Tampilkan postingan dengan label Karakter. Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karakter. Tradisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2015

TRADISI BUDAYA PERANG MALAM SUCI ACEH DARUSSALAM

Di Aceh, tepatnya di Gampong Meunasah Pupu, Kabupaten Pidie Jaya- para anak muda sibuk menyiapkan ‘amunisi perang’ untuk menyambut hari raya Idul Fitri. Mereka mengumpulkan tong atau drum bekas, karbit serta air yang kemudian disulutkan api dari ujung kayu ke lubang kecil dibelakang drum. Dan boooom! Ledakan keras pun menggelegar memeriahkan malam Idul Fitri, bersahutan dibalas oleh anak muda lainnya di kampung sebelah sehingga membuat malam semakin semarak. Mereka melakukan tradisi ini di persawahan yang jaraknya cukup jauh dari perumahan warga agar tidak mengganggu karena suaranya cukup bising.
Beberapa saat kemudian dari kejauhan juga terdengar suara dentuman serupa. Itu ledakan karbit yang dibakar anak-anak kampung lain. mereka menyiapkan lagi serangan balasan berupa suara yang lebih keras lagi agar tak bisa disaingi oleh "pasukan" desa lain.
Begitulah suasana perang karbit yang dilakoni sekelompok remaja pada malam lebaran Idul Fitri di Gampong Meunasah Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya yang mungkin pada setiap tahunnya.
Pesta meriam bambu dan karbit sudah menjadi tradisi warga Aceh dalam memeriahkan malam Lebaran. Selain bakar meriam bambu dan karbit, warga di sana juga memiliki tradisi takbir di meunasah-meunasah dan masjid untuk menghidupkan malam Idul Fitri yang sakral dan suci bagi umat muslim.
Anak muda di kampung-kampung biasanya menyiapkan meriam bambu atau drum karbit pada pekan terakhir Ramadan, untuk bekal malam lebaran. Warga menyumbang dana suka rela untuk kebutuhan beli karbit atau minyak tanah.
Tradisi meriam bambu pun kini beralih ke karbit. Orang bakar karbit kini lebih mudah dijumpai. Di Kecamatan Ulim misal, selain Gampong Pupu, anak muda di desa lain seperti Blang Usi, Nangroe Barat dan Meunasah Kumbang juga ikut perang karbit.
Uniknya pesta meriam di sini bukan hanya dilakukan laki-laki saja, tapi perempuan juga. Bahkan ibu-ibu ikut membawa kue atau kopi dari rumah untuk diberikan kepada para pembakar karbit.
Bakar meriam bambu dan karbit malam lebaran dipercaya sudah dilakoni anak-anak muda Aceh secara turun temurun. Tradisi ini sempat meredup saat memanasnya konflik Aceh, namun kembali hidup selepas kedua pihak berdamai.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter. Tradisi, upacara adat, )


***)Berbagai sumber

Kamis, 02 Juli 2015

BUDAYA & TRADISI PADUNGU POSO SULAWESI TENGAH

Di saat masa panen selesai, warga di Poso, Sulawesi Tengah menggelar hari raya panen. Warga lokal menyebutnya padungku. Padungku adalah sebuah ritual budaya sehari yang diadakan setahun sekali waktu selesai panen. Ritual budaya ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada tuhan atas berhasilnya panen.
Padungku diadakan di wilayah Poso Kota. Jalanan di wilayah Poso ramai melebihi hari raya keagamaan. Semua warga akan berpesta kunjung mengunjungi rumah ke rumah dengan suguhan khas nasi bambu inuyu, saguer lalu malam harinya ditutup dengan tarian dero.
Perayaan padungku sudah berlangsung di Poso sejak zaman dulu sebelum masyarakat belum mengenal agama. Padungku berasal dari bahasa pamona artinya semua sudah rapi atau sudah tuntas.
Menurut Bungatadi, warga Tagolu Poso dahulu padungku dilaksanakan para petani saja, dengan cara membawa padi yang pertama dipanen mereka untuk dimakan beramai-ramai di Baruga. Ritual ini pun harus melewati beberapa proses seperti para suami tak boleh kumpul dengan para isteri beberapa waktu sebelum panen tiba.
“Saat akan berpadungku. Semua akan sibuk mempersiapkan diri untuk menghidangkan para tamu makanan terbaik,” ungkap Bungatadi.
Saat ini padungku bukan hanya lagi dirayakan oleh petani saja. Padungku kini sudah milik semua warga Poso dengan semua pekerjaan. Kini oleh warga Poso padungku sudah mempunyai arti rasa syukur kepada tuhan atas rezeki yang telah diberikan kepada manusia.

(Adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter. Tradisi, upacara adat, )



Minggu, 28 Juni 2015

NGALAPIN “UPACARA SYUKURAN PANEN

Sebagai bentuk rasa syukur atas telah tibanya panen raya bagi petani, khususnya bagi masyarakat ummat Hindu-Bali di Lombok dilakukan upacara adat “Ngalapin”. Upacara Ngalapin ini sendiri dilakukan serangkaian panen raya padi bibit unggul “Bestari” yang merupakan bibit hasil produk dari temuan penelitian Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Indonesia, di area Kelompok Tani Kembang Sari, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram.
Upacara Ngalapin ini merupakan upacara tradisonal khususnya ummat Hindu-Bali yang ada di Pulau Lombok. Latar belakang budaya dan letak geografis yang berdekatan antara Pulau Bali dan Pulau Lombok telah melahirkan persamaan adat dan budaya keseharian masyarakatnya hyang tidak jauh beda bahkan terdapat kesamaan dalam hal traadisi dan Budaya.
Yang menarik slogan yang menyebutkan, “Jika di Lombok anda bisa melihat Bali, tapi sebaliknya di Bali anda tak bisa melihat Lombok”. Perumpaan tersebut ada benarnya, mengingat di Lombok suku kedua terbesar adalah suku Bali, yang mana dalam adat dan tradisi dan budaya lainnya bisa dilihat langsung di Pulau Lombok yang dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid.
Upacara Ngalapin merupakan wujud dan cerminan rasa syukur kepada Sang Hyang Dewi Laksmi yang merupakan dewa kemakmuran mereka, atas hasil panen masyarakat petani yang diperoleh. Upacara ini juga sekaligus dimaknai agar hasil panen berikutnya bisa mendapatkan hasil yang melimpah, melebihi dari hasil panen sebelumnya.
Upacara Ngalapin ini dipimpin oleh Jero Mangku Jaya seraya. Dalam pelaksanaan upacara Ngalapin ini diiringi bunyi-bunyian tetabuhan gamelan Bali yang terbuat dari gerantangan bamboo dengan suara yang mendayu-dayu seiring dengan tiupan angin semilir yang berhembus di persawahan petani. “Kita berharap agar tradisi ini jangan sampai ditinggal oleh generasi berikutnya, karena upacara ini merupakan tekad rasa syukur kita kepada Dewa Kemakmuran yang telah memberikan hasil pertanian yang melimpah,” demikian Jero Mangku Jaya sderaya.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter. Tradisi, upacara adat, )


Sabtu, 11 April 2015

TRADISI BUDAYA MEGOAK-GOAKAN DI BALI


Permainan tradisional Magoak-goakan sebuah  tradisi atau budaya di desa Pakraman Panji, Kabupaten Buleleng. Tradisi budaya tersebut masih berkembang lestari sampai sekarang, menjadi sebuah permainan tradisional yang digelar pada saat hari raya Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi), diilhami dari strategi burung gagak untuk mengincar mangsanya, kemudian memberikan inspirasi kepada raja Ki Barak Panji Sakti, mengajak pasukannya untuk bermain permainan burung gagak ini, pada saat permainan sang raja menjadi goaknya dan komandan narapraja diminta menjadi pemimpin barisannya, sang Raja (goak) dengan gesitnya bisa memperdaya pasukan dan bisa menangkap ekor (pemain yang terakhir).
Dalam ketentuan permainan Magoak-goakan si pemenang dalam hal ini sang raja berhak meminta sesuatu, dan raja meminta Blambangan sebagai bagian kerajaan Jagarga, barisan terpengarah, permintaan harus terpenuhi, kemudian secara kompak seluruh anggota barisan narapraja bersorak dan akan memenuhi keinginan sang raja (si Goak) untuk menaklukkan daerah Blambangan sehingga menjadi daerah kekuasaan Buleleng. Tujuan sebenarnya adalah membangun dan mengobarkan semangat juang pasukannya melawan musuhnya kala itu yaitu kerajaan Blambangan.
 Permainan ini bisa dilakukan perorangan maupun beregu, kalau perorangan salah seorang menjadi goak dan yang lainnya membentuk regu seperti barisan seperti  ular, barisan ular ini memegang pinggang didepannya erat-erat agar tak terlepas. Sedangkan beregu masing-masing terdiri minimal 5 orang, atau semakin banyak akan semakin seru. Permainan boleh dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan, bisa juga campuran, usiapun tidak terbatas baik anak-anak maupun dewasa, lebih adil jika sebaya dan jenis kelamin yang sama. Biasanya seseorang yang dianggap paling kuat dan besar menjadi kepala barisan. Seseorang dari regu lawan atau perorangan menjadi goak, agar bisa menangkap pemain paling buntut (ekor ular) secepatnya, jika dalam waktu yang ditentukan tidak bisa tertangkap maka sang Goak dianggap kalah.

Apa itu Megoak-Goakan ?
Megoak-Goakan adalah salah satu bukti kekayaan budaya dan tradisi di Bali yang masih dipertahankan kelestariannya sampai saat ini. Megoak-Goakan merupakan tarian tradisional rakyat khususnya khas Desa Panji yang biasanya dipentaskan menjelang Hari Raya Nyepi tiba.
Nama Megoak-Goakan sendiri diambil dari nama burung gagak (Goak yang gagah) yang terilhami ketika melihat burung ini tengah mengincar mangsanya. Kegiatan Megoak-Goakan sendiri merupakan pementasan ulang dari sejarah kepahlawanan Ki Barak Panji Sakti yang dikenal sebagai Pahlawan Buleleng Bali ketika menaklukan Kerajaan Blambangan di Jawa Timur.

Secara turun-temurun Megoak-Goakan konsisten terus dilaksanakan dan dijaga kelestariannya sampai kini. Ketika merayakan acara Megoak-Goakan ini suasana kekeluargaan dan kegembiraan warga yang merayakannya akan sangat terasa sekali. Meskipun tak jarang para peserta yang melakukannya harus jungkir-balik karena memang arena yang dipakainya miring, namun sama sekali tak mengendurkan semangat dan antusiasme warga yang mengikutinya.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter. Tradisi, Kesenian, )

***)berbagai sumber

Kamis, 02 April 2015

TRADISI, BUDAYA SENI KOLINTANG MINAHASA SULAWESI UTARA

Kolintang merupakan alat musik khas dari Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Kolintang terbuat dari bahan dasar kayu, seperti kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya (jenis kayu yang agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya tersusun sedemikian rupa membentuk garis-garis sejajar). Bila dipukul kolintang dapat mengeluarkan bunyi yang rentang suara yang panjang, dapat mencapai nada-nada tinggi (high pitch note) maupun rendah (low pitch note).
Alat musik merdu yang tumbuh dan berkembang di Minahasa, Sulawesi Utara tersebut, berhasil dicatatkan ke dalam buku rekor dunia, The Guiness Book World of Records. Pada hari Sabtu (31/10.2009) lalu, musik kolintang beserta musik bambu lainnya dimainkan secara massal oleh lebih dari 3000 orang di Stadion Maesa, Tondano, Sulawesi Utara. Selain pertunjukan musik massal, juga dipamerkan perangkat kolintang dan musik bambu yang berukuran raksasa.
Sertifikat pengakuan dari Guiness World Records (GWR) diserahkan oleh perwakilan lembaga tersebut, Lucia Sinigagliesi, kepada penyelenggara acara, Benny J Mamoto, Direktur Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. Sertifikat selanjutnya diserahkan kepada Bupati Minahasa, Vreeke Runtu. Di dalam acara tersebut, Lucia Sinigagliesi mengungkapkan, hasil penelitian tim GWR yang berkantor di London, Inggris, menunjukkan bahwa instrumen, melodi, dan irama kolintang dan musik bambu di Indonesia belum ada yang menyamai di dunia. GWR mencatat kolintang dan musik bambu sebagai wujud seni tradisi yang menakjubkan dunia.
Alat musik khas Minahasa yang dalam dunia musik termasuk jenis xilofon kayu itu pada awalnya hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer di atas kedua kaki pemainnya dengan posisi duduk di tanah, dengan kedua kaki terbujur lurus ke depan. Dengan berjalannya waktu, kedua kaki pemain diganti dengan dua batang pisang, atau kadang-ladang diganti dengan tali, mirip alat musik arumba di Jawa Barat.
Penggunaan peti resonator seperti penampilan kolintang saat ini baru dimulai sekitar tahun 1830 saat Pangeran Diponegoro dibuang ke Minahasa. Konon, ketika dibuang ke Minahasa, Pangeran Diponegoro dan pengikutnya membawa serta perangkat alat musik gamelan, lengkap dengan gambangnya. Perangkat alat musik itu ditempatkan di kotak resonator. Hal itulah yang menginspirasi orang Minahasa untuk membuat kotak resonator bagi peralatan musik kolintang mereka.
Sesudah Perang Dunia II, barulah kolintang muncul kembali yang dipelopori oleh Nelwan Katuuk (seorang yang menyusun nada kolintang menurut susunan nada musik universal). Pada mulanya hanya terdiri dari satu Melody dengan susunan nada diatonis, dengan jarak nada 2 oktaf, dan sebagai pengiring dipakai alat-alat “string” seperti gitar, ukulele dan stringbas.
Tahun 1954 kolintang sudah dibuat 2 ½ oktaf (masih diatonis). Pada tahun 1960 sudah mencapai 3 ½ oktaf dengan nada 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Dasar nada masih terbatas pada tiga kunci (Naturel, 1 mol, dan 1 kruis) dengan jarak nada 4 ½ oktaf dari F s./d. C. Dan pengembangan musik kolintang tetap berlangsung baik kualitas alat, perluasan jarak nada, bentuk peti resonator (untuk memperbaiki suara), maupun penampilan.
Saat ini Kolintang yang dibuat sudah mencapai 6 (enam) oktaf dengan chromatisch penuh.
Demikian pula dengan teknik memukulkan stick pada bilah kolintang. Karena sesuai irama yang beraneka ragam, maka untuk menghasilkan irama tertentu maka teknik memukulkan stik pada tiap alat pun berbeda beda. Pada materi ini, diberikan teknik teknik dasar cara memukulkan stick pada kolintang. Untuk dapat memahami teknik, dibutuhkan pengetahuan akan harga dan jumlah ketukan dalam setiap bar nada. Dan berbekal pengetahuan dasar dasar bermain kolintang ini saja, ditambah dengan bakat individu, maka grup/ kelompok musik kolintang telah dapat memainkan berbagai jenis lagu dengan tingkat kesulitan yang variatif secara spontan.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter. Tradisi, Kesenian, )


***)berbagai sumber

Minggu, 15 Maret 2015

UPACARA TARIK BATU DI TANA TORAJA


Masyarakat Tana Toraja , upacara tarik batu sebagai bagian dari tradisi menghormati leluhur. Di Tana Toraja, obyek megalitik yang ditarik adalah batu monolit calon sebuah menhir, yang didirikan sebagai representasi (simbol) si mati.
Bahan batu diperoleh dengan cara penggalian di tempat tertentu di Tana Toraja dan Sumba Barat, yang memang kaya akan berbagai jenis batuan. Setelah menemukan sumber batuan yang tepat, beberapa pekerja akan menatah dan memahat batu tersebut di tempat aslinya sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Pemahatan sebuah batu menjadi menhir di Tana Toraja relatif lebih sederhana dibanding pemahatan sebuah batu kubur di Sumba Barat yang bisa memakan proses berbulan-bulan sampai membentuk batu kubur yang indah. Lamanya pengerjaan memahat menhir maupun batu kubur tergantung besar kecilnya ukuran dan pola hiasnya. Setelah pembuatan menhir atau kubur batu selesai, langkah selanjutnya adalah penarikan batu dari lokasi asal menuju rante di Tana Toraja.
Prosesi penarikan menhir maupun kubur batu dari tempat asal menuju lokasi baru merupakan fenomena yang sangat menarik. Ratusan atau bahkan ribuan orang bekerja secara gotong royong menarik batu yang beratnya bisa mencapai puluhan ton. Mereka bekerja tanpa imbalan uang, namun penyelenggara upacara berkewajiban menyediakan konsumsi makanan selama upacara berlangsung dan menyediakan hadiah daging bagi para penarik batu.
Tarik batu di Tana Toraja
Orang Toraja percaya, bahwa sebelum resmi dimakamkan, orang yang telah meninggal dianggap sakit dan dibaringkan dalam tempat tidur. Jenazah kemudian disuntik formalin agar tidak membusuk, dimasukkan dalam peti mati dan disimpan di kamar. Setelah beberapa waktu, jenazah baru “dikuburkan”. Upacara penguburan, yang disebut rambu solok merupakan hal yang sangat penting dalam siklus kehidupan warga Toraja yang terkesan mewah dan eksotis. Solok memiliki arti harafiah matahari yang condong ke barat. Hal ini berarti, upacara rambu solok hanya boleh dilaksanakan setelah jam duabelas siang, saat matahari mulai condong ke barat, sebagai lambang dari kematian. Orang Toraja menganggap, seseorang telah benar-benar meninggal apabila telah dilaksanakan upacara rambu solok untuk menyempurnakan perjalanan arwah si mati ke alam baka yang kekal.
Batu yang tinggi dan panjang dari pegunungan di Tana Toraja, adalah batu yang cocok dibuat menhir. Sekali batu dipilih, keramatpun segera masuk ke dalamnya. Ada batu yang secara alami langsung dijadikan menhir tanpa proses lanjut, namun ada juga yang harus dipahat dan dihaluskan di lokasi asal sebelum ditarik ke rante. Saat upacara tarik batu (meriuk batu) hampir seluruh kerabat dan warga desa terlibat dalam acara tarik batu yang dipimpin oleh seorang pemangku adat. Kerbau pun segera disembelih, darahnya ditampung pada bambu, dan dipercikkan pada batu yang akan ditarik. Ini adalah simbol meminta ijin pada roh sang penguasa batu sekaligus memberi “jiwa” pada batu, agar batu dapat ditarik dengan lancar.
Diletakkan di atas landasan kayu yang bergulir, prosesi pendirian menhirpun segera dimulai. Batu kemudian ditarik para lelaki secara bergantian, dalam formasi barisan. Jumlah penarik batu tergantung ukuran batu, semakin besar dan berat batu yang ditarik, semakin banyak pula jumlah tenaga yang dibutuhkan. Sepanjang perjalanan, iring-iringan penarik batu meneriakkan yel-yel pembangkit semangat yang biasanya berupa nyanyian atau syair-syair. Para wanita mengiringi rombongan penarik batu sambil membagikan minuman dan makanan kecil.
Sebagai gambaran, tarik batu menhir berukuran kecil yang berbobot kurang dari 3 ton dapat dilakukan oleh sekitar dua ratus orang dalam waktu 2 jam sejauh 3 km. Sesampainya menhir di rante, batu kemudian ditanam secara berdiri. Pemimpin upacara melayangkan doa dan meresmikan batu tersebut sebagai menhir (simbuang) orang yang diupacarakan. Sang pendiri akan kekal menyatu dengan menhir. Keberadaan menhir simbuang sangat penting dalam suatu proses daur hidup manusia Toraja dan merupakan simbol status sosial, yang jelas menunjukkan kelas bangsawan orang yang mendirikan dan memiliki menhir tersebut. Batu tegak itu adalah pesan leluhur kepada para keturunannya di Tanah Toraja, bumi sang orang-orang gunung, yang akan tetap hidup subur di setiap sanubari.

Dalam suatu kepercayaan Toraja, tidak jarang orang yang masih hidup sudah memilih batu untuk dijadikan menhir pada saat upacara penguburannya, karena dia menginginkan menhir terbaik yang dapat merefleksikan dirinya. Berbeda dari daerah Sumba Barat, acara pembagian daging di Toraja dilakukan sebelum acara tarik batu. Dari bala’kaan, Tominaa membagi daging secara tradisional yang merupakan simbol penegasan hubungan darah. Sehingga tujuan pembagian daging adalah untuk mempertegas silsilah atau memperkenalkan hubungan kekerabatan atau mengingatkan asal dan ikatan kekeluargaan mereka.    (upacara adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter. Tradisi)

Jumat, 06 Maret 2015

BUDAYA DAN TRADISI TARI JAIPONG JAWABARAT


Jaipongan adalah sebuah genre kesenian yang lahir dari kreativitas seorang seniman Bandung, yakni Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu membuat seorang Gugum Gumbira mengetahui dan mengenal betul perbendaharaan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kiliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, Pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak minced dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.
Namun sebelum bentuk seni pertunjukkan itu muncul ada pengaruh yang melatar belakangi bentuk dari pergaulan tersebut. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukkan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan Ronggeng dan Pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan Ronggeng dalam seni pertunjukkan memilki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini popular sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukkan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur yang sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk dar goong. Demikian pula dengar gerak-gerak tarinya yang tidaN memiliki pola gerak yang baku kostum penari yang sederhanz sebagai cerminan kerakyatan.
Seiring dengar rnemudarnya jenis kesenian d atas, mantan pamogorar (penonton yang berperan akti dalam seni pertunjukkan Ketuk Tilu/Doper/Tayub), beralih perhatiannya pada seni pertunjukkan Kiliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Purwakarta, Bekasi, Indramayu dan Subang) dikenal dengan sebutan Kiliningar, Bajidoran yang pola ibingnya maupun peristiwa pertunjukkannya mempunyai kemiripan dengar kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, dimana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian Topeng Banjet ini. Secara koreografi tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) dimana terdapat gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan_ Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.
Kemunculan tarian hasil karya Gugum Gumbira pada awalanya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tiiu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi popular dengan sebutan Jaipongan.
Karya Jaipongan pertama yang dikenal oleh masyarakat adalah tari Daun Pufus Keser Bojong dan tari Rendeng Bojong, yang keduanya merupakan jenis tai putrid dan berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali dan Pepen Dedi Kurnaedi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, dimana isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dart vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah Tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI Stasiun Pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukkan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.
Kehadiran Tari Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggarap seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya Tarl Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni taxi unttuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan dan dimanfaatkan pula oleh pengusaha-pengusaha Pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacarn ini dibentuk oleh para penggiat taxi sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tan atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya kaleran.
Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas dan kesederhanaan (alami/apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian taxi pada pertunjukkannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada Seni jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya Kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini sebagai berikut : 1) Tatalu ; 2) Kembang Gadung 3) Buah Kawung Gopar ; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinde Tatandakan (seorang Sinden tetapi tidak menyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukkan ketika para penonton (Bajidor) sawer uang (Jabanan) sambil salam temple. Istilah Jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).
Perkembangan selanjutnya dari Jaipongan terjadi pada tahun 1980-1990-an, dimana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Man gut, Iring-firing Daun Puring, Rawayan dan Tari Kawung Anten. Dari tari­tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepi, Agah, Aa Suryabrata dan Asep Safaat.

Dewasa ini Tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas kesenian Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara­acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan Tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke mancanegara senantiasa dilengkapi dengan Tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukkan wayang, degung, genjring/terebangan. kacapi jaipong dan hampir semua pertunjukkan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.           (Budaya, Karakter. Tradisi, Tokoh, )

Rabu, 04 Maret 2015

PULAU DEWATA PULAUNYA BALI

Pulau seribu pura ya disini tempatnya.   Liburan ke pulau dewata, Bali, tidak lengkap rasanya jika belum mengunjungi Kawasan Bedugul. Kawasan yang merupakan ciri khas Tabanan dengan menawarkan keindahan alam pegunungan dan danau. Suasana yang dingin dan jauh dari hiruk pikuk dan hingar bingar aktifitas manusia seperti kawasan Kuta. Kawasan ini menjadi lokasi favorit bagi pengunjung bukan hanya karena pemandangannya yang indah, tapi juga hawanya yang sejuk khas suasana dataran tinggi. Uniknya, kawasan Bedugul tidak hanya memiliki satu objek wisata saja, tapi ada beberapa yang sayang untuk saya lewatkan setelah hari sebelumnya mengitari pantai-pantai di kawasan Pecatu. 
Benarlah Bali disebut sebagai Pulau Dewata.melihat ketaatan masyarakat Bali dalam beribadah, di mana setiap rumah memiliki tempat sembahyang, setiap toko atau tempat usaha menyediakan canang di depan tempat usaha mereka, banyak pura di antara lokasi perumahan atau tempat usaha dan kepatuhan mereka melaksanakan upacara ibadah keagamaan mereka.
Lalu masyarakat Bali adalah orang-orang yang sangat open minded tapi tetap teguh memegang budaya warisan leluhur mereka sebagai ciri kkas  yang dibanggakan. Terlihat dari bentuk rumah mereka yang tetap mempertahankan bentuk rumah adat Bali, pakaian yang mereka kenakan dalam upacara-upacara adat, hidup mereka yang terlihat teratur dengan sesama dan alam, kreativitas mereka dalam seni, cara mereka menyambut orang-orang yang datang ke Bali, bahkan mereka terlihat merasa tidak terganggu dengan kunjungan wisatawan di lokasi peribadahan mereka, mereka tetap khusyuk melakukan sembahyang walaupun diamati oleh banyak orang asing.
Bali juga punya jenis wisata yang komplit, dari wisata bahari, religi, budaya, belanja, olah raga, kuliner dan banyak lagi. Bahkan di setiap sudut pulau Bali punya sesuatu yang konsisten yang memperlihatkan ciri khas Bali.  Ini cerminan kreativitas dan harmonisasi hidup orang Bali.
Ciri khas masyarakat  Bali menjalani keseharian mereka dengan ketulusan dan penuh kasih, sehingga semua orang yang datang bisa merasakan itu dan senang dengan kehidupan di Bali.

 (Budaya, Ciri Khas, Identitas, Karakter. Tradisi)