menikmati rekreasi rame-rame itu. Di akhir ritual angon putu ini, sang kakek dan nenek akan menggelar pertunjukan Wayang Kulit selama dua malam.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )

***)bebagai sumber

Selasa, 26 Mei 2015

UPACARA BASUH LANTAI KEPULAUAN RIAU

Di kalangan orang Daik-Lingga ada sebuah upacara yang disebut sebagai “basuh lantai”. Secara etimologis nama upacara ini terdiri atas dua kata, yaitu basuh yang berarti “mencuci atau membersihkan” dan lantai yang berarti “alas rumah atau lantai”. Jadi, secara keseluruhan basuh lantai berarti “membersihkan lantai”. Bisa jadi, ini ada kaitannya dengan keadaan yang sesungguhnya, yaitu membersihkan lantai dari percikan darah pada saat seseorang melahirkan, karena upacara ini sangat erat kaitannya dengan daur hidup (lingkaran hidup individu), khususnya yang berkenaan dengan kelahiran. Lepas dari itu, yang jelas orang Daik-Lingga mempercayai bahwa lantai ada penghuninya. Untuk itu, jika terkena darah, khususnya darah perempuan yang sedang melahirkan, lantai tersebut harus “dibersihkan” dengan cara disiram dengan air, diminyaki, dibedaki, dan disisiri. Pendek kata, diperlakukan bagaikan manusia. Jika tidak, makhluk halus yang menempati lantai akan mengganggu, tidak hanya orang yang membantu kelahiran (Mak Dukun atau Mak Bidan), melainkan juga ibu dan atau bayinya. Misalnya, bayi akan menangis secara terus-menerus atau sakit-sakitan. Agar ibu dan anak yang dilahirkan serta dukun selamat, maka perlu diadakan suatu upacara. Dan, upacara itu, sebagaimana telah disebutkan di atas, bernama “basuh lantai”. Tujuannya bukan semata-mata agar terhindar dari gangguan makhluk halus yang menempati lantai, tetapi juga sekaligus sebagai ungkapan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa karena proses kelahiran dapat berjalan lancar.
Upacara ini dilaksanakan ketika bayi ttelah berumur 44 hari. Sebelum umur itu seorang ibu dan bayinya tidak diperbolehkan keluar rumah. Sebelum umur itu pula, Sang bayi tidak diperboleh turun ke tanah. Namun, jika satu dan lain hal, seorang ibu harus ke luar rumah, maka ia harus membawa kacip (alat yang dipergunakan untuk membelah sirih-pinang) atau pisau atau paku yang ujungnya disusuki bawang. Sementara itu, di sisi Sang jabang bayi yang ditinggal ibunya, juga harus ada peralatan yang berupa pisau, paku, atau sepotong besi yang berwujud apa saja. Tujuannya adalah agar berbagai makhluk halus tidak mengganggunya.
Hari yang dipilih untuk melaksanakan upacara ini adalah Jumat, karena menurut kepercayaan masyarakat setempat, hari tersebut adalah hari yang dirahmati Tuhan. Adapun waktunya, biasanya pada pagi hari karena siangnya (setelah sholat Jumat) dilanjutkan dengan acara kenduri. Uparacanya sendiri dilakukan di lantai sebuah kamar yang ketika itu digunakan sebagai tempat untuk melahirkan. Upacara yang biasanya dihadiri oleh kerabat dan tetangga ini, dipimpin oleh Mak Dukun/Bidan (yang dahulu membantu kelahiran) dan Pak Jantan (suami Mak Dukun). Sedangkan acara kenduri dilaksanakan di ruang tamu dan dipimpin oleh ulama setempat.

Sebagai catatan, sebenarnya hubungan antara ibu yang sedang hamil dan Mak Dukun terjadi tidak hanya pada kelahiran dan upacara basuh lantai saja, tetapi juga ketika kandungan telah berumur 7 bulan. Ketika itu Sang suami datang ke rumah Mak Dukun dengan membawa telur dan pulut. Tujuannya adalah agar Sang dukun bersedia membantu isterinya dalam proses kelahiran. Pemberitahuan dan sekaligus permohonan ini oleh masyarakat setempat disebut sebagai “menepah”, dengan telur dan pulut sebagai syaratnya. Sejak itu, suami dan isterinya yang sedang mengandung itu setiap hari Jumat datang ke rumah Mak Dukun. Mereka membawa sebotol air dan tiga buah limau untuk dimanterai. Air dan buah yang telah dimanterai itu kemudian digunakan untuk mandi selama tiga hari berturut-turut.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adaT, Tradisi,)


***)berbagai sumber)

Senin, 25 Mei 2015

UPACARA BROBOSAN SUKU JAWA


Salah satu upacara tradisional dalam adat istiadat kematian jawa adalah upacara Brobosan. Upacara Brobosan ini bertujuan untuk menunjukkan penghormatan dari sanak keluarga kepada orang tua dan leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Upacara Brobosan diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal, sebelum dimakamkan, dan dipimpin oleh anggota keluarga yang paling tua.Tradisi Brobosan dilangsungkan secara berurutan sebagai berikut:
Tradisi Brobosan dilangsungkan secara berurutan sebagai berikut:
1) peti mati dibawa keluar menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke atas setelah upacara doa kematian selesai,
2) anak laki-laki tertua, anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu perempuan, berjalan berurutan melewati peti mati yang berada di atas mereka (mrobos) selama tiga kali dan searah jarum jam,
3) urutan selalu diawali dari anak laki-laki tertua dan keluarga inti berada di urutan pertama; anak yang lebih muda beserta keluarganya mengikuti di belakang.
Upacara tradisional ini menyimbolkan penghormatan sanak keluarga yang masih hidup kepada orang tua dan leluhur mereka.
Menurut kepercayaan Jawa, setelah 1 tahun kematian, Arwah tersebut sudah memasuki dunia abadi untuk selamanya. Untuk memasuki dunia abadi, arwah harus menembuh jalan yang sangat panjang oleh sebab itu diadakan beberapa upacara untuk menemani perjalanan sang arwah.
 (Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )


***)berbagai sumber

Minggu, 24 Mei 2015

UPACARA ADAT TAMAT KAJI SUMATRA BARAT


Di Sumatera Barat khususnya di Kota Solok, terdapat sebuah tradisi yang dilaksanakan untuk merayakan khataman Al Qur’an atau Upacata Tamat Kaji bagi seorang anak. Perayaan khataman Al Quran ini diadakan dengan adanya pawai para peserta yang khatam didampingi oleh sanak famili dari pihak ayah yang disebut dengan istilah induak bako.
Tamat kaji adalah sebuah upacara adat yang dilakukan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur karena si anak sudah mampu membaca Al-Quran. Kepandaian membaca al-quran dalam masyarakat Lembak merupakan sebuah keharusan dan kebanggaan dalam keluarga. Ditengah-tengah masyarakat Lembak kemampuan seorang anak membaca al-quran dengan baik memiliki nilai penghargaan yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan hampir semua aktivitas dalam masyarakat Lembak sangat kental dengan kebiasaan membaca Al Qur’an. Seseorang baru dianggap tokoh masyarakat jika dia terbiasa di undangan untuk bersama-sama membaca Al Qur’an terutama pada saat prosesi berduka atas meninggalnya salah satu anggota keluarga. Membaca Al-Quran bersama-sama ini biasanya diselenggaran pada hari yang ke tujuh setelah meninggalnya anggota keluarga tersebut.
Jika seorang ayah atau ibu tidak mampu untuk mengajar anaknya mengaji, maka sejak usia dini, orang tua akan menyerahkan anaknya kepada seorang guru mengaji. Pada saat menyerahkan anaknya kepada guru mengaji, Seorang guru mengaji biasanya menyediakan waktu sehabis melakukan pekerjaan mencari nafkah. Dahulu tidak ada guru yang di undang untuk mengajarkan seorang anak mengaji ke rumah-rumah, tetapi si anaklah yang harus mendatangi rumah gurunya, hal di maknai bahwa ilmu itu harus dicari dan sebagai penghormatan murid kepada gurunya maka semua aturan harus ditaati oleh muridnya.
Di sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an banyak anak dari masyarkat Lembak sebagai lumbung qori dan qoriah yang mengharum nama Kota dan bahkan Propinsi Bengkulu, misalnya serti mendiang H. M. Taib yang pernah menjadi qoriah tingkat nasional mewakili Provinsi Bengkulu.
Setelah anak sudah mampu membaca juz amma, biasanya guru menyampaikan kepada orang tua bahwa si anak sudah siap untuk beralih membaca Al-quran, pada saat ini sebagai bentuk kegembiraan dan rasa syukur orang tua, maka orang tua sianak, melakukan sebuah bentuk syukuran secara adat yang dikenal dengan upacara adat TAMAT KAJI.
Upacara tamat kaji ini dapat dilaksankan secara KHUSUS dikenal dengan Istilah Muce (Upacara adat tamat kaji yang dilakukan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT secara khusus), atau dapat juga bersamaan dengan pesta pernikahan salah-satu keluarga si-anak.
Karena hari ini adalah hari kegembiraan bagi Si anak maka sianak dibawa dengan kendaraan yang sudah dihias, saat dahulu kendaraanya adalah dua buah sepeda yang kemudian di satukan dengan beberapa kayu, yang diatasnya deletakkan kursi yang juga dihias, saat ini biasanya menggunakan Seekor kuda yang dihias atau dengan naik delman. Si anak dibawah dengan kendaraan tersebut menuju rumahnya. Pada saat sampai dirumah, si anak diturunkankan untuk kemudian di arak (dikenal dengan Ngarak Pengaten) dengan gendang rebana, lagu yang dibawakan adalah lagu salurabbuna.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )


***)berbagai sumber

Sabtu, 23 Mei 2015

RUMAH ADAT LIMAS SUMATERA SELATAN PALEMBANG


Rumah Limas Palembang dibangun di atas tiang-tiang yang terbuat dari jenis kayu unglen yang berjumlah 32 buah atau kelipatannya. Rumah limas Palembang merupakan rumah panggung yang bagian kolongnya merupakan ruang positif untuk kegiatan sehari-hari. Ketinggian lantai panggung dapat mencapai ukuran 3 meter. Untuk naik ke rumah limas dibuatlah dua tangga kayu dari sebelah kiri dan kanan. Bagian teras rumah biasanya dikelilingi pagar kayu berjeruji yang disebut tenggalung. Makna filosofis dibalik pagar kayu itu adalah untuk menahansupaya anak perempuan tidak keluar rumah.
Pada bagian lantainya dibuat bertingkat-tingkat atau biasa disebut kekijing dengan menggunakan kayu jenis tembesu yang berbentuk papan (persegi panjang) disusun secara horizontal menurut besaran masing-masing ruang. Sementara pada dinding Rumah Limas dibuat dari kayu jenis merawan yang berbentuk papan, dengan cara penyusunan dan besaran yang sama dengan papan pada lantai.
Pada bangunan depan Rumah Limas Palembang terdapat Jogan, Ruang kerja, Gegajah Pada ruangan ini terdapat Amben (Balai/tempat Musyawarah) yang terletak lebih tinggi dari lantai ruangan (+/- 75 cm). Ruangan ini merupakan pusat dari Rumah Limas digunakan saat pemilik rumah menggelar hajatan, upacara adat, kenduri atau pertemuan-pertemuan penting, interaksi kehidupan sosial serta dekorasi. Sebagai pembatas ruang terdapat lemari yang dihiasi sehingga show/etlege dari kekayaan pemiliki rumah.
Pangkeng Penganten, (bilik tidur) terdapat dinding rumah, baik dikanan maupun dikiri. Untuk memasuki bilik atau Pangkeng ini, kita harus melalui dampar (kotak) yang terletak di pintu yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan peralatan rumah tangga. Berikutnya adalah ruang Kepala Keluarga, Pangkeng Kaputren adalah kamar anak perempuan, Pangkeng Keputran adalah kamar anak laki-laki, Ruang Keluarga, dan Ruang Anak Menantu. Semetara pada bagian belakang terdiri dari Dapur atau pawon, Ruang Pelimpahan, dan Ruang Hias/Toilet. Pembagian ruang secara fisik berfungsi batasan aktivitas yang berlangsung di rumah berdasarkan tingkat keprivasiannya.
Secara personal, sikap pribadi masyarakat Palembang menjunjung tinggi kehormatan laki-laki dan wanita. Dan secara sosial, menunjang citra diri kebudayaan Palembang yaitu dengan menjunjung tinggi norma-norma adat yang berlaku di masyarakat. Bentuk rumah yang luas merupakan gambaran kondisi sosial budaya masyarakat Palembang yang menjunjung tinggi sifat kebersamaan dalam bentuk gotong royong.
Namun demikian, dengan bentuk ruang dan lantai berkijing-kijing pada rumah Limas, manandakan bahwa rumah limas memiliki tata aturan sosial yang rapi. Tempat duduk para tetamu pada saat sedekah/kenduri seolah sudah ditentukan berdasarkan status tamu tersebut. Para ulama, pemuka masyarakat, saudagar duduknya pada tempat kijing yang tinggi sedangkan yang lain menyesuaikan diri dengan kedudukannya. Apabila dilanggar maka orang tersebut menjadi kaku, karena rasa segan/canggung ataupun rasa takut dan malu.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Rumah adat, Tradisi, )

Jumat, 22 Mei 2015

TARIAN BARIS TUNGGAL DI BALI

Tari Baris merupakan salah satu tarian sakral yang digunakan oleh umat Hindu di Bali sebagai pelengkap di suatu upacara keagamaan agama Hindu di Bali. Sifat sakral dalam tari Baris ialah, bahwa tari ini merupakan sebuah tarian untuk membuktikan kedewasaan seseorang dalam segi jasmani. Kedewasaan seseorang pria dibuktikan dengan mempertunjukkan kemahiran dalam olah keprajuritan yang biasanya disertai dengan kemahiran dalam memainkan senjata perang.
Tari Baris ini merupakan juga tari kepahlawanan, mempertunjukkan jiwa keprajuritan dan juga dalam memainkan senjata dalam perang, sebuah tarian kedewasaan jasmani, gerakan-gerakan tarian menununjukkan kewibawaan seorang prajurit dalam setiap langkahnya yang tegap dan berwibawa. Kematangan jiwa tercermin dari gerak langkah yang dinamis dan tatapan mata yang dalam dan karakter yang kuat.
Maka dari itu, tari Baris selain merupakan tarian sakral juga merupakan tari kepahlawanan. Adapun ciri khas dari tari Baris ialah, pertama tari ini lebih menonjolkan ketegapan dan kemantapan dalam langkah – langkah kaki serta kemahiran memainkan senjata perang. Kedua, pakaiannya juga mempunyai corak yang khas, yaitu penutup kepalanya bebebtuk kerucut, dan penutup badannya terdiri dari baju panjang serta hiasan kain – kain kecil panjang yaitu awir dan lelamakan.
Tari Baris terbagi menjadi 2 bagian, salah satunya adalah tari Baris Tunggal. Tari baris tunggal merupakan tarian sakral yang digunakan pada saat Upacara Pitra Yadnya yaitu Karya mamukur, dimana disini tari baris tunggal berfungsi sebagai sarana penghatur punia atau persembahan bagi para leluhur yang dihantarkan dengan mantra-mantra suci Sulinggih dan alunan gamelan pengiring tari baris tunggal itu sendiri. Tari baris tunggal merupakan tarian lepas yang dibawakan oleh seorang laki-laki, dimana menggambarkan seorang prajurit gagah perkasa yang memiliki kematangan jiwa dan kepercayaan dimana itu diperlihatkan dengan gerakan tari yang dinamis dan lugas. Berbeda dengan tari Baris Tunggal sakral, tari Baris Tunggal Profan juga biasanya ditampilkan sebagai tari lepas dalam beragam pagelaran seni pertunjukan balih-balihan
(Adat, Budaya, Ciri Khas, tarian, Tradisi, )


***)berbagai sumber

Kamis, 21 Mei 2015

UPACARA ADAT BAKAR TONGKANG RIAU

Upacara Bakar Tongkang adalah upacara tradisional masyarakat cina di Ibu Kota kabupaten Rokan Hilir yakni Bagansiapiapi.
Upacara ini disebut Go Ge Cap Lak yang berate 15 dan 16 bulan 5 penanggalan imlek, Go Ge Cap Lak lebih terkenal dengan sebutan Upcara Bakar Tongkang. Even ini merupakan upacara pemujaan terhadap Dewa Kie Ong Ya dan Tai Sun Ong Ya yang dianggap berjasa menjaga keselamatn rombongan orang-orang cina yang menemukan Bagansiapiapi.
Menurut cerita rakyat setempat, rombongan perantau Cina yang berlayar mencari daerah baru dengan beberapa perahu, akhirnya menemukan Bagansiapiapi. Ditempat ini mereka bersepakat untuk bermukim. Sebagai tanda terimakasih kepada Dewa Kie Ong Ya dan Tai Sun Ong Ya, masyarakat Cina Bagansiapiapi membakar replica kapal setiap tahunnya. Inilah yang kemudian dikenal dengan Upacara Bakar Tongkang Upacara adat Bakar Tongkang merupakan acara tahunan terbesar di Riau. Festival ini dilakukan oleh masyarakat Tionghoa di Riau untuk memperingati kehadiran masyarakat Tionghoa ke tanah Bagansiapiapi tahun 1820.
Pembakaran tongkang menandakan tekad mereka untuk tidak kembali ke tanah leluhur dan mengembangkan diri di Bagansiapiapi. Ritual ini telah diselenggarakan di Kota Ikan (Bagansiapiapi) sejak tahun 1878, atau sudah berlangsung sejak 134 tahun silam. Pada zaman orba sempat dilarang tetapi kemudian diaktifkan kembali di era Gus Dur.
Sedianya Upacara Bakar Tongkang akan diadakan tanggal 3-5 Juni atau pertengahan bulan juni di Bagan Siapiapi, Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau. Acara ditandai dengan sembahyang di kelenteng Ing Hok Kiong yang merupakan kelenteng tertua di sana dan dilanjutkan dengan arak-arakan ke tempat pembakaran pada hari berikutnya. Arak-arakan biasanya disertai puluhan ribu warga yang memegang hio, puluhan medium, dan marching band dari perwakilan sekolah-sekolah di Bagansiapiapi.
Prosesi Ritual Bakar Tongkang yang memiliki sejarah panjang, menjadi salah satu unsur tradisi dan kepercayaan lokal yang menjadi suatu kebudayaan daerah dan nasional. Indonesia adalah Negara mempunyai tingkat pluralitas yang tinggi terhadap pemahaman tradisi dan kepercayaan lokal yang dianut sebagian elemen masyarakat. Bangsa Indonesia hidup dalam masyarakat plural (majemuk) artinya masyarakat serba ganda dalam kepercayaannya, ganda dalam ragam kebudayaannya, ganda dalam prilaku kehidupan kemasyarakatannya, tetapi bersatu dalam satu Bangsa dengan Semboyan Bhineka Tunggal Ika menunjukkan ciri keragaman kehidupan Bangsa Indonesia, yang sesungguhnya berbeda-beda tetapi dalam satu kesatuan juga.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )


***)berbagai sumber

Rabu, 20 Mei 2015

BUDAYA & TRADISI BALIMAU SUMATERA BARAT


Sebagian masyarakat di Sumatera Barat tengah menanti tradisi yang sejak dulu berkembang. Balimau. mereka akan beramai-ramai datang ke tempat pemandian, tapian mandi, seperti sungai, danau, atau pantai.
Bersama-sama keluarga, bahkan juga teman-teman, anak-anak muda jolong gadang pergi beramai-ramai. Mereka akan mandi-mandi sambil tertawa berbahagia berkumpul bersama.
Dahulunya, tradisi balimau ini dianggap baik. Masyarakat Minangkabau yang dulu menjalani keseharian sebagai masyarakat pertanian, amat jarang bertemu dengan orang kampung dan kerabat. Mereka sibuk bertani ke ladang atau ke sawah. Setiap hari, tiada henti aktivitas tersebut dijalani.
Kesibukan ini membuat masyarakat Minang pada masa dahulu tidak mempunyai waktu untuk bertemu secara rutin. Akibatnya, ketika bulan ramadhan datang, mereka pun menyepakati, baik langsung maupun tidak langsung, untuk berangkat ke tepian dan menjalani tradisi balimau.
Hanya saja, nenek moyang masyarakat Minang bermula dari sekelompok masyarakat yang pernah menganut kepercayaan animisme dan pernah memegang kepercayaan Hindu Budha. Akibatnya, ada sebagian tradisi yang masih dijalani, meskipun saat ini mereka telah menjadi seorang muslim.
Dalam balimau misalnya, masyarakat Minang menjalaninya dengan bermandi di tepian mandi, lalu menyirami tubuh dengan air khusus yang dicampurkan dengan bunga-bunga atau rempah-rempah yang dibuat dengan cakua, kambelu, dan lainnya.
Bagi masyarakat dahulu, air campuran khusus tersebut digunakan untuk membersihkan diri secara lahiriah. Berharap agar segala penyakit jauh dari tubuh mereka, sehingga ketika menjalani ibadah puasa, mereka dapat menjalani dengan khusyuk.
Sebenarnya itu hanya kebiasaan yang diciptakan dan di tradisikan oleh sebagian masyarakat Minang. Secara hakikat, balimau dilakukan untuk menyucikan diri dari segala perbuatan buruk, membersihkan diri dari penyakit hati, seperti sakit hati, iri, dengki, riba, tamak, dan lainnya yang pada hakikatnya bertujuan untuk menjaga hati agar lebih siap menghadapi bulan suci ramadhan. Kini, Balimau dengan air khusus ini tentunya menjadi perbuatan yang dilarang oleh majelis agama di Sumatera Barat.
Di balik tradisi ini, sesungguhnya ada sesuatu yang tengah dikembangkan oleh masyarakat Minang. Tradisi berkumpul. Ketika mereka sibuk dengan berbagai kegiatan di sawah, ladang, dan pasar raya, masyarakat pun membutuhkan waktu untuk bertemu dengan kerabat dan orang kampung.
Oleh karena pada masa itu belum ada handphone dan telpon, mereka pun yang dulunya memiliki jarak antar rumah yang sangat jauh, menyepakati untuk balimau ke tapian mandi. Dengan kesepakatan ini, akhirnya membuat mereka bisa bertemu di satu tempat. Pada kesempatan itulah, mereka mengamalkan ajaran agama Islam untuk meminta maaf dan saling memaafkan.
Sederhana, bukan? Bukan sebuah tradisi yang menjadi euforia seperti saat ini!
Lalu, apakah balimau ini masih dijalankan oleh masyarakat Minang?
Nyatanya memang masih ada. Jika sudah memasuki bulan ramadhan, hampir seluruh media cetak, media online, radio, bahkan juga televisi swasta di Indonesia menyiarkan tradisi balimau masyarakat Sumatera Barat. Seakan-akan, tradisi ini harus rutin diliput setiap tahun. Mereka menampilkan gambar dan video masyarakat Sumatera Barat yang mandi di sungai, beramai-ramai.
Namun, di balik itu, sesungguhnya balimau itu tidak penting. Bahkan, tidak boleh dilakukan. Sebab, masyarakat sudah beranggapan beda. Anak-anak muda jolong gadang, lebih banyak memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan kebiasaan yang buruk. Berdua-duaan misalnya. Sementara, bagi keluarga yang mengikuti tradisi ini, tidak sadar telah membiasakan keluarga mereka mandi di tempat terbuka.
Artinya, mereka bisa saling melihat aurat masing-masing. Padahal, dalam agama Islam, aurat amat dijaga dan harus ditutup. Oleh karena itulah, banyak alim ulama yang melarang tradisi balimau.
Lalu, mengenai tradisi saling memaafkan yang sudah dijalani oleh nenek moyang kita, tentunya bisa digantikan dengan mengirim sms, menelpon, atau bertamu langsung ke rumah tetangga dan kerabat.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, )

***)berbagai sumber

UPACARA ADAT AMMATEANG SUKU BUGIS SULAWESI SELATAN

Ammateang atau Upacara Adat Kematian yang dalam adat Bugis merupakan upacara yang dilaksanakan masyarakat Bugis saat seseorang dalam suatu kampung meninggal dunia.Keluarga, kerabat dekat maupun kerabat jauh, juga masyarakat sekitar lingkungan rumah orang yang meninggal itu berbondong-bondong menjenguknya. Pelayat yang hadir biasanya membawasidekka (sumbangan kepada keluarga yang ditinggalkan) berupa barang seperti sarung atau kebutuhan untuk mengurus mayat, selain itu ada juga yang membawa passolo (amplop berisi uang sebagai tanda turut berduka cita). Mayat belum mulai diurus seperti dimandikan dan seterusnya sebelum semua anggota terdekatnya hadir. Barulah setelah semua keluarga terdekatnya hadir, mayat mulai dimandikan, yang umumnya dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memang biasa memandikan mayat atau oleh anggota keluarganya sendiri.Hal ini masih sesuai ajaran islam dalam tata cara mengurus jenazah dalam hal memandikanya sampai mengshalatkanya.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan ketika memandikan mayat, yaitu mabbolo(menyiramkan air ke tubuh mayat diiringi pembacaan do’a dan tahlil), maggoso’ (menggosok bagian-bagian tubuh mayat), mangojo (membersihkan anus dan kemaluan mayat yang biasa dilakukan oleh salah seorang anggota keluarga seperti anak,adik atau oleh orang tuanya) danmappajjenne’ (menyiramkan air mandi terakhir sekaligus mewudhukan mayat). Orang -orang yang bertugas tersebut diberikan pappasidekka (sedekah) berupa pakaian si mayat ketika hidupnya lengkap dengan sarung, baju, celana, dan lain sebagainya. Ini menjadi hal unik di mana orang yang memandi mayat akan mendapat imbalan dari kelurga duka berupa barang orang yang meniggal.
Mayat yang telah selesai dimandikan kemudian dikafani dengan kain kaci (kain kafan) oleh keluarga terdekatnya.Setelah itu imam dan beberapa pengikutnya menyembahyangkan mayat menurut aturan ajaran Islam. Sementara diluar rumah, anggota keluarganya membuat ulereng(usungan mayat) atau keranda. Dalam tradisi bugis di kampung saya keranda hanya sekali pakai atau tidak di simpan lagi.ulereng/keranda ini untuk golongan tau samara (orang kebanyakan) pada kalangan umum sedangkan ada istilah Walasuji (untuk golongan bangsawan) yang terbentuk 3 susun. Walasuji atau baruga bermotif segi empat belah ketupat ini sudah tidak asing lagi dalam khasanah peradaban masyarakat Bugis.
Walasuji/baruga
Kuburan bangswan yang memakai atap walasuji atau baruga
Bersamaan dengan pembuatan ulereng/keranda bagian bawah,dibuat pula cekko-cekko, yaitu semacam tudungan yang berbentuk lengkungan panjang sepanjang liang lahat yang akan diletakan diatas timbunan liang lahat apabila jenazahnya telah dikuburkan. Dan apabila, semua tata cara keislaman telah selesai dilakukan dari mulai memandikan, mengafani, dan menyembahyangkan mayat, maka jenazah pun diusung oleh beberapa orang keluar rumah lalu diletakan diatas ulereng.
Mengiringi jenazah yang diantar ke pemakaman
Tata cara membawa usungan atau ulureng ini terbilang unik dimana dilihat dari tata caranya yang masih di lestarikan masyarakat bugis dahulu. Ulereng/beranda bagian bawahdiangkat keatas kemudian diturunkan lagi sambil melangkah ke depan, ini diulangi hingga 3 kali berturut-turut, barulah kemudian dilanjutkan dengan perlahan menuju ke pekuburan diikuti rombongan pengantar dan pelayat mayat. Iring-iringan pengantar jenazah bisa berganti-gantian mengusung ulereng. Semua orang-orang yang berpapasan dengan iringan pengantar jenazah harus berhenti, sedangkan orang-orang yang berjalan/berkendara dari belakang tidak boleh mendahului rombongan pengantar jenazah hingga sampai di areal pekuburan. Di pekuburan, sudah menanti beberapa orang yang akan bekerja membantu penguburan jenazah. Sesampai di kuburan, mayat segera diturunkan kedalam liang lahat. Imam atau tokoh masyarakat kemudian meletakkan segenggam tanah yang telah dibacakan doa atau mantera-mantera ke wajah jenazah sebagai tandasiame’ (penyatuan) antara tanah dengan mayat.setelah itu, mayat mulai ditimbuni tanah sampai selesai. Lalu Imam membacakan talkin dan tahlil dengan maksud agar si mayat dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat penjaga kubur dengan lancar. Diatas pusara diletakan buah kelapa yang telah dibelah dua dan tetap ditinggalkan diatas kuburan itu. Diletakan pula payung dancekko-cekko’. Hal ini juga masih merupakan warisan kepercayaan lama orang Bugis, bahwa meskipun seseorang telah meninggal dunia, akan tetapi arwahnya masih tetap berkeliaran. Karena itu, kelapa dan airnya yang diletakan diatas kuburan dimaksudkan sebagai minuman bagi arwah orang yang telah meninggal, sedangkan payung selain untuk melindungi rohnya, juga merupakan simbol keturunan.
Sekarang ini, ada kebiasaan baru setelah jenazah dikuburkan, yaitu imam atau ustadz dipesankan oleh keluarga orang yang sudah meninggal itu agar melanjutkan dengan ceramah dikuburan sebelum rombongan/pelayat pulang dari kuburan. Ceramah atau pesan-pesan agama yang umumnya disampaikan sekaitan dengan kematian dan persiapan menghadapi kematian, bahwa kematian itu pasti akan menemui/dihadapi setiap orang didunia ini. Selanjutnyai ada penyampaian undangan takziah. Semalaman, di rumah duka diadakan tahlilan dan khatam Al-Quran, yaitu membaca al-Quran secara bergantian. Dari sini mulainya bilampenni, yaitu upacara selamatan sekaligus penghitungan hari kematian yang dihitung mulai dari hari penguburan jenazah.Biasa dalakukan selamatan tujuh hari atau empat puluh harinya. Sebagai penutup dalam bilampenni yaitu, pada esok harinya dilakukan dzikir barzanji dan dilanjutkan santap siang bersama kerabat-kerabat yang di undang.
Dalam adat bugis, apabila salah seseorang meninggal dunia maka beberapa hari kemudian, biasanya pada hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, hari keseratus atau kapanpun keluarga jenazah mampu dilaksanakan satu upacara adat yang disebut mattampung, dalam upacara adat ini dilakukan penyembelian sapi.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )


***)berbagai sumber

Selasa, 19 Mei 2015

UPACARA ADAT SIPAHA SADA

Di Sumatra Utara, tepatnya di tanah Batak masih memiliki sekelompok orang yang dengan teguh tetap menganut agama nenek moyang mereka yakni agama Parmalim, meski kita semua tahu bahwa sejak dulu agama ini tak pernah diakui oleh pemerintah dan sengaja diisolasi. Agama Parmalim sendiri berpusat di Desa Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Berdasarkan sejarah dan cerita dari penganut agama ini, konon Parmalim Hutatinggi dirintis Raja Mulia Naipospos (wafat 18 Februari 1956). Saat ini Parmalim Hutatinggi dipimpin Raja Marnakkok Naipospos, cucu Raja Mulia Naipospos.
Di Hutatinggi sendiri, untuk menunjang pelaksanaan berbagai kegiatan dan ritual keagamaan berdiri sebuah kompleks yang disebut bale Pasogit (balai asal-usul) yang terdiri dari empat bangunan utama yakni Bale Partonggoan (balai doa), Bale Parpitaan (balai sakral), Bale Pangaminan (balai pertemuan), dan Bale Parhobasan (balai pekerjaan dapur). Bagi umat Parmalim, Bale Pasogit merupakan Huta Nabadia (tanah suci). Semua bale ini didesain dengan motif batak yang sarat dengan arti khusus. Di kompleks itu pula, tiap dua kali dalam setahun digelar upacara keagamaan besar yang disebut Sihapa Sada, yakni sebuah upacara untuk menyambut tahun baru sekaligus demi memperingati kelahiran para pemimpin spiritual Parmalim, dan juga Sihapa Lima, yang dimaksudkan untuk upacara syukuran atas rahmat yang diterima dari Raja Mulajadi Nabolon. Kedua ritual upacara ini begitu penting artinya bagi segenap penganut agama Parmalim, maka dari itu tak heran kiranya jika tiap diadakannya ritual ini hampir seluruh penganut Parmalim baik yang ada di sekitar kompleks maupun dari luar daerah akan selalu menyempatkan datang.
Dalam upacara ini, mereka disamping untuk menyambut tahun baru juga untuk mendoakan para raja Parmalim terdahulu, sejak dari Sisingamaharaja hingga raja-raja yang sekarang, pun juga tak lupa untuk mendoakan para pemimpin disegala penjuru dunia yang dalam pemaknaan filosofis mereka disebut sebagai pemimpin dari empat penjuru dunia dan empat segi kehidupan. Untuk persiapan pelaksanaan upacara agung ini sendiri umat Parmalin dua hari sebelumnya akan melakukan puasa selama sehari semalam tanpa berbuka (24 jam) dengan sahur (awal puasa) dan berbuka dengan memakan makanan pahit yang disebut dengan mangan napaet sebagai simbol dan sekaligus mengenang perjuangan hidup yang penuh dengan kepahitan dan kegetiran hidup Raja Nasiak Bagi ketika menegakkan agama Parmalim. Bahan-bahan makanan dalam upacara ini sendiri adalah terdiri dari daun pepaya muda, cabai, garam, dan nangka muda. Sebelum disantap, bahan-bahan makanan ini ditumbuk halus hingga semua bahan lebur jadi satu.
Untuk mengikuti upacara Sipaha Sada, para penganut Parmalim diwajibkan untuk mengenakan busana khusus sesuai dengan tingkatan mereka dalam kehidupan. Pria mengenakan jas berselempang ulos dari jenis ragi hotang dan sarung ulos dari jenis bintang maratur. Pria yang sudah menikah menggunakan sorban yang disebut tali-tali berwarna putih menandakan kesucian. Pemimpin umat menggunakan tali tali berwarna hitam yang menandakan kepemimpinan dan tanggung jawab. Sedangkan untu wanitanya diwajibkan mengenakan sarung (ragi) yang berbentuk ulos dari jenis runjat, kebaya, selendang (hande-hande) dari jenis yang bervariasi, yaitu sadum, bintang maratur dan mangiring, dan tatanan rambut yang menggunakan gaya sanggul toba, yakni gaya menyanggul yang digulung ke dalam. Warna-warna yang digunakan dalam busana ini sendiri selaras dengan filosofis masyarakat Batak sendiri terhadap berbagai warna, seperti misalnya warna hitam memiliki makna kepemimpinan dan tanggung jawab, merah mengandung arti sebagai ilmu pengetahuan dan jugakekuatan, dan putih sebagai perlambang kesucian. Tiga warna ini, selain menjadi warna pakaian dan ulos, juga terlihat dari desain pada rumah adat Batak.
Barulah kemudian, tepat tengah hari, upacara pun dimulai yang ditandai dengan masuknya Raja Ihutan, yakni pimpinan spiritual umat Parmalim, ke Bale Partonggoan. Di dalam balai ini telah disiapkan berbagai sesajen yang disebut pelean berupa daging ayam, kambing putih, ihan (ikan batak), telur, nasi putih, sirih, sayur-mayur, jeruk purut, air suci, dan dupa. Lazimnya dalam tradisi adat Batak Kuno, bahan-bahan untuk pelean berasal dari hewan-hewan atau hasil pertanian terpilih, meski tidak wajib melainkan kemampuan orang yang melakukan upacara. Pelean yang wajib harus urapan, air suci dan dupa. Setelah diperiksa oleh Raja Ihutan, pelean dibawa ke lantai dua (pamelean) Bale Partonggoan secara berantai. Di tempat ini, Raja Ihutan akan memastikan letak dan arah pelean. Setelah ritual penyiapan pelean, Raja Ihutan kembali turun ke bawah untuk memimpin Upacara Sipaha Sada yang berlangsung dengan hikmat dan menghabiskan waktu sekitar lima jam, meliputi penyembahan dan kotbah dari Ihutan. Malam harinya acara di lanjutkan dengan pesta muda mudi.

(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi)

Minggu, 17 Mei 2015

BUDAYA & TRADISI MANDI SAFAR GORONTALO

Ribuan warga Atinggola di Gorontalo Utara menggelar ritual mandi Safar.
"Mandi Safar merupakan ritual yang lazim dilakukan warga Gorontalo di daerah ini sejak puluhan tahun lalu, merupakan tradisi yang diturunkan kerajaan Atinggola di setiap awal bulan Safar, dalam penanggalan bulan Islam atau tahun Hijriyah," kata Bupati Indra Yasin, Rabu, yang juga putra asli Atinggola, Desa Ilomata.
Menurut bupati, sejak tahun 2008 pemerintah daerah menggelar ritual mandi Safar menjadi ajang tahunan, yang dikemas dalam bentuk wisata budaya.
Menurut dia, tujuan utamanya untuk menarik sejumlah kunjungan dari dalam dan luar Provinsi Gorontalo.
Sehingga tak heran, kata dia, kegiatan ini sering diikuti warga dari daerah tetangga seperti Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.
Bupati mengatakan, ritual mandi safar yang dibanjiri ribuan masyarakat Atinggola dan Gorontalo Utara itu, didahului dengan doa syukur bersama di bantaran sungai Andagile, yaitu sungai terbesar di kecamatan tersebut. Kemudian masyarakat akan mandi bersama dari air percikan sungai.
Seluruh masyarakat harus mandi ataupun terkena air percikan sungai yang telah didoakan, sebagai rasa syukur dan mengharapkan berkah dari ALLAH. "Mandi di sungai ini dipercaya warga dapat menolak bala` dan mendatangkan rezeki," kata Bupati.
Saat ini, pemerintah daerah mengemas ritual mandi Safar menjadi wisata budaya, dengan harapan ajang tahunan tersebut mampu mempopulerkan daerah itu secara keseluruhan.
Apalagi pelaksanaannya juga difokuskan di Pantai Minango, salah satu ikon pariwisata di daerah itu.
Selain melakukan doa bersama dipandu para imam dan tokoh adat setempat, ribuan warga menggelar ritual mandi Safar dengan makan bersama dari berbagai menu olahan potensi sumber daya alam di daerah itu, seperti jagung, durian, sagu dan sajian menu menarik dengan cita rasa khas tradisional.
"Makan bersama dan berbaur dengan masyarakat tanpa sekat, merupakan ucapan syukur atas berkat yang diberikan bagi masyarakat dan daerah ini," Ungkap Bupati.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, upacara adat, )

Jumat, 15 Mei 2015

UPACARA ADAT MACCERA TASI KALIMANTAN SELATAN

Upacara Adat Macceratasi merupakan upacara adat masyarakat nelayan tradisional di Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan. Upacara ini sudah berlangsung sejak lama dan terus dilakukan secara turun-temurun setiap setahun sekali. Beberapa waktu lalu, upacara ini kembali digelar di Pantai Gedambaan atau disebut juga Pantai Sarang Tiung.
Prosesi utarna Macceratasi adalah penyembelihan kerbau, kambing, dan ayam di pantai kemudian darahnya dialirkan ke laut dengan maksud memberikan darah bagi kehidupan laut. Dengan pelaksanaan upacara adat ini, masyarakat yang tinggal sekitar pantai dan sekitarnya, berharap mendapatkan rezeki yang melimpah dari kehidupan laut.
Kerbau, kambing, dan ayam dipotong. Darahnya dilarungkan ke laut. Itulah bagian utama dari prosesi Upacara Adat Macceratasi. Kendati intinya hampir sama dengan upacara laut yang biasa dilakukan masyarakat nelayan tradisional lainnya. Namun upacara adat yang satu ini punya hiburan tersendiri. 

 Sebelum Macceratasi dimulai terlebih dahulu diadakan upacara Tampung Tawar untuk meminta berkah kepada Allah SWT. Sehari kemudian diadakan pelepasan perahu Bagang dengan memuat beberapa sesembahan yang dilepas beramai-ramai oleh nelayan bagang, baik dari Suku Bugis, Mandar maupun Banjar. Keseluruhan upacara adat ini sekaligus melambangkan kerekatan kekeluargaan antarnelayan.Untuk meramaikan upacara adat ini, biasanya disuguhkan hiburan berupa kesenian hadrah, musik tradisional, dan atraksi pencak silat. Usai pelepasan bagang, ditampilkan atraksi meniti di atas tali yang biasa dilakukan oleh lelaki Suku Bajau. Atraksi ini pun selalu dipertunjukkan bahkan dipertandingkan pada saat Upacara Adat Salamatan Leut (Pesta Laut) sebagai pelengkap hiburan masyarakat.
(Adat, Budaya, Ciri Khas,  Tradisi, upacara adat, )

Rabu, 13 Mei 2015

UPACARA ADAT KHANDURI APAM ACEH DARUSSALAM

Khanduri Apam (Kenduri Serabi) adalah salah satu tradisi masyarakat Aceh berupa pada bulan ke tujuh (buleun Apam) dalam kalender Aceh. Buleun Apam adalah salah satu dari nama-nama bulan dalam “Almanak Aceh” yang setara dengan bulan Rajab dalam Kalender Hijriah. Buleun artinya bulan, dan Apamadalah sejenis makanan yang mirip serabi.
Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh untuk mengadakan Khanduri Apam pada buleun Apam. Tradisi ini paling populer di kabupaten Pidie sehingga dikenal dengan sebutan Apam Pidie. Selain di Pidie, tradisi ini juga dikenal di Aceh Utara, Aceh Besar dan beberapa kabupaten lain di Provinsi Aceh.
Kegiatan toet apam (memasak apam) dilakukan oleh kaum ibu di desa. Biasanya dilakukan sendirian atau berkelompok. Pertama sekali yang harus dilakukan untuk memasak apam adalah top teupong breuh bit (menumbuk tepung dari beras nasi). Tepung tersebut lalu dicampur santan kelapa dalam sebuah beulangong raya (periuk besar). Campuran ini direndam paling kurang tiga jam, agar apam yang dimasak menjadi lembut. Adonan yang sudah sempurna ini kemudian diaduk kembali sehingga menjadi cair. Cairan tepung inilah yang diambil dengan aweuek/iros untuk dituangkan ke wadah memasaknya, yakni neuleuek berupa cuprok tanoh (pinggan tanah).
Dulu, Apam tidak dimasak dengan kompor atau kayu bakar, tetapi dengan on ‘ue tho (daun kelapa kering. Malah orang-orang percaya bahwa Apam tidak boleh dimasak selain dengan on “ue tho ini. Masakan Apam yang dianggap baik, yaitu bila permukaannya berlubang-lubang , sedang bagian belakangnya tidak hitam dan rata(tidak bopeng).
Apam paling sedap bila dimakan dengan kuahnya, yang disebut kuah tuhe, berupa masakan santan dicampur pisang klat barat(sejenis pisang raja) atau nangka masak serta gula. Bagi yang alergi kuah tuhe mungkin karena luwihnya (gurih), kue Apam dapat pula dimakan bersama kukuran kelapa yang dicampur gula. Bahkan yang memakan Apam saja (seunge Apam), yang dulu di Aceh Besar disebut Apam beb. Selain dimakan langsung, dapat juga Apam itu direndam beberapa lama ke dalam kuahnya sebelum dimakan. Cara demikian disebut Apam Leu’eop. Setelah semua kuahnya habis dihisap barulah Apam itu dimakan.
Apam yang telah dimasak bersama kuah tuhe siap dihidangkan kepada para tamu yang sengaja dipanggil/diundang ke rumah. Dan siapapun yang lewat/melintas di depan rumah, pasti sempat menikmati hidangan Khanduri Apam ini. Bila mencukupi, kenduri Apam juga diantar ke Meunasah (surau di Aceh) serta kepada para keluarga yang tinggal di kampung lain. Begitulah, acara toet Apam diadakan dari rumah ke rumah atau dari kampung ke kampung lainnya selama buleuen Apam(bulan Rajab) sebulan penuh.
Sejarah Khanduri Apam
Tradisi Khanduri Apam ini adalah berasal dari seorang sufi yang amat miskin di Tanah Suci Mekkah. Si miskin yang bernama Abdullah Rajab adalah seorang zahid yang sangat taat pada agama Islam. Berhubung amat miskin, ketika ia meninggal tidak satu biji kurma pun yang dapat disedekahkan orang sebagai kenduri selamatan atas kematiannya. Keadaan yang menghibakan/menyedihkan hati itu; ditambah lagi dengan sejarah hidupnya yang sebatangkara, telah menimbulkan rasa kasihan masyarakat sekampungnya untuk mengadakan sedikit kenduri selamatan di rumah masing-masing. Mereka memasak Apam untuk disedekahkan kepada orang lain. Itulah ikutan tradisi toet Apam (memasak Apam) yang sampai sekarang masih dilaksanakan masyarakat Aceh.
Selain pada buleuen Apam (bulan Rajab), kenduri Apam juga diadakan pada hari kematian. Ketika si mayat telah selesai dikebumikan, semua orang yang hadir dikuburan disuguhi dengan kenduri Apam. Apam di perkuburan ini tidak diberi kuahnya. Hanya dimakan dengan kukuran kelapa yang diberi gula (dilhok ngon u)
Khanduri Apam juga diadakan di kuburan setelah terjadi gempa hebat– seperti gempa tsunami, Tujuannya adalah sebagai upacara Tepung Tawar (peusijuek) kembali bagi famili mereka yang telah meninggal. Akibat gempa besar; boleh jadi si mayat dalam kubur telah bergeser tulang-belulangnya. Sebagai turut berduka-cita atas keadaan itu; disamping memohon rahmat bagi si mati, maka diadakanlah khanduri Apam tersebut.
Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa latar belakang pelaksanaan kenduri apam pada mulanya ditujukan kepada laki-laki yang tidak shalat Jum’at ke mesjid tiga kali berturut-turut, sebagai dendanya diperintahkan untuk membuat kue apam sebanyak 100 buah untuk diantar ke mesjid dan dikendurikan (dimakan bersama-sama) sebagai sedekah. Dengan semakin seringnya orang membawa kue apam ke mesjid akan menimbulkan rasa malu karena diketahui oleh masyarakat bahwa orang tersebut sering meninggalkan shalat jumat.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, upacara adat)

Selasa, 12 Mei 2015

BUDAYA DAN TRADISI ADAT CUCI PUSAKA CIAMIS JAWA BARAT


Warga Panjalu, Ciamis, Jawa Barat, ramai-ramai mengikuti perhelatan adat cuci pusaka atau nyangku. Dalam ritual adat tahunan ini, berbagai pusaka peninggalan Raja Panjalu, Prabu Sanghyang Borosngora dirawat dan dibersihkan dengan cara dicuci.

Sejak pagi warga sudah berkumpul. Acara dimulai dengan mengarak berbagai pusaka peninggalan Prabu Borosngora menuju makam sang prabu di tengah Situ Panjalu.

Setelah dibawa dengan perahu, iring-iringan pengawal atau abdi panjalu tiba di makam Prabu Borosngora. Di tempat ini segenap hadirin menaikkan doa bagi mendiang raja kerajaan Panjalu.

Usai doa, pusaka antara lain sebilah pedang, kujang, dan cis dibawa kembali untuk dicuci di alun-alun Panjalu. Inilah puncak tradisi nyangku ketika warga berebut mendapatkan air bekas cucian pusaka. Meski harus berdesakkan, warga tetap antusias.

Bagi yang tak kebagian, mengumpulkan air yang terbuang di lantai atau sekadar mengusapkan wajah pada kain yang terkena air cucian pusaka pun sudah cukup. Ada alasan kenapa warga memperebutkan air cucian pusaka itu.

Tradisi ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jabar. Bagi Pemprov Jabar, ritual adat nyangku akan dikembangkan menjadi ikon wisata Ciamis.

Ritual adat nyangku merupakan agenda rutin tahunan warga Panjalu setiap bulan Mulud. Usai pencucian seluruh pusaka kembali dibungkus dan disimpan di tempat khusus yang diberi nama bumi alit dan baru dibawa keluar lagi pada mulud berikutnya.(AIS)
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat.Tradisi, )


Senin, 11 Mei 2015

UPACARA ARUH GANAL SUKU DAYAK KALIMANTAN


Upacara Aruh Ganal ini merupakan upacara adat yang terdapat pada suku Dayak Bukit di Pegunungan Meratus. Suku Bukit yang sering melaksanakan upacara ini antara lain daerah Mancabung, Harakit, Balawaian, Batung, Danau Darah, dan Ranai.
Aruh Ganal artinya Kenduri Besar (aruh = kenduri, ganal = besar). Jadi upacara ini dilaksanakan secara besar-besaran oleh seluruh warga kampung dan dihadiri undangan dari kampung lainnya. Dinamai aruh ganal karena ada juga tradisi aruh kecil yang disebut baatur dahar. Baatur dahar ini biasanya hanya dilakukan di lingkungan keluarga. Kemeriahan aruh ganal yang dilakukan tergantung keadaan ekonomi warga di kampung tersebut, sebagai ukurannya adalah hasil panen padi, kacang, dan tanaman pokok lainnya. Apabila hasil tanaman tersebut banyak dan bagus maka akan diadakanlah upacara aruh ganal, sebaliknya jika panen kurang berhasil maka cukup diadakan aruh kecil atau bahkan tidak diadakan sama sekali.
Tujuan diadakannya aruh ganal ini sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang dilimpahkan oleh Yang Maha Kuasa, sekaligus memohon agar hasil tahun yang akan datang mendapat panen yang melimpah, dijauhkan dari mara bahaya dan mahluk perusak tanaman.

Waktu Penyelenggaraan
Aruh ganal pada dasarnya dilakukan setahun sekali, namun apabila dalam musyawarah adat menganggap bahwa penduduk banyak yang kurang penghasilannya, maka aruh ganal tidak dilaksanakan pada tahun itu. Waktu penyelenggaraan sesudah panen yang biasanya jatuh pada bulan Juli dan Agustus. Untuk menetapkan hari dan tanggalnya diputuskan dalam musyawarah desa yang dipimpin oleh Kepala Adat dibantu oleh Kepala Kampung. Dalam menentukan tanggal diperhatikan bulan muda , berkisar antara tanggal 1 sampai 15, hal ini berhubungan dengan simbol bahwa rejeki akan naik apabila dilaksanakan pada tanggal-tanggal tersebut.

Persiapan Upacara
Tempat dilaksanakannya upacara adalah di dalam Balai Adat. Persiapan aruh dimulai dengan hari batarah sehari sebelum upacara dimulai. Hari batarah maksudnya hari memulai pekerjaan, mempersiapkan segala sesuatu, membuat perlengkapan upacara, menyiapkan sesaji. Pekerjaan itu harus selesai dalam satu hari.
Perlengkapan upacara yang paling penting adalah langgatan. Langgatan merupakan induk ancak dan sesaji. Untuk menghias langgatan dilakukan pada keesokan harinya setelah malam pembukaan. Langgatan dibuat bersusun lima tingkat, ancak yang terbesar terletak di bawah, makin ke atas makin kecil. Langgatan itu nantinya digantung di tengah balai dengan menggunakan tali rotan yang diikat di empat sudutnya.
Langgatan ini namanya bermacam-macam sesuai dengan isi dan tujuannya. Ada yang bernama Ancak ka gunung (tidak bertingkat), Ancak Balai Raden (berbentuk perahu)
Jenis perlengkapan lainnya adalah Kelangkung, dibuat sebanyak tiga buah. Yang pertama disebut Kelangkung Mantit (nama nenek moyang burung), Kelangkung Nyaru (Dewa Petir), Kelangkung Uria (dewa yang memelihara segala mangsa dan bala yang merusak tanaman)

Pelaksana Upacara
Untuk menyelenggarakan kegiatan upacara yang bersifat khusus mulai awal sampai selesai dilakukan oleh Balian. Balian ini mempunyai pengetahuan yang luas mengenai seluk beluk adat dan tradisi yang dipercayai. Pengetahuan ini diperoleh dengan cara berguru kepada Balian Tuha dan balampah (melakukan semacam semedi untuk bersahabat dengan berbagai jenis roh halus untuk memperoleh kesaktian tertentu).
Dalam upacara ini Balian yang melakukan tugas ada beberapa orang. Sebagai pimpinan dari Balian ini adalah Pangulu Adat (penghulu adat).
Setiap Balian selalu didampingi oleh Panjulang. Panjulang adalah wanita yang selalu memperhatikan pembicaraan Balian atau dapat pula mengajukan permohonan atas kehendak masyarakat. Segala permintaan oleh Balian dilayani oleh Panjulang.
(Adat, Budaya, Ciri Khas,  Tradisi, upacara adat, )

Minggu, 10 Mei 2015

UPACARA ADAT ARUH BAHARIN KAB. BALANGAN KALIMANTAN SELATAN


Lima balian (tokoh adat) yang memimpin upacara ritual ,berlari kecil sambil membunyikan gelang hiang (gelang terbuat dari tembaga kuningan) mengelilingi salah satu tempat pemujaan sambil membaca mantra, Dihadiri warga Dayak sekitarnya.
Prosesi adat ini dikenal dengan Aruh Baharin, pesta syukuran yang dilakukan gabungan keluarga besar yang  berhasil panen padi di pahumaan (perladangan) . Upacara Adat Aruh Baharin, Pesta yang berlangsung tujuh hari itu terasa sakral karena para balian yang seluruhnya delapan orang itu setiap malam menggelar prosesi ritual pemanggilan roh leluhur untuk ikut hadir dalam pesta tersebut dan menikmati sesaji yang dipersembahkan.
Upacara Adat Aruh Baharin, Prosesi berlangsung pada empat tempat pemujaan di balai yang dibangun sekitar 10 meter x 10 meter. Prosesi puncak dari ritual ini terjadi pada malam ketiga hingga keenam di mana para balian melakukan proses batandik (menari) mengelilingi tempat pemujaan. Para balian seperti kerasukan saat batandik terus berlangsung hingga larut malam dengan diiringi bunyi gamelan dan gong.
Untuk ritual pembuka, disebut Balai Tumarang di mana pemanggilan roh sejumlah raja, termasuk beberapa raja Jawa, yang pernah memiliki kekuasaan hingga ke daerah mereka.
Selanjutnya, melakukan ritual Sampan Dulang atau Kelong. Ritual ini memanggil leluhur Dayak, yakni Balian Jaya yang dikenal dengan sebutan Nini Uri. Berikutnya, Hyang Lembang, ini proses ritual terkait dengan raja- raja dari Kerajaan Banjar masa lampau.
Para balian itu kemudian juga melakukan ritual penghormatan Ritual Dewata, yakni mengisahkan kembali Datu Mangku Raksa Jaya bertapa sehingga mampu menembus alam dewa. Sedangkan menyangkut kejayaan para raja Dayak yang mampu memimpin sembilan benua atau pulau dilakukan dalam prosesi Hyang Dusun.
Pada ritual-ritual tersebut, prosesi yang paling ditunggu warga adalah penyembelihan kerbau. Kali ini ada 5 kerbau. Berbeda dengan permukiman Dayak lainnya yang biasa hewan utama kurban atau sesaji pada ritual adat adalah babi, di desa ini justru hadangan atau kerbau.
warga dan anak-anak berebut mengambil sebagian darah hewan itu kemudian memoleskannya ke masing-masing badan mereka karena percaya bisa membawa keselamatan. Daging kerbau itu menjadi santapan utama dalam pesta padi tersebut.
”Baras hanyar (beras hasil panen) belum bisa dimakan sebelum dilakukan Aruh Baharin. Ibaratnya, pesta ini kami bayar zakat seperti dalam Islam,” kata Narang.
Sedangkan sebagian daging dimasukkan ke dalam miniatur kapal naga dan rumah adat serta beberapa ancak (tempat sesajian) yang diarak balian untuk disajikan kepada dewa dan leluhur.
Menjelang akhir ritual, para balian kembali memberkati semua sesaji yang isinya antara lain ayam, ikan bakar, bermacam kue, batang tanaman, lemang, dan telur. Ada juga penghitungan jumlah uang logam yang diberikan warga sebagai bentuk pembayaran ”pajak” kepada leluhur yang telah memberi mereka rezeki.
Selanjutnya, semua anggota keluarga yang menyelenggarakan ritual tersebut diminta meludahi beberapa batang tanaman yang diikat menjadi satu seraya dilakukan pemberkatan oleh para balian. Ritual ini merupakan simbol membuang segala yang buruk dan kesialan.
Akhirnya sesaji dihanyutkan di Sungai Balangan yang melewati kampung itu. Bagi masyarakat Dayak, ritual ini adalah ungkapan syukur dan harapan agar musim tanam berikut panen padi berhasil baik.
lokasi terletak sekitar 250 kilometer utara Banjarmasin ,Desa Kapul, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. 
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, upacara adat)



***) kompas.

Sabtu, 09 Mei 2015

UPACARA ADAT KOLOLI KEI TERNATE



Kololi Kie dalam bahasa Ternate berarti Keliling Gunung (Kololi artinya Keliling) dan (Kie artinya Gunung), adalah sebuah ritual adat mengelilingi gunung Gamalama sekaligus pulau Ternate yang dilakukan langsung Sultan bersama permaisuri Boki Nita Budi Susanti bersama pasukannya (kapita) dan rakyatnya (bala kusu sekano kano).
Tradisi yang berusia sudah 700 tahun lebih ini, adalah ritual untuk mendoakan rakyat Maluku Kie Raha dan Ternate yang dilakukan Sultan. Ritual ini tidak hanya dilakukan saat Sultan berultah, ketika masyarakat Maluku Utara dilanda musibah besar seperti bencana alam dan didera konflik pertikaian, Sultan pun langsung menggelar Kololi Kie.
Ada dua jalur yang ditempuh dalam Kololi Kie, yakni jalur laut yang dalam bahasa local Ternate disebut Kololi Kie Toma Ngolo (Toma berarti di dan Ngolo berarti Laut) disamping jalur darat (Kololi Kie Toma Nyiha (Nyiha berarti Darat).
Namun, sejak selama 32 tahun berkuasa memimpin Keraton Ternate, Sultan Mudaffar sendiri lebih sering menggunakan rute jalur laut dalam melakukan ritual ini.  Penulis sendiri, berkesempatan mengikuti rombongan kololi kie yang dilakukan Sultan dan permasiurinya.
Selama perjalanan ritual mengitari Gunung Gamalama itu, Sultan dan permaisuri, tidak sendiri. Keduanya dikawal puluhan kapal yang ditumpangi ratusan tentara dan rakyatnya selama perjalanan. Semua kapal-kapal yang membawa rombongan, telah dihiasi janur kuning, dipasangi umbul-umbul kemudian berangkat dari jembatan Dodoku Ali, jembatan kesultanan Ternate.
Diantara puluhan kapal-kapal itu, selalu ada satu kapal yang dilengkapi alat-alat music tradisional Ternate seperti tifa, gendang, dan gong. Alat-alat music ini terus dimainkan selama perjalanan megitari pulau Ternate yang berjarak 45 kilometer itu tanpa henti.
Sepanjang perjalanan, Sultan bersama dengan sejumlah tokoh ditonton warga dari dekat yang sejak pagi, berbondong-bondong berkumpul di tepi pantai. Saat mengitari gunung itu, tak henti-hantinya sultan mengucapkan kalimat-kalimat doa yang ditujukan kepada penguasa alam untuk selalu melindungi rakyatnya.
Disetiap kololi kie, Sultan dan Boki selalu menyempatkan diri untuk mampir Ake Sibu atau yang dikenal dengan Ake Rica (tempat pemandian) di Kelurahan Rua, untuk mencuci kaki. Lokasi yang berada tak jauh dari Pantai Rua itu, kini merupakan salah satu lokasi wisata.
“Ada juga beberapa kuburan keramat yang disinggahi Sultan disetiap sekaligus berziarah, namun itu jarang dilakukan,” ucap Arsyad, salah satu Al Firis atau pengawal Sultan.
Menariknya, usai sultan dan boki mencuci kaki di Ake Sibu, ratusan warga yang datang dari berbagai desa pun terlihat mengerumuni kolam yang sudah berusia ratusan tahun itu, kemudian membasuh mukanya dengan air bekas cucian kaki sultan dan Boki.
Menurut warga sekitar, air bekas cucian kaki sultan dan boki itu, diyakini bisa menghilangkan penyakit, membawa berkah dan keselamatan. Sebagian diantara mereka tampak ada yang mengisinya kedalam botol untuk dibawa pulang.
Jadi Kebiasaan Akhir Pekan
Tradisi Kololi Kie, sepertinya tidak hanya dilakukan Sultan dan Boki, namun megitari Gamalama dan pulau ternate memang kerap dilakukan warga Kota Ternate disetiap akhir pekan, bahkan ini sudah menjadi tradisi berwisata warga setempat sambil menyambangi satu persatu lokasi wisata di Ternate terutama pantai.
Biasanya, agenda wisata ini dilakukan melalui jalur darat menggunakan  kendaraan baik roda dua maupun empat. Namun mengelilingi ternate melalui jalur laut lebih menarik ketimbang melalui darat. Oleh karenanya, warga yang berkesempatan ikut dalam ritual Kololie Kie ini, beruntung karena bisa melihat dari dekat setiap sudut pulau Ternate.
Namun, tidak semua warga memiliki kesempatan untuk ikut. Meski demikian, mereka hanya bisa menyaksikan dari tepi pantai iring-iringan rombongan kapal yang ditumpangi Sultan dan Boki.
Tontonan seperti ini, hanya ada setahun sekali ini atau disaat Ternate dilanda konflik maupun musibah seperti bencana alam. “Tradisi ini kami dari pihak keraton dan dinas pariwisata Ternate sudah menjadikannya sebagai sebuah wisata bagi warga Ternate,” ucap Mudaffar usai turun dari kapal.
Disamping itu, Ake Rica sendiri, juga menjadi salah satu objek wisata andalan ternate yang kerap dikunjungi wisatawan.  Sebab selain menjadi lokasi persinggahan Sultan dan Boki, Ake rica juga memiliki sejarah dimana, legenda yang diyakini warga setempat, adalah tempat pertama berlabuhnya tokoh legendaris Maulana Sayyidinaa Syekh Djaffar Shaddi, pembawa agama Islam pertama di Ternate dan Malut.
Mata airnya nya yang hangat, Ake Rica juga kini dijadikan tempat mandi untuk menghilangkan air garam di tubuh usai berenang di pantai Rua, salah satu objek wisata yang jaraknya tak jauh dari Ake Rica.
Disamping ake Rica, tercatat ada beberapa lokasi yang menjadi tempat persianggahan Sultan dan Boki yang dianggap keramat baik itu berupa makam para sultan maupun benteng yang memiliki sejarah terkait dengan perjuangan sultan dan warga Ternate dalam mengusir penjajah.

Seperti Kadato ma-Ngara (Gerbang Istana atau pintu masuk wilayah kesultanan), Kuburan (dalam bahasa Ternate disebut Jere) yakni Jere Kubu Lamo, Jere Toma Sigi Lamo (Kuburan di Kawasan Mesjid Besar), Jere toma Foramadiyahi (makam Sultan Babullah), Jere Kulaba (Makam di kelurahan Kulaba), Libuku Tabam ma-Dehe, Sao Madaha, Libuku Buku Deru-Deru, Libuku Bandinga Mari Hisa, Ngade atau Laguna, Talangame, dan Benteng Oranye serta Telaga Nita, yang kesemuanya oleh pemerintah dijadikan objek wisata sejarah.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi)

Kamis, 07 Mei 2015

UPACARA ADAT REBA DI NUSA TENGGARA TIMUR

Upacara Adat Reba merupakan upacara tahunan yang dilakukan masyarakat Nusa Tenggara Timur.. Biasanya dilakukan pada awal tahun di bulan Januari atau Februari. Dalam upacara ini, masyarakat meminta petuah tokoh agama dan tokoh ada untuk dapat menjalani kehidupan yang lebih baik di di tahun yang baru.
Upacara Reba merupakan upacara tahunan yang cukup besar. Sebelum dilakukan perayaan Reba, masyarakat terlebih dahulu mengadakan upacara pembukaan Reba atau dikenal dengan su’i uwi. Di malam hari, dilakukan acara makan bersama sambil menunggu pagi datang. Selanjutnya di pagi hari perayaan, masyarakat bersama-sama untuk mencicipi hidangan yang telah matang dan siap dimakan.
Yang menarik adalah hidangan utama perayaan ini bukanlah hidangan mewah layaknya berbagai perayaan pada umumnya. Dalam perayaan ini, hidangan yang disajikan adalah ubi. Ubi sendiri diagungkan karena dianggap sebagai sumber makanan yang tidak pernah habis disediakan oleh bumi. Oleh karena itu warga Ngada tidak pernah mengalami rawan pangan.
Upacara Reba dilakukan dengan meriah selama tiga sampai empat hari. Sebelum pelaksanaan tari-tarian dan nyanyian dimulai, diadakan misa inkulturasi yang dipimpin oleh pemuka agama setempat. Memadukan unsur adat dan agama, rangkaian upacara juga diiringi dengan paduan suara gereja dengan menggunakan bahasa lokal.
Upacara berlanjut dengan iring-iringan tarian penari yang menggenggam pedang panjang dan tongkat warna-warni pada bagian ujungnya. Tongkat-tongkat tersebut bertambah meriah dengan dihiasi bulu kambing berwarna putih.
Sebagai pengiring, musik gesek berdawai tunggal yang terbuat dari tempurung kelapa atau labu hutan digunakan dalam upacara ini. Suasana pun bertambah meriah ketika para penonton dan penari disodori satu dua gelas arak. Ritual ini merupakan tradisi setiap orang Ngada yang hadir dalam acara tersebut. Hal ini dilakukan sebagai wujud kegembiraan masyarakat Ngada dengan tetap menjaga nuansa rohani.
Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )



Rabu, 06 Mei 2015

UPACARA ADAT TINGKEBAN


Dalam masyarakat Jawa, upacara Tingkeban biasa dilakukan bagi calon ibu yang mengandung untuk pertama kalinya. Karena pelaksanaannya pada saat kandungan berusia 7 (tujuh) bulan, maka Upacara Tingkeban sering juga disebut dengan upacara mitoni. Rangkaian Upacara Tingkeban terdiri dari :
Sungkeman
Sungkeman ini dilakukan oleh istri kepada suami dan dilanjutkan oleh suami – istri pada orangtuanya.
Siraman
Siraman ini dilakukan kepada calon orang tua jabang bayi dengan air dari 7 sumber dan dilakukan oleh tujuh orang sesepuh keluarga. Gayung yang dipakai untuk siraman ini terbuat dari kelapa yang masih ada dagingnya dan bagian dasarnya diberi lobang. Setelah siraman si calon ibu dpakaikan kain 7 warna, yang melambangkan sifat-sifat baik yang akan dibawa oleh jabang bayi dalam kandungan.
Calon ayah si bayi kemudian menjatuhkan tropong (alat tenun tradisional ) di sela kain 7 warna yang melambangkan proses kelahiran si bayi kelak yang berjalan lancar dan sempurna.
Pantes-pantes (Ganti Busana 7 kali)
Dalam acara pantes-pantes ini calon ibu dipakaikan kain dan kebaya 7 macam. Kain dan kebaya yang pertama sampai yang ke enam merupakan busana yang menunjukkan kemewahan dan kebesaran. Ibu-ibu yang hadir saat ditanya apakah si calon ibu pantas menggunakan busana-busana tersebut menberikan jawaban :“dereng Pantes” (belum pantas). Setelah dipakaikan busana ke tujuh yang berupa kain lurik dengan motif sederhana baru ibu-ibu yang hadir menjawab : “pantes” (pantas). Di sini merupakan perlambang bahwa ibu yang sedang mengandung sebiknya tidak memikirkan hal yang sifatnya keduniawian dan berpenampilan bersahaja.
Tigas Kendit
Calon ibu kemudian diikat perutnya (dikenditi) dengan janur kuning. Ikatan janur ini harus dipotong (ditigas) oleh calon ayah si bayi untuk membuka ikatan yang menghalangi lahirnya si jabang bayi. Ikatan tersebut dipotong dengan keris yang ujungnya diberi kunyit sebagai tolak bala.
Brojolan
Dalam acara brojolan ini, dua buah Cengkir gading (kelapa gading muda) yang telah diberi gambar wayang (biasanya gambar Betara Kamajaya-Dewi Ratih atau Harjuna – Sembadra) dimasukkan oleh calon ayah melalui perut calon ibu dan diterima oleh nenek jabang bayi. Harapan dari acara ini adalah supaya si jabang bayi yang lahir memiliki fisik dan sifat seperti tokoh wayang tersebut.
Angrem
Di sini Calon Ibu duduk di tumpukan kain yang tadi digunakan dalam acaraPantes-pantes seperti ayam betina yang sedang mengerami telurnya. Harapannya adalah agar si jabang bayi dapat lahir cukup bulan.
Dhahar Ajang Cowek
Di sini calon ayah duduk mendamping calon ibu di tumpukan kain dan berdua mengambil makanan yang disediakan dengan alas makan cowek (cobek)dan mereka berdua memakannya sampai habis. Harapannya adalah supaya plasenta bayi menjadi sehat sehingga si jabang bayi dapat bertumbuh dengan sehat.
Setelah semua acara ini selesai, dilanjutkan dengan acara dodol dawet/dodol rujak,yang merupakan penutup rangkaian upacara Tingkeban. Tamu yang hadir membeli dawet tersebut menggunakan uang yang terbuat dari kreweng (tanah liat).

Upacara Tingkeban ini merupakan perlambang dari rangkaian doa dari calon orang tua, keluarga besar beserta kerabat agar jabang bayi dalam kandungan kelak dapat lahir dengan lancar dan selamat.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, upacara adat, )

Senin, 04 Mei 2015

UPACARA PASOLA NUSA TENGGARA BARAT

Dalam upacara tradisional Indonesia ini, akan ada dua kelompok yang melakukan “perang-perangan”. Setiap kelompok yang terdiri atas lebih dari 100 pemuda itu “berperang” dengan bersenjatakan tombak dari kayu yang ujungnya tumpul, dan juga mengenakan baju perang dalam adat mereka. Pada bulan Februari atau Maret setiap tahunnya, upacara ini akan digelar untuk menyampaikan doa kepada Tuhan, agar panen mereka pada tahun itu bisa berhasil
Tradisi perang-perangan dengan menunggang kuda sambil menyerang lawan dengan lembing ini bisa kita saksikan dengan mengunjungi Pulau Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tradisi ini disebut dengan nama Pasola.
Nama Pasola berasal dari kata "sola" atau "hola", yang berarti lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar. Acara melempar lembing kayu ini dilakukan para pemuda desa di Sumba dari atas kuda yang sedang dipacu kencang yang berlawanan arah.
Kabupaten Sumba Barat Daya, Propinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai ritus Pasola yang sangat karakteristik dengan muatan sejarah yang sudah mentradisi. Pasola pertama digelar di Kodi kemudian di Wanokaka, Gaura dan Lamboya. Gelar pasola di daerah-daerah itu berbeda namun tetap dalam kurun waktu Pebruari dan Maret setiap tahun. Penanggalannya ditentukan oleh rato (tokoh adat yang berwenang).
Menyebut Pasola bagi masyarakat Kodi tidak bisa dilepaskan dari kisah kembara purba tiga bersaudara Ngongu Toumatutu, Yagi Waikareri, dan Ubu Dulla dari kampung Waiwuang (sebuah perkampungan adat di Wanokaka). Kisah yang kemudian melahirkan tokoh sentral Rabu Kaba. Dara purba inilah yang kemudian merangkaikan jalinan kawin mawin Waiwuang (Wanukaka) dengan Tossi (Kodi) dimana memeteraikan ritus, “Nyale dan Pasola” yang digelar mentradisi hingga kini.
Saat yang tepat untuk melihat Pasola sebenarnya datang 1 sampai dengan 2 hari dari hari H diadakan Pasola, karena sebelum hari H ada tradisi yang diadakan. Salah satunya adalah tradisi nyale yang merupakan puncak dari segala kegiatan untuk memulai pasola. Pasola, tradisi perang-perangan dengan menunggang kuda sambil menyerang lawan dengan lembing di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
Sebelum Pasola dimulai biasanya diawali dengan pelaksanaan adat nyale. Adat nyale adalah salah satu upacara yang memanjatkan rasa syukur atas anugerah yang didapatkan, yang ditandai dengan datangnya musim panen dan cacing laut yang melimpah di pinggir pantai.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter, upacara adat.Tradisi.Tokoh, Tradisi, )


***)berbagai sumber

Minggu, 03 Mei 2015

UPACARA ADAT TUK SI BEDUG SLEMAN YOGJAKARTA

Desa Wisata Budaya Mranggen, Margodadi, Seyegan, Sleman, Yogyakarta.
Berupa prosesi kirab arak-arakan yang diikuti oleh rombongan iringan musik dan beberapa gunungan. Acara ini diselenggarakan dilaksanakan pada hari Jumat Pahing di bulan Jumadil Akhir untuk menghormati perjalanan Sunan Kalijaga yang berhenti di bawah pohon besar untuk beristirahat pada siang hari. Pada Waktu itu Sunan Kalijaga akan melaksanakan sholat jumat (tepatnya pada jumat pahing), akan tetapi Beliau tidak mendapatkan air untuk berwudhu. Maka dengan meminta pertolongan kepada Allah SWT Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya kedalam tanah. Dari tancapan tongkat tersebut, memancarlah air yang sampai saat ini tidak pernah kering dan kemudiandiberi nama Tuk Si bedug.
Upacara tuk sibedug yang diselenggarakan pada setiap Jumat Pahing di bulan Maulud (Jawa), menggambarkan perjalanan Sunan Kalijaga ketika menyiarkan agama Islam di Pulau Jawa. Upacara ini dimulai pada pukul 14.00 WIB dari balai desa Margodadi menuju petilasan Sunan Kalijaga di dusun Grogol dan Tuk Si Bedug.
Makna nilai‑nilai luhur yang terkandung adalah ketauladanan, perjuangan dan sebagai budayawan. Untuk lebih jelasnya ikuti uraian dibawah ini.

a. Nilai luhur ketauladanan
Kanjeng Sunan Kalijaga memberikan contoh dan ketauladanan kepada warga masyarakat untuk mengikuti jejaknya menyebarkan agama Islam (syiar agama Islam) ke seluruh pelosok tanah air. Berkat ketekunan dan kegigihan Sunan Kalijaga segala rintangan, hambatan dan tantangan dapat dilalui dengan baik dan aman, yang semua itu berkat dari kemurahan Allah SWT.

b. Nilai luhur semangat dan perjuangan
Pada saat perjalanan Kanjeng Sunan Kalijaga, transportasi dan komunikasi tidak selancar seperti saat ini. Kemana beliau menghendaki dijalaninya dengan jalan kaki, tidak mengenal lelah dan patah semangat, dengan tekun serta bersemangat untuk mendapat pengikut dan tersebarnya agama Islam.

c. Nilai luhur Kesenian
Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai Wali penutup dan tokoh ulama dengan syiar agama Islamnya, beliau juga seorang seniman dan budayawan. Untuk menyentuh hati para santri‑santrinya Kanjeng Sunan Kalijaga menyiarkan agama Islam dengan media kesenian terutama seni wayang Kulit. Selain mahir memainkan wayang kulit, beliau juga ahli dalam tata bahasa, tatah sungging dan ahli dalam garap gendhing. Banyak nasakah­ naskah kuno hasil ciptaan Kanjeng Sunan Kahjaga, dan naskah serta ajaran yang tidak tersirat, salah satunya yang sampai sekarang ini masih dilaksanakan yaitu upacara sekaten yang dilaksanakan oleh Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat dan Surakarto Hadiningrat.

d. Tokoh upacara Tuk Si Bedug, lurah Margodadi,Seyegan.
Hal‑hal yang telah diwariskan berupa legenda yang berhubungan dengan seorang tokoh agama Islam yaitu, Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu dari 9 ( sembilan ) Wali atau lebih dikenal dengan Wali Sanga.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )

Sabtu, 02 Mei 2015

TRADISI UPACARA PEDANG PORA

Upacara Pedang Pora merupakan tradisi di lingkungan Perwira yang telah lulus dari akademi militer, akademi angkatan laut, akademi angkatan udara dan akademi kepolisian. Meski hampir sama, keduanya memiliki sedikit perbedaan. Makna dari upacara ini yaitu memberikan penghormatan kepada seorang perwira yang sedang melangsungkan pernikahan. Upacara pedang Pora menggambarkan secara simbolis saat seorang Perwira memasuki gerbang atau gapura kehidupan rumah tangga dan melepas masa lajangn ya untuk mengarungi mahligai rumah tangga.
Untuk prosesi ini diperlukan pula beberapa orang yang nantinya akan berpartisipasi dalam upacara. Beberapa petugas itu, antara lain satu pasukan pedang, inspektur upacara, komandan upacara, perwira upacara, pembawa puisi, pembawa acara, pembawa baki, pembawa lilin serta operator musik. Personal ini pun disesuaikan dengan prosesi yang menjadi tradisi setiap keturunan.
Pemilihan upacara tergantung pada situasi dan keinginan mempelai yang merupakan alumni akademi dari masing-masing akademi dan masing-masing angkatan. Begitu juga musik yang digunakan dalam prosesi. ini Namun prinsip dan aturan dasar pelaksanaan upacara ini tetaplah sama.
Kelengkapan yang dibutuhkan diantaranya kalungan bunga (melati/anggrek), hand bouquet, kaos tangan, lilin bor putih/ merah jambu beserta tempat lilinnya, baki berlapis taplak, kadga (pedang pendek), pedang, seperangkat pakaian bayangkari/ persit, teks mc dan puisi. Perlengkapan ini harus disesuaikan dengan tradisi masing-masing kesatuan/ angkatan.
Lebih jelasnya Upacara Pedang Pora adalah sebuah tradisi Upacara Ke Militeran biasanya dilakukan terhadap perwira muda di lingkungan TNI dan kepolisian ketika ada salah satu anggota mereka melangsungkan pernikahan atau dilakukan untuk penyambutan pejabat baru dan merupakan sebuah tradisi wajib yang telah turun-menurun. Pedang pora sendiri adalah jajaran pedang kehormatan berbentuk gapura yang di lewati ke dua mempelai, menggambarkan saat di masukinya pintu gerbang kehidupan rumah tangga yang baru.
Ada banyak simbol dalam ritual itu, diantaranya melambangkan persaudaraan, solidaritas, permohonan perlindungan pada Tuhan,dan lain sebagainya.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter, upacara adat, Tradisi, )







***)beberapa sumber