Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2015

BUDAYA & TRADISI SENI DEBUS BANTEN

Debus adalah seni pertunjukan yang memperlihatkan permainan kekebalan tubuh terhadap pukulan, tusukan, dan tebasan benda tajam. Dalam pertunjukanya, debus banyak menampilkan aktraksi kekebalan tubuh sesuai dengan keinginan pemainnya. Pada masa pemerintahan sultan ageng tirtayasa sekitar abad ke-17 ( 1651-1652), debus difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajah. Pada perkembangan selanjutnya, debus menjadi salah satu bagian ragam seni budaya masyarakat banten sehingga kesenian ini banyak digemari oleh masyarakat sebagai hiburan yang langka dan menarik di banten, permainan debus berkembang di kabupaten lebak, pandeglang, kota cilegon dan kota serang.
Yang menonjol dalam permainan ini adalah pertunjukan kekebalan orang terhadap berbagai senjata tajam. Permainannya merupakan permainan kelompok. Di kerajaan Banten dahulu, yang terkenal sebagai penyebarluas agama dan budaya Islam, pertunjukan kekebalan yang sangat digemari dan dibanggakan oleh masyarakat Banten ini dimanfaatkan sebagai sarana untuk penyiaran agama Islam, seperti halnya dilakukan oleh para Wah. Pada masa perlawanan terhadap penjajahan Belanda kesenian ini digiatkan sebagai penegak disiplin dan memupuk keberanian rakyat.
Seorang pemain debus harus kuat, tabah dan yakin kepada diri sendiri. Mereka harus taat menjalankan kewajiban-kewajiban agama Islam, tahan lapar, tahan tidak tidur, tahan tidak bergaul dengan isteri selama waktu yang ditentukan dan lain-lain persyaratan yang untuk orang kebanyakan dirasakan berat.
Kesenian ini sungguh mencekam, bahkan mengerikan tetapi juga menarik perhatian, apalagi para turis asing yang umumnya tidak percaya akan hal-hal di luar nalar (irrasional). Layaknya bila kita ikut memikirkan upaya pelestariannya dengan membina latihannya, organisasinya dan ikut mengusahakan "pemasaran" pementasannya. Kerjasama sebaik-baiknya antara masyarakat pemerintah pusat ataupun daerah.
(Adat, Budaya, Tradisi, kesenian)


***)berbagai sumber

Senin, 03 Agustus 2015

SENI, BUDAYA & TRADISI SUKU ASMAT PAPUA

Makhluk hidup yang pertama kali muncul di muka bumi ini adalah pepohonan. Dari sekian banyak ragamnya, rupanya pohon yang pertama kali ada di muka bumi ini adalah beringin dan kayu besi. Kedua pohon ini, menurut orang Asmat, adalah emanasi dari dua mama tua. Beringin adalah perwujudan dari Ucukamaraot, sementara kayu besi merupakan titisan dari Paskomaraot.
Orang Asmat juga meyakini, muasal mereka juga pepohonan itu. Sebuah legenda setempat menceritakan, bahwa leluhur mereka yang bernama Fumeripits satu ketika terdampar dan nyaris sekarat di tepi sungai Yet. Berkat ramuan telur buaya, ayam kampung dan kasuari yang diracik burung rajawali, nyawa Fumeripits bisa selamat. Sejak saat itu ia hidup seorang diri, berkelana ke banyak tempat dan tinggal di sebuahjew atau rumah bujang yang juga dibuatnya sendirian.
Dalam kesendiriannya, nyaris sepanjang waktu Fumeripits mengukir batang-batang kayu menjadi mbis atau patung manusia. Selain itu ia juga biasa membuat eme atau tifa, alat musik perkusi dari batang kayu. Sekadar untuk mengusir sepi, sesekali ia bersenandung sambil memainkan alat musik hasil karyanya itu. Anehnya, saat bersamaan, patung-patung yang dibuatnya juga ikut bergerak mengikuti irama, lalu menjelma menjadi manusia.
Di tempat lainnya, kejadian serupa terulang lagi. Ketika Fumeripits bernyanyi dan menabuh tifa, saat itu juga patung-patung yang dibuatnya mewujud manusia. Hingga akhirnya ia berkata, “Mulai saat ini, kalian menjadi anak-anakku. Maka pergilah dan tempati seluruh pelosok daerah yang lainnya.” Mengutip Michael Rockefeller dalam The Asmat of New Guinea, merekalah yang kelak menurunkan para pengukir alias wow-ipits atau wow iwir dan orang Asmat sekarang.
Sebab asal-usulnya itulah, seperti makna kata asmat, tidak heran jika mereka menisbatkan dirinya sebagai manusia pohon atau kayu. Versi masyarakat suku Asmat –diperkirakan meliputi dua belas sub suku sekaligus suku terbesar di Papua– kaki manusia itu ibarat akar pohon, tubuh umpama batang, lengan seperti dahan dan ranting, sedangkan kepala adalah amsal dari buahnya. Maka memuliakan pohon termasuk mengukirnya, bukanlah sekadar kecakapan bernilai seni.
Menukil Dirk Smidt dalam Asmat Art: Woodcarvings of Southwest New Guinea, keterampilan itu sesungguhnya sarat dimensi spiritualnya. Mengukir patung misalnya, hakikatnya adalah cara mereka berkomunikasi dengan leluhurnya di alam lain. Merujuk konsep kosmologi orang Asmat, sesudah hidup di ow capinmi (alam kehidupan sekarang), tiap manusia akan melewati dampu ow capinmi (alam roh yang meninggal), sebelum akhirnya memasuki safar (alam surga).
Ketika masih di dampu ow capinmi, roh si mati bisa menjadi sumber malapetaka termasuk peperangan. Supaya roh itu segera menuju safar, mereka yang masih hidup harus membuatkan patung orang yang meninggal tersebut dan menggelar upacara atau pesta patung mbis, pesta topeng, pesta perahu, juga pesta ulat sagu. Tak cuma yang disebut terakhir, kata Kal Muller dalam Mengenal Papua, tiap ritual suku Asmat biasanya memang banyak menggunakan ulat.
Tampaknya seni ukir dan suku Asmat memang ibarat dua sisi dari sekeping mata uang. Manusia Kayu itu, dahulunya adalah patung-patung kayu karya Fumeripits yang menjelma menjadi manusia. Dan ketika orang Asmat membuat mbislalu mengadakan sejumlah ritual, sesungguhnya mereka tengah menyambung rasa dengan para pendahulunya. Maka ukiran orang Asmat bukan cuma sekadar artistik, tapi juga sangat sakral dan mistis.
((Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, Kesenian, )

Kamis, 30 Juli 2015

BUDAYA TRADISI SENI TARI SINGO ULUNG BONDOWOSO

Kesenian tari Singo Ulung adalah kesenian tradisional dari Bondowoso. Kesenian ini awalnya di temukan oleh seseorang bernama Singo, dari Blambangan dan memiliki istri dari desa Blimbing.
Singo dan istrinya adalah tokoh masyarakat yang turut membangun desa Blimbing. Atas tanda baktinya itu, masyarakat mengangkatnya sebagai Kepala Desa Blimbing. Dari situ pula awal terciptanya tari Singo Ulung ini berasal, karena tarian ini selalu dibawakan saat upacara Bersih Desa Blimbing.
Kesenian Singo Ulung adalah perpaduan dari seni tari topeng dan ojung yang biasanya sebagai tradisi untuk meminta datangnya turun hujan. Koloborasi kesenian tersebut dikemas dalam bentuk tari pertunjukan. Tari Singo ulung dimainkan oleh dua orang dan diiringi musik tradisional khusus, dengan menggunakan figur singo atau singa berwarna putih sebagai ikon utama kesenian ini.
Dalam refleksi tarian Singo Ulung, biasanya dilakukan dua orang, satu di depan untuk menggerakkan kepala Singo Ulung dan satu lagi di belakang sebagai kaki. Dengan iringan gamelan khas Blimbing, penampilan Singo Ulung sangat apresiatif dan atraktif.
Pementasannya dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu pementasan Singo Ulung dalam upacara bersih desa dan pementasan Singo Ulung sebagai tontonan untuk umum. Pementasan Singo Ulung untuk bersih desa dilakukan dengan persyaratan pementasan harus dilakukan di tempat berlangsungnya upacara. Selain itu juga, waktunya harus tepat pada tanggal 15 Syaban. Demikian juga sesa- jennya harus lengkap, berupa nasi tumpeng, nasi rasul, biddenggulu, lembur/degan, dudul, tetel jenang panca warna, dan ikan 9 macam. Untuk pementasan tontonan umum tidak perlu persyaratan khusus, seperti tempat, waktu dan macam makanan yang disajikan.
(Adat, Budaya, upacara adat., Tradisi.Tokoh, Kesenian, tarian tradisional,  )



Selasa, 30 Juni 2015

TRADISI WAYANG GONG BANJAR KALIMANTAN SELATAN

Wayang Gong adalah seni pertunjukan sejenis wayang orang. Pertunjukan ini mengangkat cerita dari pakem Ramayana versi Banjar. Wayang ini dimainkan dengan pengolahan vokal pemain dan ditambah basik tari dalam lakon yang terdiri dari beberapa tilisasi. Tak hanya itu, pemain diiringi musik gamelan, elemen dramatik dan kating tari yang diiringi bunyi tambahan seperti ketopong yang membuatnya makin khas. Para pemain dirias sebagaimana layaknya tokoh yang ada di dalam kisah Ramayana.
Dahulu kesenian ini sering dimainkan saat acara adat dan seni pertunjukan sosial kemasyarakatan seperti Mawlid Nabi, saprah amal, hajatan hingga nazar pasca panen padi. Namun sekarang sudah jarang dimainkan.
Beruntung masih ada salah satu sanggar seni yang masih eksis memainkan kesenian ini walaupun insidential. Sanggar seni Ading Bastari, Barikin (HST) yang di pimpin A.W. Syarbaini lah yang membuat kesenian ini masih bertahan, walaupun dalam kondisi yang tak memungkinkan.
Saat itu Wayang gong dimainkan semalaman suntuk, sama halnya dengan wayang kulit banjar. Setiap lakon atau tokoh biasanya disertai dengan menambang atau nembang yang dibawakan oleh sinden. Sekarang agar tidak ditinggal oleh para penontonnya, permainan dipersingkat hingga sekitar 3 atau– 4 jam saja. Pada Wayang Gong, sekitar 10 orang yang memainkan alat musik tradisional, yang terdiri dari babun, gong besar dan kecil, sarun besar dan kecil, kenong dan lima alat.
Pada saat memulai pertunjukan, terlebih dahulu dilakukan mamucukani, yakni tiga dalang membuka pagelaran untuk menyampaikan cerita apa yang akan dimainkan. Layaknya seperti sinetron di televisi, dari pemain utama hingga pemain pendukung disampaikan lebih dahulu kepada penonton.
Saat ini hanya sanggar seni Ading Bastari yang memainkan kesenian wayang gong ini, karena saat ini nyaris tidak ada lagi sanggar seni lain yang memainkan salah satu kesenian tertua ini. Kalaupun ada, hanya dilakukan dengan cara ”bon”. Artinya para pemain diambil dari berbagai kelompok seni daerah dengan sistem cabutan. Misalnya mengambil pemain dari kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tapin.
Untuk itu perlu diadakan upaya untuk melestarikan kebudayaan ini.
Dalam jangka Pendek, bisa dengan melakukan pendidikan dan pelatihan sistematik generasi muda dengan narasumber tokoh yang masih ada sekarang ini. Membuat proyek pembinaan kesenian sebagai program lanjutan pendidikan serta membuat wadah khusus berupa balai seni ditiap kota atau kabupaten di Kalimantan Selatan.
Dalam jangka panjang bisa dilakukan dengan cara merancang kemasan baru dalam pagelaran seni wayang gong dalam hal ini bisa dilakukan dengan cara tumbuh dan berkembang berupa diklat wayang gong bagi anak-anak dan remaja.
Nah, sekarang nasib kesenian daerah ada ditangan kita para generasi muda. Apakah kesenian tersebut akan kehilangan peminat dan hilang dari permukaan, atau kesenian tersebut akan kembali berjaya dengan penanggulangan dini.
Budaya yang besar mencerminkan betapa besar pula peradaban masyarakatnya.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Kesenian, Tradisi,)

Sabtu, 11 April 2015

TRADISI BUDAYA MEGOAK-GOAKAN DI BALI


Permainan tradisional Magoak-goakan sebuah  tradisi atau budaya di desa Pakraman Panji, Kabupaten Buleleng. Tradisi budaya tersebut masih berkembang lestari sampai sekarang, menjadi sebuah permainan tradisional yang digelar pada saat hari raya Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi), diilhami dari strategi burung gagak untuk mengincar mangsanya, kemudian memberikan inspirasi kepada raja Ki Barak Panji Sakti, mengajak pasukannya untuk bermain permainan burung gagak ini, pada saat permainan sang raja menjadi goaknya dan komandan narapraja diminta menjadi pemimpin barisannya, sang Raja (goak) dengan gesitnya bisa memperdaya pasukan dan bisa menangkap ekor (pemain yang terakhir).
Dalam ketentuan permainan Magoak-goakan si pemenang dalam hal ini sang raja berhak meminta sesuatu, dan raja meminta Blambangan sebagai bagian kerajaan Jagarga, barisan terpengarah, permintaan harus terpenuhi, kemudian secara kompak seluruh anggota barisan narapraja bersorak dan akan memenuhi keinginan sang raja (si Goak) untuk menaklukkan daerah Blambangan sehingga menjadi daerah kekuasaan Buleleng. Tujuan sebenarnya adalah membangun dan mengobarkan semangat juang pasukannya melawan musuhnya kala itu yaitu kerajaan Blambangan.
 Permainan ini bisa dilakukan perorangan maupun beregu, kalau perorangan salah seorang menjadi goak dan yang lainnya membentuk regu seperti barisan seperti  ular, barisan ular ini memegang pinggang didepannya erat-erat agar tak terlepas. Sedangkan beregu masing-masing terdiri minimal 5 orang, atau semakin banyak akan semakin seru. Permainan boleh dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan, bisa juga campuran, usiapun tidak terbatas baik anak-anak maupun dewasa, lebih adil jika sebaya dan jenis kelamin yang sama. Biasanya seseorang yang dianggap paling kuat dan besar menjadi kepala barisan. Seseorang dari regu lawan atau perorangan menjadi goak, agar bisa menangkap pemain paling buntut (ekor ular) secepatnya, jika dalam waktu yang ditentukan tidak bisa tertangkap maka sang Goak dianggap kalah.

Apa itu Megoak-Goakan ?
Megoak-Goakan adalah salah satu bukti kekayaan budaya dan tradisi di Bali yang masih dipertahankan kelestariannya sampai saat ini. Megoak-Goakan merupakan tarian tradisional rakyat khususnya khas Desa Panji yang biasanya dipentaskan menjelang Hari Raya Nyepi tiba.
Nama Megoak-Goakan sendiri diambil dari nama burung gagak (Goak yang gagah) yang terilhami ketika melihat burung ini tengah mengincar mangsanya. Kegiatan Megoak-Goakan sendiri merupakan pementasan ulang dari sejarah kepahlawanan Ki Barak Panji Sakti yang dikenal sebagai Pahlawan Buleleng Bali ketika menaklukan Kerajaan Blambangan di Jawa Timur.

Secara turun-temurun Megoak-Goakan konsisten terus dilaksanakan dan dijaga kelestariannya sampai kini. Ketika merayakan acara Megoak-Goakan ini suasana kekeluargaan dan kegembiraan warga yang merayakannya akan sangat terasa sekali. Meskipun tak jarang para peserta yang melakukannya harus jungkir-balik karena memang arena yang dipakainya miring, namun sama sekali tak mengendurkan semangat dan antusiasme warga yang mengikutinya.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter. Tradisi, Kesenian, )

***)berbagai sumber

Kamis, 09 April 2015

BUDAYA & TRADISI TARI DI PAPUA

Yosim Pancar atau biasa disingkat Yospan adalah tari pergaulan/persahabatan para muda-mudi. Yospan merupakan penggabungan dari dua tarian rakyat di Papua, yaitu Yosim dan Pancar.
Tarian Yospan adalah salah satu tarian yang berasal dari daerahPapua. Yospan tergolong dalam jenis tari pergaulan atau atau tarian persahabatanantara muda-mudi di masyarakat Papua. Yosim Pancar atau biasa disingkat Yospan,merupakan penggabungan dari dua tarian rakyat di Papua, yaitu Yosim dan Pancar.Sejarah kemunculan tarian Yospan, bisa kita runut dari asal mula dua tariansebelum mengalami penggabungan menjadi Yospan. Yosim adalah tarian tua yangberasal dari Sarmi, suatu kabupaten di pesisir utara Papua, dekat SungaiMamberamo. Tapi sumber lain mengatakan bahwa Yosim berasal dari wilayah telukSaireri (Serui, Waropen). Sementara Pancar adalah tarian yang berkembang diBiak Numfor dan Manokwari awal 1960-an semasa zaman kolonial Belanda di Papua.Awal sejarah kelahirannya adalah dengan meniru gerakan-gerakan akrobatikdi udara, dengan penamaan merujuk pada pancaran gas (jet). Maka tarian yangmeniru gerakan akrobatik udara ini mula-mula disebut Pancar Gas, dan disingkatmenjadi Pancar. Sejak kelahirannya awal 1960-an, Pancar sudah memperkayagerakannya dari sumber-sumber lain, termasuk dari gerakan alam. Karenakepopulerannya, tarian Yospan sering diperagakan dalam setiap event, kegiatanpenyambutan, acara adat, dan festival seni budaya. Yospan juga seringditampilkan di Manca Negara untuk memenuhi undangan atau mengikuti Festivaldisana. Bahkan salah satu tarian warga Biak - Papua ini, selalu digelar setiapbulan Agustus. Mereka menari sepanjang jalan Imam Bonjol dengan di iringi musikkhas Papua (Agustus 2008).
Tari Yosim Pancar memiliki dua regu pemain yaitu Regu Musisi dan Penari. Penari Yospan lebih dari satu orang dengan gerakan dasar yang penuh semangat, dinamik dan menarik. Beberapa jenis gerakannya yang terkenal sepertiPancar gas, Gale-gale, Jef, Pacul Tiga, Seka dan lain-lain.
Keunikan dari tarian ini adalah pakaian, aksesoris, dan alat musiknya. Warna dan jenis pakaian yang digunakan masing-masing Grup Seni tari/sanggar seni Yospan berbeda-beda, namun ciri khas Papua untuk aksesoris hampir sama. Alat-alat musik yang dipakai untuk mengiringi tarian Yospan seperti Gitar, Ukulele (Juk), Tifa dan Bass Akustik (stem bass). Ukulele, Tifa dan Stem Bass biasanya dibuat sendiri. Seorang yang sudah mahir bermain Stem Bass terkadang dapat bermain bukan lagi menggunakan jari atau telapak tangan untuk menekan not tapi menggunakan telapak kaki pada senar nilon. Irama dan lagu Tari Yospan secara khusus sangat membangkitkan kekuatan untuk tarian.
Yospan cukup populer dan sering diperagakan pada setiap event, acara adat, kegiatan penyambutan dan festival seni budaya. Yospan juga biasa ditampilkan di Manca Negara untuk memenuhi undangan atau mengikuti Festival disana.


(Adat, Budaya, Ciri Khas, Kesenian, Tradisi, (













***)berbagai sumber

Rabu, 08 April 2015

BUDAYA & SENI TARI PENDET BALI

Tari Pendet diciptakan oleh seorang maestro tari dari Bali yaitu I Wayan Rindi (1967), I Wayan Rindimenjadikan tari pendet sebagai penggubah tarian sakral yang bisa di pentaskan di pura setiap upacara keagamaan. Asal usul tari pendet diciptakan adalah untuk tari pemujaan yang banyak dipentaskan di Pura, tempat ibadah umat Hindu di Bali, Indonesia. Inti Gerakan Tari pendet adalah untuk simbol penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, beberapa seniman di pulau Bali merubah Tari Pendet menjaditarian ucapan selamat datang, tetapi Tari pendet tetap mengusung unsur sakral dan religius yang menjadi ciri tari pendet.
Sejarah Perkembangan.
Sebelumnya Tari Pendet telah lahir sejak tahun 1950 sebelum pada 1961, I Wayan Beratha mengolah kembali tari pendet tersebut dengan pola seperti sekarang, termasuk menambahkan jumlah penarinya menjadi lima orang. Berselang setahun kemudian, I Wayan Beratha dan kawan-kawan menciptakan tari pendet massal dengan jumlah penari tidak kurang dari 800 orang, untuk ditampilkan dalam upacara pembukaan Asian Games di Jakarta. 1967 koreografer bentuk modern Tari Pendet. Pada tahun 1967 I Wayan Rindi seorang koreografer menciptkan bentuk modern tari Pendet ini adalah (?-1967), merupakan penari yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan kemampuan menggubah tari dan melestarikan seni tari Bali melalui pembelajaran pada generasi penerusnya. Semasa hidupnya ia aktif mengajarkan beragam tari Bali, termasuk tari Pendet kepada keturunan keluarganya maupun di luar lingkungan keluarganya. Disamping itu tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental.
Ciri-ciri Tari Pendet
1. Tata Busana Tari Pendet
Perkembangan busana memberikan ciri khas bahwa tari Pendet Balih-balihan merupakan tarian hiburan atau tarian “Ucapan Selamat Datang”. Busana di buat semenarik mungkin agar dapat memikat daya tarik penonton. Tata busana pada tari Pendet yang saya tonton adalah sebagai berikut:
• Tapih berwarna hijau dengan motif crapcap
Cara penggunaan tapih sama halnya seperti memakai kain biasa, hanya saja ujung tapih ditaruh dibelakang dan harus menutupi mata kaki penari.
• Kamen berwarna merah dengan motif mas – masan dengan pemakaian kamen biasa.
Cara penggunaan kamen pada tarian ini sama dengan penggunaan kamen pada umumnya.
• Angkin prada berwarna kuning dan memakai motif tumpeng
• Selendang berwarna merah tanpa motif yang dililit di badan penari
2. Tata Rias Tari Pendet
Tata rias pada dasarnya diperlukan untuk memberikan tekanan atau aksentuasi bentuk dan garis-garis muka sesuai dengan karakter tarian. Pada Tari Pendet ini menggunakan rias putri halus.
• Alat – alat tata rias yang dipakai dalam Tari Pendet adalah sebagai berikut:
• Susu Pembersih (cleaning milk) sesuai dengan jenis kulit.
• Penyegar (face tonic) fungsinya untuk menyegarkan kulit.
• Alas bedak (Foundation) antara lain: krayolan, ratu ayu, sari ayu, viva, ultima, latulip.
• Bedak tabur dan bedak padat (apabila dibutuhkan).
• Menggunakan eyeshadow warna kuning, merah dan biru berfungsi untuk mempertajam arsiran pada kelopak mata.
• Pensil alis warna hitam.
• Eyeliner sebagai penegas garis mata.
• Maskara dan Bulu mata.
• Blush on berwarna merah di pipi.
• Lipstik merah.
Pada Tari Pendet yang saya tonton ini sudah menggunakan rias pentas atau panggung. Tarian ini dipentaskan pada siang hari namun penggunaan eyeshadow terlalu gelap (penggunaan warna biru yang lebih dominan) sehingga bukan kesan indah yang di dapat melainkan kesan seram.
Hiasan kepala yang dipakai dalam Tari Pendet ini adalah :
• Rambut disasak, menggunakan pusung gonjer
• Menggunakan bunga kamboja ( jepun), bunga mawar merah dan bunga mas (bunga sandat dan semanggi. Masing – masing ditata dengan aturan yang berbeda yaitu:
• Bunga mawar diletakkan di tengah – tengah diantara bunga kamboja dan semanggi.
• Bunga kamboja (jepun) diletakkan melengkung dari atas telinga kanan sampai bersentuhan dengan bunga mawar merah.
• Bunga Semanggi diletakkan disebelah kiri , melengkung kebawah dengan cara menyelipkan tangkainya pada batu pusungan.
• Bunga Sandat disusun sepanjang susunan bunga jepun, tepatnya dibelakang bunga mawar merah dan bunga jepun.
• Menggunakan subeng.
Riasan kepala pada Tari Pendet yang saya tonton sudah sama seperti riasan Tari Pendet pada umumnya.
Propeti pada Tari Pendet
Penggunaan properti pada tari pendet yang saya tonton adalah menggunakan bokor yang pada pinggiran bokor tersebut di hiasi dengan ornamen janur (daun kelapa yang masih muda dan berwarna kuning). Ornamen janur bisa dihias dengan motif potongan yang sesuai dengan selera penggunanya. Ada yang menghias bagian tengah janur dengan potongan bermotif kotak, adapula yang memilih motif irisan berbentuk belah ketupat atau gabungan dari kedua motif tersebut.


(Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, Kesenian, )









***)bebagai sumber

Sabtu, 04 April 2015

TRADISI BUDAYA SENI SASANDO


SALAH satu faktor yang mempengaruhi lahirnya kebudayaan suatu daerah adalah struktur dan kondisi alam dari daerah itu. Hal ini juga tampak yang terjadi pada kebudayaan orang Rote tempat asal alat musik sasando. Keberadaan tanaman lontar di Pulau Rote cukup memberi arti bagi NTT karena dari pohon itu, ide membuat sasando muncul, karena itu pohon lontar sendiri sebagai peletak dasar kebudayaan masyarakat.
Masyarakat Rote sendiri tidak memanfaatkan tanaman ini sebagai sumber kehidupan, yaitu sebagai penghasil tuak, sopi (minuman tradisional), gula lempeng,gula air, gula semut, tikar, haik, sandal, topi atap rumah maupun bahan bangunan, tetapi lebih dari itu, masyarakat sudah menganggap tanaman ini memiliki nilai lebih karena sudah menginspirasi lahirnya alat musik sasando. Sampai sekarang daun pohon lontar ini masih tetap dipertahankan sebagai resonator alat musik ini.
Sasando yaitu alat musik yang ditemukan sejak abad 15.  sasando adalah sebuah alat instrumen petik musik. Bentuk sasando mirip dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola, dan kecapi. Tetapi keunikannya adalah bagian utama sasando berbentuk tabung panjang seperti harpa yang biasanya terbuat dari bambu. Sasando mempunyai media pemantul suara yang terbuat dari daun pohon gebang (sejenis pohon lontar yang banyak tumbuh di Pulau Timor dan Pulau Rote) yang dilekuk menjadi setengah melingkar.Sasando berbentuk tabung panjang yang biasanya terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah yang diberi ganjalan-ganjalan, di mana senar-senar (dawai-dawai) direntangkan di tabung dari atas ke bawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda pada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.
Cara memainkan alat musik ini yaitu dengan dipetik. Hampir sama dengan gitar atau harpa memang, hanya saja Sasando mempunyai bunyi yang merdu, khas dan unik. Selain memiliki ciri khas suara yang unik, Sasando juga memiliki khas lainnya yakni dari segi bahan pembuatannya. Sasando dibuta menggunakan bahan anyaman daun lontar dan bambu yang memiliki bentuk tabung panjang. Sedangkan dawainya terbuat dari bahan yang halus seperti senar string.
Meskipun cara memainkann hampir sama dengan alat musik petik sejenis, bukan berarti itu merupakan hal yang mudah. Diperlukan keterampilan dan skill khusus untuk bisa mahir memainkan Sasando, terutama keahlian dalam menguasai teknik dan keterampilan jari jemari untuk memetik dawai. Selain itu memainkannya harus menggunakan dua tangan dengan arah yang berlawanan. Tangan kanan berfungsi untuk memainkan akord, sedangkan tangan kiri berfungsi sebagai pengatur melodi dan bass. Jadi diperlukan tingkat konsentrasi dan fokus yang tinggi.
Sasando biasanya dimainkan untuk beberapa keperluan seperti untuk menyambut tamu penting, menghibur orang yang sedang berduka cita hingga sebagai pengiring untuk tarian serta upacara adat.
Jenis-Jenis Sasando
Sasando sendiri terdiri dari dua jenis yaitu Sasando Gong dan Sasando Biola. Sasando Gong ini pada awalnya hanya memiliki tujuh dawai atau tujuh nada, namun saat ini telah berkembang menjadi sebelas dawai. Sedangkan sasando Biola awalnya memiliki 30 dawai/nada, namun kini telah berkembang menjadi 32 dan 36 dawai. Dan bentuk Sasando Biola lebih besar karena menggunakan diameter bambu yang lebih besar.
Saat ini Sasando telah berkembang menjadi sebuah alat musik kontemporer yang bervariasi. Salah satu pengembangan dari Sasando tradisional adalah Sasando Elektrik (umumnya memiliki 30 dawai). Sasando jenis ini telah diberi sentuhan teknologi. Sehingga bunyi dari Sasando Elektrik ini dapat diperbesar melalui alat pengeras suara.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Kesenian, Tradisi, )



***)bebagai sumber

Kamis, 02 April 2015

TRADISI, BUDAYA SENI KOLINTANG MINAHASA SULAWESI UTARA

Kolintang merupakan alat musik khas dari Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Kolintang terbuat dari bahan dasar kayu, seperti kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya (jenis kayu yang agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya tersusun sedemikian rupa membentuk garis-garis sejajar). Bila dipukul kolintang dapat mengeluarkan bunyi yang rentang suara yang panjang, dapat mencapai nada-nada tinggi (high pitch note) maupun rendah (low pitch note).
Alat musik merdu yang tumbuh dan berkembang di Minahasa, Sulawesi Utara tersebut, berhasil dicatatkan ke dalam buku rekor dunia, The Guiness Book World of Records. Pada hari Sabtu (31/10.2009) lalu, musik kolintang beserta musik bambu lainnya dimainkan secara massal oleh lebih dari 3000 orang di Stadion Maesa, Tondano, Sulawesi Utara. Selain pertunjukan musik massal, juga dipamerkan perangkat kolintang dan musik bambu yang berukuran raksasa.
Sertifikat pengakuan dari Guiness World Records (GWR) diserahkan oleh perwakilan lembaga tersebut, Lucia Sinigagliesi, kepada penyelenggara acara, Benny J Mamoto, Direktur Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. Sertifikat selanjutnya diserahkan kepada Bupati Minahasa, Vreeke Runtu. Di dalam acara tersebut, Lucia Sinigagliesi mengungkapkan, hasil penelitian tim GWR yang berkantor di London, Inggris, menunjukkan bahwa instrumen, melodi, dan irama kolintang dan musik bambu di Indonesia belum ada yang menyamai di dunia. GWR mencatat kolintang dan musik bambu sebagai wujud seni tradisi yang menakjubkan dunia.
Alat musik khas Minahasa yang dalam dunia musik termasuk jenis xilofon kayu itu pada awalnya hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer di atas kedua kaki pemainnya dengan posisi duduk di tanah, dengan kedua kaki terbujur lurus ke depan. Dengan berjalannya waktu, kedua kaki pemain diganti dengan dua batang pisang, atau kadang-ladang diganti dengan tali, mirip alat musik arumba di Jawa Barat.
Penggunaan peti resonator seperti penampilan kolintang saat ini baru dimulai sekitar tahun 1830 saat Pangeran Diponegoro dibuang ke Minahasa. Konon, ketika dibuang ke Minahasa, Pangeran Diponegoro dan pengikutnya membawa serta perangkat alat musik gamelan, lengkap dengan gambangnya. Perangkat alat musik itu ditempatkan di kotak resonator. Hal itulah yang menginspirasi orang Minahasa untuk membuat kotak resonator bagi peralatan musik kolintang mereka.
Sesudah Perang Dunia II, barulah kolintang muncul kembali yang dipelopori oleh Nelwan Katuuk (seorang yang menyusun nada kolintang menurut susunan nada musik universal). Pada mulanya hanya terdiri dari satu Melody dengan susunan nada diatonis, dengan jarak nada 2 oktaf, dan sebagai pengiring dipakai alat-alat “string” seperti gitar, ukulele dan stringbas.
Tahun 1954 kolintang sudah dibuat 2 ½ oktaf (masih diatonis). Pada tahun 1960 sudah mencapai 3 ½ oktaf dengan nada 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Dasar nada masih terbatas pada tiga kunci (Naturel, 1 mol, dan 1 kruis) dengan jarak nada 4 ½ oktaf dari F s./d. C. Dan pengembangan musik kolintang tetap berlangsung baik kualitas alat, perluasan jarak nada, bentuk peti resonator (untuk memperbaiki suara), maupun penampilan.
Saat ini Kolintang yang dibuat sudah mencapai 6 (enam) oktaf dengan chromatisch penuh.
Demikian pula dengan teknik memukulkan stick pada bilah kolintang. Karena sesuai irama yang beraneka ragam, maka untuk menghasilkan irama tertentu maka teknik memukulkan stik pada tiap alat pun berbeda beda. Pada materi ini, diberikan teknik teknik dasar cara memukulkan stick pada kolintang. Untuk dapat memahami teknik, dibutuhkan pengetahuan akan harga dan jumlah ketukan dalam setiap bar nada. Dan berbekal pengetahuan dasar dasar bermain kolintang ini saja, ditambah dengan bakat individu, maka grup/ kelompok musik kolintang telah dapat memainkan berbagai jenis lagu dengan tingkat kesulitan yang variatif secara spontan.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter. Tradisi, Kesenian, )


***)berbagai sumber

Selasa, 10 Maret 2015

TARIAN TRADISIONAL TOR TOR SUMATERA UTARA


Indonesia negara yang tak kekurangan akan keragaman kebudayaan, beragam seni budaya muncul di negara yang akrab di sapa dengan negara seribu pulau ini. Salah satunya yaitu kesenian Tari Tortor. Kesenian Tari ini berasal dari  Sumatera utara tepatnya daerah Mandailing. Mirisnya seni tari ini sempat di klaim oleh negara tetangga yaitu Malaysia bahwa tari tortor akan menjadi milik mereka.
Tor - tor itu sendiri berasal dari suara yang di timbulkan oleh hentakan - hentakan kaki para penarinya saat mementaskan di atas alas papan kayu yang merupakan alas dari rumah adat batak. Tarian ini diiringa dengan iringan Gondang yang iramnya menghentak.

Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan dari pementasan    tari totor  adalah untuk upacara kematian, panen,penyembuhan dan pesta muda mudi di lain itu tarian ini juga mempunyai ritual yang harus dilalui terlebih dahulu sebelum memainkannya. Proses Ritual itu mengandung tiga pesan yaitu takut dan patuh kepada tuhan yang maha esa,kemudian yang kedua adalah pesan untuk para leluhur dang orang - orang yang di hormati.yang terakhir pesan diperuntukkan bagi khalayak ramai yang hadir saat upacara atau pementasan seni tari tortor diadakan.


Makna
tari tortor ini mengandung tiga makna selain untuk ritual juga untuk penyemangat jiwa,layaknya makanan untuk jiwa dan sebagai sarana hiburan.
Didalam pementaasannya  tari totor  selalu di iringi dengan Gondang  ,yang disebut dengan Gondang Sembilan ini menyesuaikan dengan jumlah gendang yang di mainkan. kekhususan dari Gendang ini adalah dengan ditabuh oleh kaum lelaki sambil dengan mendendangkan sebuah syair yang menceritakan sebuah sejarah,doa dan berkat,sebagai pelantunnya dinamakan dengan Maronang  onang.    (Budaya, tarian tradisional, Kesenian ,Tradisi  ).