Wayang Gong adalah seni pertunjukan sejenis wayang orang. Pertunjukan ini mengangkat cerita dari pakem Ramayana versi Banjar. Wayang ini dimainkan dengan pengolahan vokal pemain dan ditambah basik tari dalam lakon yang terdiri dari beberapa tilisasi. Tak hanya itu, pemain diiringi musik gamelan, elemen dramatik dan kating tari yang diiringi bunyi tambahan seperti ketopong yang membuatnya makin khas. Para pemain dirias sebagaimana layaknya tokoh yang ada di dalam kisah Ramayana.
Dahulu kesenian ini sering dimainkan saat acara adat dan seni pertunjukan sosial kemasyarakatan seperti Mawlid Nabi, saprah amal, hajatan hingga nazar pasca panen padi. Namun sekarang sudah jarang dimainkan.
Beruntung masih ada salah satu sanggar seni yang masih eksis memainkan kesenian ini walaupun insidential. Sanggar seni Ading Bastari, Barikin (HST) yang di pimpin A.W. Syarbaini lah yang membuat kesenian ini masih bertahan, walaupun dalam kondisi yang tak memungkinkan.
Saat itu Wayang gong dimainkan semalaman suntuk, sama halnya dengan wayang kulit banjar. Setiap lakon atau tokoh biasanya disertai dengan menambang atau nembang yang dibawakan oleh sinden. Sekarang agar tidak ditinggal oleh para penontonnya, permainan dipersingkat hingga sekitar 3 atau 4 jam saja. Pada Wayang Gong, sekitar 10 orang yang memainkan alat musik tradisional, yang terdiri dari babun, gong besar dan kecil, sarun besar dan kecil, kenong dan lima alat.
Pada saat memulai pertunjukan, terlebih dahulu dilakukan mamucukani, yakni tiga dalang membuka pagelaran untuk menyampaikan cerita apa yang akan dimainkan. Layaknya seperti sinetron di televisi, dari pemain utama hingga pemain pendukung disampaikan lebih dahulu kepada penonton.
Saat ini hanya sanggar seni Ading Bastari yang memainkan kesenian wayang gong ini, karena saat ini nyaris tidak ada lagi sanggar seni lain yang memainkan salah satu kesenian tertua ini. Kalaupun ada, hanya dilakukan dengan cara bon. Artinya para pemain diambil dari berbagai kelompok seni daerah dengan sistem cabutan. Misalnya mengambil pemain dari kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tapin.
Untuk itu perlu diadakan upaya untuk melestarikan kebudayaan ini.
Dalam jangka Pendek, bisa dengan melakukan pendidikan dan pelatihan sistematik generasi muda dengan narasumber tokoh yang masih ada sekarang ini. Membuat proyek pembinaan kesenian sebagai program lanjutan pendidikan serta membuat wadah khusus berupa balai seni ditiap kota atau kabupaten di Kalimantan Selatan.
Dalam jangka panjang bisa dilakukan dengan cara merancang kemasan baru dalam pagelaran seni wayang gong dalam hal ini bisa dilakukan dengan cara tumbuh dan berkembang berupa diklat wayang gong bagi anak-anak dan remaja.
Nah, sekarang nasib kesenian daerah ada ditangan kita para generasi muda. Apakah kesenian tersebut akan kehilangan peminat dan hilang dari permukaan, atau kesenian tersebut akan kembali berjaya dengan penanggulangan dini.
Budaya yang besar mencerminkan betapa besar pula peradaban masyarakatnya.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Kesenian, Tradisi,)
Selasa, 30 Juni 2015
Senin, 29 Juni 2015
RUWATAN RAMBUT GIMBAL DIENG JAWA TENGAH
Di Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) ada tradisi rutin tiap tahunnya yang sangat menarik yaitu upacara ruwatan cukur rambut gimbal pada anak-anak. Acara tahunan yang cukup terkenal di mancanegara ini berisikan sebuah upacara ruwatan sebelum anak-anak yang berambut gimbal itu dicukur. Menurut kepercayaan setempat diadakannya acara ruwatan ini berkaitan dengan legenda Kyai Kolodete yang merupakan cikal bakal pendiri Kabupaten Wonosobo yang konon selalu mengadakan upacara ruwatan terlebih dahulu sebelum mencukur anak-anak yang berambut gimbal karena konon anak-anak yang berambut gimbal dianggap bisa membawa musibah di kemudian hari, tapi bila diruwat anak-anak itu dipercaya dapat mendatangkan rezeki. Disamping itu, bila anak yang dicukur tidak melakukan ruwatan terlebih dahulu maka rambut yang akan tumbuh setelah dicukur akan tetap gimbal dan lagi anak tersebut bisa sakit-sakitan.
Waktu upacara itu sendiri dilakukan berdasarkan weton (hari kelahiran sang anak) sedangkan pelaksanaan upacara dihitung berasarkan neptu (nilai kelahiran anak yang akan diruwat) dengan persiapan khusus seperti tempat upacara dan benda-benda sesaji. Sesaji yang biasanya disiapkan untuk upacara ini sendiri antara lain tumpeng, ingkung ayam (ayam besar utuh), gunting, mangkuk dan air berisi bunga setaman, beras, 2 buah uang, payung, tumpeng putih dengan dihiasi buah-buahan yang ditancapkan, jajanan pasar serta 15 jenis minuman, seperti kopi manis dan pahit, teh manis dan pahit, selasih, susu, jawawut dan permintaan anak yang diruwat. Tempat upacaranya sendiri adalah di Goa Semar yang terletak diarea obyek wisata Telaga Warna.
Acara ruwatan ini mula-mula dibuka dengan sambutan oleh salah satu pelaksana upacara. Kemudian setelah sambutan-sambutan selesai maka prosesi upacara pun dimulai. Dengan diiringi bebunyian gamelan sang dukun mulai memandikan anak yang akan dicukur rambutnya. Air yang dipakai oleh sang dukun untuk memandikan anak yang akan dicukur ini sendiri diambil dari mata air yang dianggap bertuah di Dataran Tinggi Dieng. Kemudian setelah dimandikan maka disiapkanlah sesaji-sesaji yang akan dipakai dalam prosesi upacara ruwatannya yakni tumpeng putih dengan dihiasi buah-buah yang ditancapkan, hal ini menggambarkan rambut gimbal. Tumpeng dianggap kepala sedangkan untaian buah-buahan sebagai rambut gimbalnya. Lalu ada ayam kampung yang telah digoreng (bakakak), jajanan pasar serta 15 jenis minuman, seperti kopi manis dan pahit, teh manis dan pahit, selasih, susu, jawawut, dan sebagainya.
Setelah segala sesaji untuk upacara telah lengkap semua maka sang dukun pun memanjatkan doa untuk kemudian mengasapi kepala sang anak yang akan dicukur dengan asap kemenyan yang telah didoakan tadi. Selanjutnya barulah sang dukun memotong rambut gimbal anak tersebut dengan sebelumnya memasukkan cincin yang dianggap magis ke tiap helai rambut gimbal lalu mencukurnya satu-satu.
Rambut-rambut yang telah dipotong tadi kemudian dibungkus dengan kain putih dan lalu dilarung ke Telaga Warna atau sungai yang ada di Dieng.
Seiring dengan dilarungnya rambut gimbal ke sungai atau ke Telaga Warna dengan ini maka berakhirlah acara prosesi upacara ruwatan
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
Waktu upacara itu sendiri dilakukan berdasarkan weton (hari kelahiran sang anak) sedangkan pelaksanaan upacara dihitung berasarkan neptu (nilai kelahiran anak yang akan diruwat) dengan persiapan khusus seperti tempat upacara dan benda-benda sesaji. Sesaji yang biasanya disiapkan untuk upacara ini sendiri antara lain tumpeng, ingkung ayam (ayam besar utuh), gunting, mangkuk dan air berisi bunga setaman, beras, 2 buah uang, payung, tumpeng putih dengan dihiasi buah-buahan yang ditancapkan, jajanan pasar serta 15 jenis minuman, seperti kopi manis dan pahit, teh manis dan pahit, selasih, susu, jawawut dan permintaan anak yang diruwat. Tempat upacaranya sendiri adalah di Goa Semar yang terletak diarea obyek wisata Telaga Warna.
Acara ruwatan ini mula-mula dibuka dengan sambutan oleh salah satu pelaksana upacara. Kemudian setelah sambutan-sambutan selesai maka prosesi upacara pun dimulai. Dengan diiringi bebunyian gamelan sang dukun mulai memandikan anak yang akan dicukur rambutnya. Air yang dipakai oleh sang dukun untuk memandikan anak yang akan dicukur ini sendiri diambil dari mata air yang dianggap bertuah di Dataran Tinggi Dieng. Kemudian setelah dimandikan maka disiapkanlah sesaji-sesaji yang akan dipakai dalam prosesi upacara ruwatannya yakni tumpeng putih dengan dihiasi buah-buah yang ditancapkan, hal ini menggambarkan rambut gimbal. Tumpeng dianggap kepala sedangkan untaian buah-buahan sebagai rambut gimbalnya. Lalu ada ayam kampung yang telah digoreng (bakakak), jajanan pasar serta 15 jenis minuman, seperti kopi manis dan pahit, teh manis dan pahit, selasih, susu, jawawut, dan sebagainya.
Setelah segala sesaji untuk upacara telah lengkap semua maka sang dukun pun memanjatkan doa untuk kemudian mengasapi kepala sang anak yang akan dicukur dengan asap kemenyan yang telah didoakan tadi. Selanjutnya barulah sang dukun memotong rambut gimbal anak tersebut dengan sebelumnya memasukkan cincin yang dianggap magis ke tiap helai rambut gimbal lalu mencukurnya satu-satu.
Rambut-rambut yang telah dipotong tadi kemudian dibungkus dengan kain putih dan lalu dilarung ke Telaga Warna atau sungai yang ada di Dieng.
Seiring dengan dilarungnya rambut gimbal ke sungai atau ke Telaga Warna dengan ini maka berakhirlah acara prosesi upacara ruwatan
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
Minggu, 28 Juni 2015
NGALAPIN “UPACARA SYUKURAN PANEN
Sebagai bentuk rasa syukur atas telah tibanya panen raya
bagi petani, khususnya bagi masyarakat ummat Hindu-Bali di Lombok dilakukan
upacara adat “Ngalapin”. Upacara Ngalapin ini sendiri dilakukan serangkaian
panen raya padi bibit unggul “Bestari” yang merupakan bibit hasil produk dari
temuan penelitian Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Indonesia, di area
Kelompok Tani Kembang Sari, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota
Mataram.
Upacara Ngalapin ini merupakan upacara tradisonal
khususnya ummat Hindu-Bali yang ada di Pulau Lombok. Latar belakang budaya dan
letak geografis yang berdekatan antara Pulau Bali dan Pulau Lombok telah
melahirkan persamaan adat dan budaya keseharian masyarakatnya hyang tidak jauh
beda bahkan terdapat kesamaan dalam hal traadisi dan Budaya.
Yang menarik slogan yang menyebutkan, “Jika di Lombok
anda bisa melihat Bali, tapi sebaliknya di Bali anda tak bisa melihat Lombok”.
Perumpaan tersebut ada benarnya, mengingat di Lombok suku kedua terbesar adalah
suku Bali, yang mana dalam adat dan tradisi dan budaya lainnya bisa dilihat
langsung di Pulau Lombok yang dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid.
Upacara Ngalapin merupakan wujud dan cerminan rasa syukur
kepada Sang Hyang Dewi Laksmi yang merupakan dewa kemakmuran mereka, atas hasil
panen masyarakat petani yang diperoleh. Upacara ini juga sekaligus dimaknai
agar hasil panen berikutnya bisa mendapatkan hasil yang melimpah, melebihi dari
hasil panen sebelumnya.
Upacara Ngalapin ini dipimpin oleh Jero Mangku Jaya
seraya. Dalam pelaksanaan upacara Ngalapin ini diiringi bunyi-bunyian tetabuhan
gamelan Bali yang terbuat dari gerantangan bamboo dengan suara yang
mendayu-dayu seiring dengan tiupan angin semilir yang berhembus di persawahan
petani. “Kita berharap agar tradisi ini jangan sampai ditinggal oleh generasi
berikutnya, karena upacara ini merupakan tekad rasa syukur kita kepada Dewa
Kemakmuran yang telah memberikan hasil pertanian yang melimpah,” demikian Jero
Mangku Jaya sderaya.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Karakter. Tradisi, upacara adat, )
Sabtu, 27 Juni 2015
TARIAN GANDUT BANJAR
Tari Gandut ini pada mulanya hanya dimainkan di
lingkungan istana kerajaan, baru pada kurang lebih tahun 1860-an tari ini
berkembang ke pelosok kerajaan dan menjadi jenis kesenian yang disukai oleh
golongan rakyat biasa. Tari ini dimainkan setiap ada keramaian, misalnya acara
malam perkawinan, hajad, pengumpulan dana kampung dan sebagainya.
Gandut merupakan profesi yang unik dalam masyarakat dan
tidak sembarangan wanita mampu menjadi Gandut. Selain syarat harus cantik dan
pandai menari, seorang Gandut juga wajib menguasai seni bela diri dan
mantera-mantera tertentu. Ilmu tambahan ini sangat penting untuk melindungi
dirinya sendiri dari tangan-tangan usil penonton yang tidak sedikit ingin
memikatnya memakai ilmu hitam. Dahulu banyak Gandut yang diperistri oleh para
bangsawan dan pejabat pemerintahan, disamping paras cantik mereka juga diyakini
memiliki ilmu pemikat hati penonton yang dikehendakinya. Nyai Ratu Komalasari, permaisuri
Sultan Adam adalah bekas seorang penari Gandut yang terkenal.
Pada masa kejayaannya, arena tari Gandut sering pula
menjadi arena persaingan adu gengsi para lelaki yang ikut menari. Persaingan
ini bisa dilihat melalui cara para lelaki tersebut mempertontonkan keahlian
menari dan besarnya jumlah uang yang diserahkan kepada para Gandut.
Tari Gandut sebagai hiburan terus berkembang di wilayah
pertanian di seluruh Kerajaan Banjar, dengan pusatnya di daerah Pandahan,
Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin.
Tari Gandut sejak tahun 1960-an sudah tidak berkembang
lagi. Faktor agama Islam merupakan penyebab utama hilangnya jenis kesenian ini
ditambah lagi dengan gempuran jenis kesenian modern lainnya. Sekarang Gandut
masih bisa dimainkan tetapi tidak lagi sebagai tarian aslinya hanya sebagai
pengingat dalam pelestarian kesenian tradisional Banjar.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, tarian tradisional, )
Kamis, 25 Juni 2015
UPACARA ADAT BAAYUN MULUD BANJAR KALIMANTAN SELATAN
Salah satu tradisi masyarakat Banjar yang ramai dilakukan pada saat bulan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah tradisi upacara baayun mulud. Baayun asal katanya dari ‘ayun’, jadi bisa diterjemahkan bebas ‘melakukan proses ayunan/buaian’. Bayi yang mau ditidurkan biasanya akan diayun oleh ibunya, ayunan ini memberikan kesan melayang-layang bagi si bayi sehingga ia bisa tertidur lelap. Asal kata ‘mulud’ dari sebutan masyarakat untuk peristiwa maulud Nabi.
Upacara ini dilakukan di dalam masjid, pada ruangan tengah masjid dibuat ayunan yang membentang pada tiang-tiang masjid. Ayunan yang dibuat ada tiga lapis, lapisan atas digunakan kain sarigading (sasirangan), lapisan tengah kain kuning (kain belacu yang diberi warna kuning dari sari kunyit), dan lapisan bawah memakai kain bahalai (kain panjang tanpa sambungan jahitan).
Pada bagian tali ayunan diberi hiasan berupa anyaman janur berbentuk burung-burungan, ular-ularan, katupat bangsur, halilipan, kambang sarai, rantai, hiasan-hiasan mengunakan buah-buahan atau kue tradisional seperti cucur, cincin, kue gelang, pisang, kelapa, dan lain-lain.
Kepada setiap orang tua yang mengikutsertakan anaknya pada upacara ini harus menyerahkanpiduduk, yaitu sebuah sasanggan yang berisi beras kurang lebih tiga setengah liter, sebiji gula merah, sebiji kelapa, sebiji telur ayam, benang, jarum, sebongkah garam, dan uang perak. Piduduk ini bukan maksud untuk musyrik tetapi nanti akan dimakan beramai-ramai oleh orang yang hadir. Upacara baayun mulud ini sudah merupakan upacara tahunan yang selalu digelar bersama-sama oleh masyarakat Banjar.
Peserta baayun mulud ini tidak terbatas pada bayi yang ada di kampung yang melaksanakan saja, tetapi boleh saja peserta dari kampung lain ikut meramaikan. Bahkan saat ini ada saja orang yang sudah tua ikut baayun karena mereka merasa waktu kecil dulu tidak sempat ikut upacara baayun mulud. Dalam upacara nanti akan dibacakan berbagai syair, seperti syair barzanji, syair syarafal anam, dan syair diba’i. Anak-anak yang ingin diayun akan dibawa saat dimulai pembacaan asyarakal, si anak langsung dimasukkan ke dalam ayunan yang telah disediakan.
Saat pembacaan asyarakal dikumandangkan, anak dalam ayunan diayun secara perlahan-lahan dengan cara menarik selendang yang diikat pada ayunan. Maksud diayun pada saat itu adalah untuk mengambil berkah atas kemuliaan Nabi Muhammad SAW, orang tua yang hadir berharap anak yang diayun menjadi umat yang taat, bertakwa kepada Allah SWT dan RasulNya.
Upacara baayun mulud dilaksanakan pada pagi hari dimulai pukul 10.00, lebih afdhol apabila dilaksanakan bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal. Bagi orang tua yang mendapat kesempatan untuk mengikutsertakan anaknya dalam upacara ini akan merasa sangat bahagia dan beruntung.
Tradisi yang dilakukan secara massal ini sebagai pencerminan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karuniaNya atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat bagi sekalian alam, upacara ini diibatkan melakukan penyambutan berupa puji-pujian yang diucapkan dalam syair-syair merdu.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
Upacara ini dilakukan di dalam masjid, pada ruangan tengah masjid dibuat ayunan yang membentang pada tiang-tiang masjid. Ayunan yang dibuat ada tiga lapis, lapisan atas digunakan kain sarigading (sasirangan), lapisan tengah kain kuning (kain belacu yang diberi warna kuning dari sari kunyit), dan lapisan bawah memakai kain bahalai (kain panjang tanpa sambungan jahitan).
Pada bagian tali ayunan diberi hiasan berupa anyaman janur berbentuk burung-burungan, ular-ularan, katupat bangsur, halilipan, kambang sarai, rantai, hiasan-hiasan mengunakan buah-buahan atau kue tradisional seperti cucur, cincin, kue gelang, pisang, kelapa, dan lain-lain.
Kepada setiap orang tua yang mengikutsertakan anaknya pada upacara ini harus menyerahkanpiduduk, yaitu sebuah sasanggan yang berisi beras kurang lebih tiga setengah liter, sebiji gula merah, sebiji kelapa, sebiji telur ayam, benang, jarum, sebongkah garam, dan uang perak. Piduduk ini bukan maksud untuk musyrik tetapi nanti akan dimakan beramai-ramai oleh orang yang hadir. Upacara baayun mulud ini sudah merupakan upacara tahunan yang selalu digelar bersama-sama oleh masyarakat Banjar.
Peserta baayun mulud ini tidak terbatas pada bayi yang ada di kampung yang melaksanakan saja, tetapi boleh saja peserta dari kampung lain ikut meramaikan. Bahkan saat ini ada saja orang yang sudah tua ikut baayun karena mereka merasa waktu kecil dulu tidak sempat ikut upacara baayun mulud. Dalam upacara nanti akan dibacakan berbagai syair, seperti syair barzanji, syair syarafal anam, dan syair diba’i. Anak-anak yang ingin diayun akan dibawa saat dimulai pembacaan asyarakal, si anak langsung dimasukkan ke dalam ayunan yang telah disediakan.
Saat pembacaan asyarakal dikumandangkan, anak dalam ayunan diayun secara perlahan-lahan dengan cara menarik selendang yang diikat pada ayunan. Maksud diayun pada saat itu adalah untuk mengambil berkah atas kemuliaan Nabi Muhammad SAW, orang tua yang hadir berharap anak yang diayun menjadi umat yang taat, bertakwa kepada Allah SWT dan RasulNya.
Upacara baayun mulud dilaksanakan pada pagi hari dimulai pukul 10.00, lebih afdhol apabila dilaksanakan bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal. Bagi orang tua yang mendapat kesempatan untuk mengikutsertakan anaknya dalam upacara ini akan merasa sangat bahagia dan beruntung.
Tradisi yang dilakukan secara massal ini sebagai pencerminan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karuniaNya atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat bagi sekalian alam, upacara ini diibatkan melakukan penyambutan berupa puji-pujian yang diucapkan dalam syair-syair merdu.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
Rabu, 24 Juni 2015
UPACARA ADAT MANDI TIAN MANDARING
Upacara adat dalam memperingati usia kandungan 7 bulan ternyata di Kalimantan Selatan dinamakan Upacara Mandi Tian Mandaring sering pula disebut dengan istilah bapagar mayang,atau urang banjar bemandi-mandi karena tempat mandi dalam upacara itu menggunakan pagar mayang. Upacara ini khusus diadakan untuk wanita hamil yang usia kandungannya sudah mencapai tujuh bulan.
Pada upacara ini disediakan pagar mayang, yaitu sebuah pagar yang sekelilingnya digantungkan mayang-mayang pinang. Tiang-tiang pagar dibuat dari batang tebu yang diikat bersama tombak. Di dalam pagar ditempatkan perapen, air bunga-bungaan, air mayang, keramas asam kamal, kasai tamu giring, dan sebuah galas dandang diisi air yang telah dibacakan doa-doa.
Wanita tian mandaring yang akan mandi di upacara itu akan didandani dengan pakaian sebagus-bagusnya. Setelah waktu dan peralatan yang ditentukan sudah siap, wanita tian mandaring dibawa menuju pagar mayang sambil memegang nyiur balacuk dengan dibungkus kain berwarna kuning. Saat berada dalam pagar mayang untuk dimandikan, pakaian yang dikenakan diganti kain kuning kemudian wanita hamil tadi didudukkan di atas kuantan batiharap dengan beralaskan bamban bajalin.Lima atau tujuh orang wanita tua secara bergantian menyiram dan melangir kepala wanita tian mandaring dengan air bunga-bungaan yang telah disediakan.
Salah seorang wanita yang dianggap paling berpengaruh diserahi tugas memegang upung mayang yang masih terkatup tepat diatas kepala. Kemudian upung mayang tersebut dipukul sekeras-kerasnya hanya satu kali pukulan. Apabila upung mayang tersebut dipukul satu kali sudah pecah maka merupakan pertanda baik, bahwa wanita tian mandaring tidak akan mengalami gangguan sampai melahirkan.
Kambang mayang yang ada di dalam upung dikeluarkan lalu disiramkan dengan air ke kepala sebanyak tiga kali. Siraman yang pertama tangkai posisinya harus mengarah ke atas, siraman kedua tangkai mayang harus berada di bawah dan siraman yang ketiga ditelentangkan dan ditelungkupkan.
Kambang mayang yang berada di tengah-tengah diambil sebanyak dua tangkai, kemudian diletakkan di sela-sela kedua telinga sebagai sumping. Berikutnya adalah memasukkan lingkaran benang berulas-ulas, mulai dari kaki tiga kali berturut-turut. Pada waktu memasukkan wanita tian mandaring maju melangkah ke depan setapak, memasukkan kedua mundur, memasukkan ketiga maju lagi setapak.
Pada pintu pagar mayang ditempatkan kuali tanah dan telur ayam, begitu keluar pagar mayang kuali dan telur itu harus diinjak oleh si wanita tian mandaring sampai pecah. Selesai upacara ini wanita tian mandaring dibawa ke dalam rumah beserta undangan yang hanya boleh dihadiri oleh wanita. Di hadapan hadirin rambutnya disisir, dirias dan digelung serta diberi pakaian bagus. Sebuah cermin dan lilin yang sedang menyala diputar mengelilingi wanita tian mandaring dan dilakukan sebanyak tiga kali, sambil ditapung tawari dengan minyak likat baboreh. Sumbu lilin yang telah hangus disapukan ke ulu hati wanita tian mandaring dengan maksud untuk mendapatkan keturunan yang rupawan dan baik hati. Upacara ini diakhiri dengan bersalam-salaman sambil mendokan wanita tian mandaring.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
Pada upacara ini disediakan pagar mayang, yaitu sebuah pagar yang sekelilingnya digantungkan mayang-mayang pinang. Tiang-tiang pagar dibuat dari batang tebu yang diikat bersama tombak. Di dalam pagar ditempatkan perapen, air bunga-bungaan, air mayang, keramas asam kamal, kasai tamu giring, dan sebuah galas dandang diisi air yang telah dibacakan doa-doa.
Wanita tian mandaring yang akan mandi di upacara itu akan didandani dengan pakaian sebagus-bagusnya. Setelah waktu dan peralatan yang ditentukan sudah siap, wanita tian mandaring dibawa menuju pagar mayang sambil memegang nyiur balacuk dengan dibungkus kain berwarna kuning. Saat berada dalam pagar mayang untuk dimandikan, pakaian yang dikenakan diganti kain kuning kemudian wanita hamil tadi didudukkan di atas kuantan batiharap dengan beralaskan bamban bajalin.Lima atau tujuh orang wanita tua secara bergantian menyiram dan melangir kepala wanita tian mandaring dengan air bunga-bungaan yang telah disediakan.
Salah seorang wanita yang dianggap paling berpengaruh diserahi tugas memegang upung mayang yang masih terkatup tepat diatas kepala. Kemudian upung mayang tersebut dipukul sekeras-kerasnya hanya satu kali pukulan. Apabila upung mayang tersebut dipukul satu kali sudah pecah maka merupakan pertanda baik, bahwa wanita tian mandaring tidak akan mengalami gangguan sampai melahirkan.
Kambang mayang yang ada di dalam upung dikeluarkan lalu disiramkan dengan air ke kepala sebanyak tiga kali. Siraman yang pertama tangkai posisinya harus mengarah ke atas, siraman kedua tangkai mayang harus berada di bawah dan siraman yang ketiga ditelentangkan dan ditelungkupkan.
Kambang mayang yang berada di tengah-tengah diambil sebanyak dua tangkai, kemudian diletakkan di sela-sela kedua telinga sebagai sumping. Berikutnya adalah memasukkan lingkaran benang berulas-ulas, mulai dari kaki tiga kali berturut-turut. Pada waktu memasukkan wanita tian mandaring maju melangkah ke depan setapak, memasukkan kedua mundur, memasukkan ketiga maju lagi setapak.
Pada pintu pagar mayang ditempatkan kuali tanah dan telur ayam, begitu keluar pagar mayang kuali dan telur itu harus diinjak oleh si wanita tian mandaring sampai pecah. Selesai upacara ini wanita tian mandaring dibawa ke dalam rumah beserta undangan yang hanya boleh dihadiri oleh wanita. Di hadapan hadirin rambutnya disisir, dirias dan digelung serta diberi pakaian bagus. Sebuah cermin dan lilin yang sedang menyala diputar mengelilingi wanita tian mandaring dan dilakukan sebanyak tiga kali, sambil ditapung tawari dengan minyak likat baboreh. Sumbu lilin yang telah hangus disapukan ke ulu hati wanita tian mandaring dengan maksud untuk mendapatkan keturunan yang rupawan dan baik hati. Upacara ini diakhiri dengan bersalam-salaman sambil mendokan wanita tian mandaring.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
Selasa, 23 Juni 2015
UPACARA ADAT MALLASUNG MANU KALIMANTAN SELATAN
Upacara adat mallasung manu adalah ritual khas kaum muda mudi suku Mandar yang berdomisili di Kecamatan Laut Selatan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Mallassung Manu adalah sebutan bagi ritual adat melepas beberapa pasang ayam jantan dan betina sebagai bentuk permohonan meminta jodoh kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pesta adat yang juga telah menjadi event wisata ini dilakukan secara turun temurun di Pulau Cinta, sebuah pulau kecil yang konon berbentuk hati dan berjarak sekitar dua mil dari Pulau Laut, pulau terbesar di perairan tenggara Kalimantan yang menjadi Ibu Kota Kabupaten Kotabaru. Pulau Cinta memiliki luas sekitar 500 m2 dan hanya terdiri dari batu-batu besar dan sejumlah pohon di dalamnya.
Dalam pesta adat yang unik ini, para peserta berangkat secara bersama-sama dari Pulau Laut (Kotabaru) menuju Pulau Cinta dengan menggunakan perahu. Sesampainya di Pulau Cinta, pesta adat melepas sepasang ayam jantan dan betina dilaksanakan dengan disaksikan oleh ribuan penonton
Keinginan agar mudah mencari jodoh dapat melahirkan ekspresi budaya yang khas. Kekhasan itulah yang dapat disaksikan dalam Pesta Adat Malassuang Manu. Ritual utama dalam upacara ini, yaitu melepas ayam jantan dan betina, dilaksanakan di atas sebuah batu besar yang bagian tengahnya terbelah sepanjang kira-kira 10 meter. Dari atas batu itu, sepasang ayam tersebut dilemparkan sebagai tanda permohonan kepada Tuhan supaya dimudahkan dalam mencari jodoh.
Usai melepas sepasang ayam tersebut, para muda-mudi ini kemudian mengikatkan pita atau tali rafia (yang di dalamnya telah diisi batu atau sapu tangan yang indah) di atas dahan atau ranting pepohonan yang terdapat di Pulau Cinta. Hal ini sebagai perlambang, apabila kelak memperoleh jodoh tidak akan terputus ikatan tali perjodohannya sampai maut menjemput.
Kelak, pita atau tali rafia tersebut akan diambil kembali bila permohonan untuk bertemu jodoh telah terkabul. Pasangan yang telah berjodoh ini akan kembali ke Pulau Cinta untuk mengambil pita atau tali rafia tersebut dengan menggunakan perahu klotok yang dihias dengan kertas warna-warni. Makanan khas yang selalu menjadi hidangan dalam ritual kedua ini adalah sanggar (semacam pisang goreng yang terbuat dari pisang kepok yang dibalut dengan tepung beras dan gandum dengan campuran gula dan garam), serta minuman berupa teh panas.
Pasangan ini akan diiringi oleh sanak saudara untuk mengadakan selamatan. Usai memanjatkan doa, mereka kemudian melepaskan pita atau tali rafia yang dulu diikatkan di dahan atau ranting pohon untuk disimpan sebagai bukti bahwa keinginannya telah terkabul. Selain itu, ritual kedua ini juga merupakan permohonan supaya dalam kehidupan selanjutnya selalu dibimbing menjadi keluarga yang sejahtera.
Pesta adat yang pelaksanaannya didukung oleh pemerintah daerah setempat ini juga dimeriahkan oleh tari-tarian adat dan berbagai macam perlombaan, seperti voli, sepakbola, dan lain-lain. Berbagai event lomba tersebut biasanya akan memperebutkan trophy Bupati Kotabaru atau Gubernur Kalimantan Selatan.
Biasanya Pesta Mallasung Manu diselenggarakan pada bulan Maret—April
Pesta adat Mallassuang Manu diselenggarakan di Teluk Aru dan Pulau Cinta, Kecamatan Laut Selatan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, Indonesia.
Ibu Kota Kabupaten Kotabaru terletak di ujung utara Pulau Laut. Dari Ibu Kota Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Kotabaru terletak sekitar 350 kilometer dengan kondisi jalan yang kurang mulus. Wisatawan yang menggunakan bus, bus mini, atau mobil carteran akan menghabiskan waktu sekitar 9—10 jam untuk sampai di pelabuhan penyeberangan. Perjalanan darat ini akan dilanjutkan dengan menyeberangi laut menggunakan kapal ferry menuju Pelabuhan Tanjung Serdang, Kotabaru. Dari Pelabuhan ini, perjalanan darat menuju Kotabaru masih memerlukan waktu sekitar 1 jam dengan jarak sekitar 40 kilometer.
Selain perjalanan darat, jika memilih transportasi laut, wisatawan dapat pula memanfaatkan penyeberangan dari Pelabuhan Batulicin (Kabupaten Tanah Bumbu) menuju Pelabuhan Tanjung Serdang (Kotabaru).
Pesawat udara, transit terlebih di Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin (Kalimantan Selatan) atau Bandara Sepinggan Balikpapan (Kalimantan Timur) sebelum menuju Bandara Stagen Kotabaru.
(Adat, Budaya, Ciri Khas,Tradisi, upacara adat, )
Senin, 22 Juni 2015
SENITARI & BUDAYA TARI NITI MAHLIGAI
Tari Niti Mahligai yang merupakan jenis tari Asyek berkembang di daerah kecamatan Gunung Kerinci tepatnya di desa Siulak Mukai Tengah. Tari Niti Mahligai termasuk jenis tari tradisional yang mengutarakan “kehendak” dan bersifat magis.
Menurut Eva Bram saat ini yang menjadi seorang pawang tari Niti Mahligai, tari Niti Mahligai berasal dari kata Niti artinya berjalan di atas suatu benda, Naik artinya menuju sesuatu yang tertinggi dan Mahligai adalah tahta atau istana. Tari Niti mahligai memiliki makna tarian yang dilakukan secara khusuk untuk mencapai sebuah tujuan yaitu memperoleh tahta atau istana. Tari ini dulunya digunakan dalam upacara pemujaan yaitu upacara adat penobatan gelar adat bilah salih.
Menurut Muchtar Hadis, salah satu tokoh seniman Kerinci menyatakan bilah salih adalah gelar adat yang di sandang oleh anak batino (kaum perempuan) yang bertugas untuk mendampingi tugas pemangku adat yang menyandang gelar sko, yang terdiri dari: Depati, Ninik, Mamak, dan Anak Jantan yang disandang oleh kaum laki-laki.
Upacara penobatan bilah salih, merupakan upacara yang dilakukan oleh masyarakat Siulak Mukai Tengah secara turun-temurun yang disebut dengan upacara Naik Mahligai. Pada zaman dahulu tarian ini memiliki fungsi sebagai : sarana komunikasi kepada roh nenek moyang; sarana komunikasi kepada masyarakat; sarana penyembuhan; sarana pengungkapan rasa syukur; dan sebagai sarana pengikat solidaritas masyarakat setempat khususnya antar penyandang gelar adat.
Tarian ini memiliki keunikan dari tari-tarian yang berkembang di Indonesia saat ini, yaitu adanya atraksi yang menantang dan berbahaya. Pada saat dimulai atraksi, saat inilah para penari mulai dirasuki roh-roh nenek moyang yang mereka percayai mendatangkan kekuatan yang melebihi kekuatan manusia. Sehingga, para penari tidak sadarkan diri atau trance, selama atraksi berlangsung.
Diantaranya Niti Gunung Kaco yaitu menari di atas pecahan kaca. Ada juga Niti Gunung Telo yaitu berjalan di atas mangkok-mangkok keci dan berjalan di atas batang pisang yang diatasnya diletakkan telur. Lalu Niti Gunung Tajam yaitu menari di atas bambu-bambu runcing dan paku yang telah ditata.
Kemudian Niti Gunung Pedam yaitu menari di atas ujung pedang yang sangat runcing.Juga Niti Gunung daun yaitu menari di atas daun kelor. Dan terakhir Niti Laut Api yaitu menari di dalam bara api yang sangat panas. Tentunya keseluruhan atraksi tersebut memiliki maksud dan makna tersendiri.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, tarian tradisional, upacara adat.Tradisi, )
Menurut Eva Bram saat ini yang menjadi seorang pawang tari Niti Mahligai, tari Niti Mahligai berasal dari kata Niti artinya berjalan di atas suatu benda, Naik artinya menuju sesuatu yang tertinggi dan Mahligai adalah tahta atau istana. Tari Niti mahligai memiliki makna tarian yang dilakukan secara khusuk untuk mencapai sebuah tujuan yaitu memperoleh tahta atau istana. Tari ini dulunya digunakan dalam upacara pemujaan yaitu upacara adat penobatan gelar adat bilah salih.
Menurut Muchtar Hadis, salah satu tokoh seniman Kerinci menyatakan bilah salih adalah gelar adat yang di sandang oleh anak batino (kaum perempuan) yang bertugas untuk mendampingi tugas pemangku adat yang menyandang gelar sko, yang terdiri dari: Depati, Ninik, Mamak, dan Anak Jantan yang disandang oleh kaum laki-laki.
Upacara penobatan bilah salih, merupakan upacara yang dilakukan oleh masyarakat Siulak Mukai Tengah secara turun-temurun yang disebut dengan upacara Naik Mahligai. Pada zaman dahulu tarian ini memiliki fungsi sebagai : sarana komunikasi kepada roh nenek moyang; sarana komunikasi kepada masyarakat; sarana penyembuhan; sarana pengungkapan rasa syukur; dan sebagai sarana pengikat solidaritas masyarakat setempat khususnya antar penyandang gelar adat.
Tarian ini memiliki keunikan dari tari-tarian yang berkembang di Indonesia saat ini, yaitu adanya atraksi yang menantang dan berbahaya. Pada saat dimulai atraksi, saat inilah para penari mulai dirasuki roh-roh nenek moyang yang mereka percayai mendatangkan kekuatan yang melebihi kekuatan manusia. Sehingga, para penari tidak sadarkan diri atau trance, selama atraksi berlangsung.
Diantaranya Niti Gunung Kaco yaitu menari di atas pecahan kaca. Ada juga Niti Gunung Telo yaitu berjalan di atas mangkok-mangkok keci dan berjalan di atas batang pisang yang diatasnya diletakkan telur. Lalu Niti Gunung Tajam yaitu menari di atas bambu-bambu runcing dan paku yang telah ditata.
Kemudian Niti Gunung Pedam yaitu menari di atas ujung pedang yang sangat runcing.Juga Niti Gunung daun yaitu menari di atas daun kelor. Dan terakhir Niti Laut Api yaitu menari di dalam bara api yang sangat panas. Tentunya keseluruhan atraksi tersebut memiliki maksud dan makna tersendiri.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, tarian tradisional, upacara adat.Tradisi, )
Minggu, 21 Juni 2015
TRADISI & BUDAYA IJAMBE KALIMANTAN TENGAH
Kalimantan Tengah identik dengan suku Dayak, disini ada suatu upacara ritual keagamaan yang sudah ada sejak dari para leluhur suku Dayak Maanyan yang disebut Ijambe. Ijambe adalah suatu upaca adat Agama Hindu Kaharingan dalam suku maanyan yang berada di daerah Kecamatan Paju Epat Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah.
Upacara ini sudah sangat jarang diadakan oleh saudara-saudara kita yang beragama Hindu Kaharingan karena pengikutnya boleh dikatakan sudah tinggal sedikit.
Kegiatan Ritual Ijambe dilaksanakan kurang lebih selama 7 (tujuh) hari dan pada hari-hari tersebut memiliki nama kegiatan seperti : Irumpak, Irapat, Tarawen, Nyurat, Muarare, Munu, Mapui yang kemudian dilanjutkan dengan Ritual GAWE.
Ritual Ijambe diadakan untuk mengantar roh dari arwah orang yang dijambe menuju suatu tempat yang disebut Sangiyang / Sorga, karena sebelum dilaksanakan Ijambe arwah tersebut masih bergentayangan didunia dan diyakini belum sampai kesorga.
Dalam kegiatan Ijambe diiringi dengan permainan arwah/roh atau usik liau seperti : Sabung Ayam Liaw, Kartu Liaw, Dadu Gurak Liaw, dan sebagainya.
Kegiatan terakhir Ijambe yang sempat saya ikuti yaitu pada Tahun 1995, 2005, dan 2010 baru-baru ini di Desa Murutuwu yang jaraknya kurang lebih 15 Kilometer dari kota Tamiang Layang.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat,Tradisi)
Upacara ini sudah sangat jarang diadakan oleh saudara-saudara kita yang beragama Hindu Kaharingan karena pengikutnya boleh dikatakan sudah tinggal sedikit.
Kegiatan Ritual Ijambe dilaksanakan kurang lebih selama 7 (tujuh) hari dan pada hari-hari tersebut memiliki nama kegiatan seperti : Irumpak, Irapat, Tarawen, Nyurat, Muarare, Munu, Mapui yang kemudian dilanjutkan dengan Ritual GAWE.
Ritual Ijambe diadakan untuk mengantar roh dari arwah orang yang dijambe menuju suatu tempat yang disebut Sangiyang / Sorga, karena sebelum dilaksanakan Ijambe arwah tersebut masih bergentayangan didunia dan diyakini belum sampai kesorga.
Dalam kegiatan Ijambe diiringi dengan permainan arwah/roh atau usik liau seperti : Sabung Ayam Liaw, Kartu Liaw, Dadu Gurak Liaw, dan sebagainya.
Kegiatan terakhir Ijambe yang sempat saya ikuti yaitu pada Tahun 1995, 2005, dan 2010 baru-baru ini di Desa Murutuwu yang jaraknya kurang lebih 15 Kilometer dari kota Tamiang Layang.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat,Tradisi)
Sabtu, 20 Juni 2015
BUDAYA & TRADISI BAGANDUANG RIAU
Masyarakat Kuantan Singingi memiliki beragam tradisi budaya yang unik yang digelar setiap tahun setelah hari raya, seperti pada Idul Fitri 1431 Hijriyah.
Masyarakat Lubuk memiliki budaya perahu baganduang (perahu yang digandeng dua atau tiga) di sepanjang Sungai Batang Kuantan.
Keunikannya terletak pada perahu yang digandeng dua atau tiga unit dengan dihiasi beberapa macam atribut berupa tonggak (tiang) yang diberi lambang tanduk kerbau, hiasan gambar Presiden dan Wakil Presiden, cermin, payung, dan kubah masjid.
Bupati Kuansing H Sukarmis diwakili Asisten Ekonomi dan Pembangunan H Marduyut mengatakan, tradisi ini memiliki keunikan meski di daerah lain juga ada perahu hias, tetapi keunikan dan makna yang terkandung di dalamnya berbeda.
Hal ini disebabkan, makna yang terkandung dalam perahu ini lebih spesifik dan memberi pencerahan, petunjuk ajaran, dan melambangkan kehidupan yang dialami masyarakat saat ini.
Hal itu, misalnya, payung dalam perahu melambangkan tempat berlindung, tanduk kerbau melambangkan masyarakat hidup dalam peternakan, kubah masjid melambangkan agama Islam, serta bulan dan bintang melambangkan mengaji di surau dan masjid.
"Tradisi budaya perahu bergandeng ini jangan sampai menjadi slogan semata, tetapi harus dilestarikan agar dapat dikunjungi para wisatawan," paparnya.
Tokoh masyarakat Drs Nasrun Rasyid menilai perahu yang dimiliki masyarakat Lubuk Jambi ini tidak ada duanya di Indonesia dan sangat indah dipandang serta memiliki keunikan tersendiri.
Oleh karena itu, tradisi ini perlu diperkenalkan kepada para wisatawan pada masa mendatang karena tidak pernah datang begitu saja, tetapi memerlukan proses bertahun-tahun lamanya, ujarnya.
Perahu bergandeng yang ditampilkan tahun ini diikuti delapan perahu yang berasal dari lima desa, yang hilir dari hulu Sungai Kuantan dan menuju pancangfinish (berjarak satu kilometer).
Semua perahu yang dihias indah bersama awaknya itu secara beriringan dipertontonkan kepada masyarakat yang berjejel di pinggir Sungai Kuantan.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Tradisi, upacara adat, )
Jumat, 19 Juni 2015
BUDAYA & TRADISI POTONG PANTAN SUKU DAYAK KALIMANTAN
Pulau Kalimantan atau yang sering disebut Borneo memiliki berjuta kekayaan budaya yang unik dan menarik. Salah satunya ialah tradisi menyambut tamu, potong pantan, yang terdapat di masyarakat pedalaman suku asli penghuni Borneo, yaitu suku Dayak.
Dayak adalah nama penduduk asli Pulau Borneo yang saat ini masih banyak tinggal di pedalaman Kalimantan. Suku asli Dayak ini memunyai budaya maritim atau bahari karena nama mereka banyak memunyai arti dan berhubungan dengan sungai (karena banyaknya sungai yang terdapat di pedalaman Kalimantan).
Di balik itu semua, suku Dayak ternyata memiliki berbagai macam tradisi yang menarik, seperti halnya tradisi penyambutan tamu ala suku Dayak, potong pantan. Sekilas, memang tradisi ini hanya sebuah proses penyambutan tamu biasa, tapi jika Anda telusuri lebih mendalam, ternyata potong pantan sarat dengan makna kekeluargaan yang sangat kental.
Tradisi potong pantan atau memotong kayu bulat yang dipasang melintang di gapura, diyakini masyarakat dayak pedalaman Kalimantan Tengah dapat mengusir setan atau roh jahat yang menempel pada seseorang. Potong pantan sendiri biasanya dilakukan untuk menyambut kedatangan tamu atau pejabat pemerintahan dan negara.
Semboyan “tamu adalah raja” masih berlaku bagi masyarakat di tempat ini. Mereka akan menyambut kedatangan para tamu dengan meriah. Seluruh penduduk desa, dari ketua adat hingga anak-anak, ikut menyambut dengan ritual adat yang mereka sebut potong pantan.
Potong pantan merupakan salah satu upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Ngaju di Provinsi Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Kapuas. Upacara ini telah dilakukan sejak nenek moyang mereka, dan diwariskan ke generasi berikut hingga kini.
“Tradisi ini melambangkan orang Dayak memiliki prinsip keterbukaan, menerima siapa pun yang datang ke wilayahnya asal dengan iktikad baik.
Dalam upacara ini, seluruh tamu yang datang akan diminta memotong batang bambu hijau yang dipasang melintang di pintu masuk dengan mengunakan sebilah pedang Mandau. Musik tradisional dan nyanyian menggunakan bahasa Sangian mengiringi jalannya upacara.
Bahasa Sangian merupakan bahasa yang mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan dunia arwah. Sebelum dipersilakan masuk rumah, biasanya antara tamu dan tetua adat, pertama-tama, diajukan beberapa pertanyaan, seperti siapa nama Anda, dari mana, dan apa tujuan datang ke daerah ini.
Upacara ini dilakukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang buruk bagi penduduk setempat maupun para tamu. Yang perlu Anda ketahui dalam tradisi ini, secara kepercayaan adat setempat, apabila kayu tersebut dipotong tanpa halangan, berarti tamu tersebut dapat diterima dan dilancarkan jalannya saat berkunjung ke sana. Begitu pun sebaliknya, apabila tidak berhasil dipotong secara lancar, berarti tamu tersebut patut dipertanyakan perihal maksud dan tujuan kedatangan mereka ke tanah suku Dayak tersebut.
Acara pun dilanjutkan dengan suguhan tari-tarian yang diiringi dengan musik tradisional. Dalam menyambut tamu, mereka juga memotong hewan korban sebagai bentuk penghormatan bagi arwah nenek moyang.Ritual ini dipimpin seorang pemuka agama yang juga diiringi doa dengan menggunakan bahasa Sangian.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
***)berbagai sumber
Dayak adalah nama penduduk asli Pulau Borneo yang saat ini masih banyak tinggal di pedalaman Kalimantan. Suku asli Dayak ini memunyai budaya maritim atau bahari karena nama mereka banyak memunyai arti dan berhubungan dengan sungai (karena banyaknya sungai yang terdapat di pedalaman Kalimantan).
Di balik itu semua, suku Dayak ternyata memiliki berbagai macam tradisi yang menarik, seperti halnya tradisi penyambutan tamu ala suku Dayak, potong pantan. Sekilas, memang tradisi ini hanya sebuah proses penyambutan tamu biasa, tapi jika Anda telusuri lebih mendalam, ternyata potong pantan sarat dengan makna kekeluargaan yang sangat kental.
Tradisi potong pantan atau memotong kayu bulat yang dipasang melintang di gapura, diyakini masyarakat dayak pedalaman Kalimantan Tengah dapat mengusir setan atau roh jahat yang menempel pada seseorang. Potong pantan sendiri biasanya dilakukan untuk menyambut kedatangan tamu atau pejabat pemerintahan dan negara.
Semboyan “tamu adalah raja” masih berlaku bagi masyarakat di tempat ini. Mereka akan menyambut kedatangan para tamu dengan meriah. Seluruh penduduk desa, dari ketua adat hingga anak-anak, ikut menyambut dengan ritual adat yang mereka sebut potong pantan.
Potong pantan merupakan salah satu upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Ngaju di Provinsi Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Kapuas. Upacara ini telah dilakukan sejak nenek moyang mereka, dan diwariskan ke generasi berikut hingga kini.
“Tradisi ini melambangkan orang Dayak memiliki prinsip keterbukaan, menerima siapa pun yang datang ke wilayahnya asal dengan iktikad baik.
Dalam upacara ini, seluruh tamu yang datang akan diminta memotong batang bambu hijau yang dipasang melintang di pintu masuk dengan mengunakan sebilah pedang Mandau. Musik tradisional dan nyanyian menggunakan bahasa Sangian mengiringi jalannya upacara.
Bahasa Sangian merupakan bahasa yang mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan dunia arwah. Sebelum dipersilakan masuk rumah, biasanya antara tamu dan tetua adat, pertama-tama, diajukan beberapa pertanyaan, seperti siapa nama Anda, dari mana, dan apa tujuan datang ke daerah ini.
Upacara ini dilakukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang buruk bagi penduduk setempat maupun para tamu. Yang perlu Anda ketahui dalam tradisi ini, secara kepercayaan adat setempat, apabila kayu tersebut dipotong tanpa halangan, berarti tamu tersebut dapat diterima dan dilancarkan jalannya saat berkunjung ke sana. Begitu pun sebaliknya, apabila tidak berhasil dipotong secara lancar, berarti tamu tersebut patut dipertanyakan perihal maksud dan tujuan kedatangan mereka ke tanah suku Dayak tersebut.
Acara pun dilanjutkan dengan suguhan tari-tarian yang diiringi dengan musik tradisional. Dalam menyambut tamu, mereka juga memotong hewan korban sebagai bentuk penghormatan bagi arwah nenek moyang.Ritual ini dipimpin seorang pemuka agama yang juga diiringi doa dengan menggunakan bahasa Sangian.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
***)berbagai sumber
Kamis, 18 Juni 2015
TRADISI & BUDAYA BAU NYALE PULAU LOMBOK
Tradisi Bau Nyale ini diadakan setiap tanggal 20 bulan 10 dalam penanggalan Sasak atau lima hari setelah bulan purnama yang biasanya sekitar bulan Februari / Maret. Nyale adalah sejenis cacing laut yang biasa hidup di dasar air laut, seperti di lubang-lubang batu karang. Bau dari bahasa Sasak yang berarti menangkap, sedangkan nyale sejenis cacing laut (Anelida) yang hidup dilubang-lubang batu karang di bawah permukaan laut.
Tradisi menangkap Nyale (BAU NYALE) dipercayai timbul akibat pengaruh keadaan alam dan pola kehidupan masyarakat tani yang mempunyai kepercayaan yang mendasar akan kebesaran Tuhan, menciptakan alam dgn segala isinya termasuk binatang sejenis Anelida yang disebut Nyale. Kemunculannya nyale ini di pantai Lombok Selatan yang ditandai dengan keajaiban alam dipercayai sebagai rahmat Tuhan atas mahluk ini.
Beberapa waktu sebelum nyale keluar, ditandai dengan hujan deras di malam hari yang diselingi kilat dan petir yang menggelegar disertai angin yang sangat kencang (hujan angin). Malam menjelang nyale keluar, hujan angin reda lalu berganti dengan hujan rintik-rintik. Suasana menjadi demikian tenang. Pada dini hari, nyale mulai terlihat bergulung-gulung bersama ombak yang gemuruh memecah pantai, secepat itu nyale berangsur-angsur lenyap dari permukaan laut bersama dengan fajar menyingsing dari ufuk timur.
Upacara Bau Nyale sudah menjadi tradisi masyarakat setempat yang sulit untuk ditinggalkan, sebab mereka meyakini bahwa upacara ini memiliki tuah yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya dan mudarat (bahaya) bagi orang yang meremehkannya.
Acara inti dalam tradisi ini adalah menangkap nyale yang hanya muncul setahun sekali di beberapa lokasi tertentu di Pantai Selatan Pulau Lombok. Nyale akan muncul pada pertengahan malam hingga menjelang subuh.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi,)
Tradisi menangkap Nyale (BAU NYALE) dipercayai timbul akibat pengaruh keadaan alam dan pola kehidupan masyarakat tani yang mempunyai kepercayaan yang mendasar akan kebesaran Tuhan, menciptakan alam dgn segala isinya termasuk binatang sejenis Anelida yang disebut Nyale. Kemunculannya nyale ini di pantai Lombok Selatan yang ditandai dengan keajaiban alam dipercayai sebagai rahmat Tuhan atas mahluk ini.
Beberapa waktu sebelum nyale keluar, ditandai dengan hujan deras di malam hari yang diselingi kilat dan petir yang menggelegar disertai angin yang sangat kencang (hujan angin). Malam menjelang nyale keluar, hujan angin reda lalu berganti dengan hujan rintik-rintik. Suasana menjadi demikian tenang. Pada dini hari, nyale mulai terlihat bergulung-gulung bersama ombak yang gemuruh memecah pantai, secepat itu nyale berangsur-angsur lenyap dari permukaan laut bersama dengan fajar menyingsing dari ufuk timur.
Upacara Bau Nyale sudah menjadi tradisi masyarakat setempat yang sulit untuk ditinggalkan, sebab mereka meyakini bahwa upacara ini memiliki tuah yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya dan mudarat (bahaya) bagi orang yang meremehkannya.
Acara inti dalam tradisi ini adalah menangkap nyale yang hanya muncul setahun sekali di beberapa lokasi tertentu di Pantai Selatan Pulau Lombok. Nyale akan muncul pada pertengahan malam hingga menjelang subuh.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi,)
UPACARA TUMPEK LANDEP BALI
Sebuah hari yang istimewa bagi seniman tabuh dan tari
Bali Secara umum perayaan Tumpek Landep memiliki makna umat
Hindu memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai
Sang Hyang Pasupati agar segala unsur senjata dapat bermanfaat dan memberikan
arti penting bagi kehidupan manusia. Senjata ini dapat berupa senjata-senjata
dalam arti sebenarnya seperti keris, pedang, tombak, pisau, sabit, cangkul,
blakas, dll, dan dapat berupa buah karya manusia yaitu hasil teknologi seperti
kendaraan, komputer, alat-alat elektronik, atau peralatan maupun benda-benda
lainnya yang mengandung unsur logam dan dijadikan sebagai sarana untuk
memperoleh kesejahteraan lahir batin.
Namun bagi kami para seniman tari dan tabuh
senjata-senjata ini berupa instrumen-instrumen gamelan dan perlengkapannya,
gelungan tari, property tari, keris, tombak, dan lain-lain. Perayaan hari
Tumpek Landep bagi para seniman tari tabuh juga sering disebut otonan gamelan.
Sebagaimana halnya manusia yang harus bersih secara jasmani sebelum
melaksanakan upacara ngotonin, begitu juga akan sarana-sarana gamelan ini.
Sudah merupakan tradisi turun temurun, menjelang hari
Tumpek Landep yang kali ini jatuh pada 13 Maret 2010. Sekaa Gong Genta
Bhuana Sari memiliki dua jenis barungan gamelan, yaitu satu barungan gamelan
Gong Kebyar, dan satu barungan gamelan Gong Gede Saih Pitu. Seluruh gamelan ini
dilepas dan dibersihkan bumbungnya, pelawahnya, dan sampai pada bagian
logamnya. Satu-persatu gamelan dibersihkan, dan setelah bersih, dirangkaikan
kembali dengan jangat (tali gamelan) yang baru. Agar sarana gamelan ini tampak
baru, bersih, bersinar, hingga siap diupacarai.
Selain bersih secara fisik, juga memiliki makna bahwa,
saat diupacara pada Tumpek Landep secara jiwa raga, sekaa tersebut sudah siap
untuk memulai lembaran baru, agar diberikan inspirasi dan spirit baru dalam
berkesenian, dan memiliki taksu sehingga dewa kesenian bisa selalu menyertai
setiap kegiatan berkesenian yang dilakukan oleh Sanggar Genta Bhuana Sari
Peliatan ini.
Pada saat puncak acara, disiapkanlah semua sarana baik
sarana upacara, sarana berkesenian seperti gamelan, gelungan, senjata tari,
barong, dan rangda. Bahkan ada juga beberapa diantara anggota sekaa baik penari
maupun penabuh yang mengupacarai alat gamelan atau sarana tari miliknya sendiri
yang dibawanya langsung dari rumah untuk diupacarai secara bersamaan, seperti
kendang, suling, rebab, gelungan tari, bunga mas, dan alat-alat berkesenian
lainnya.
(Adat, Budaya, upacara adat, Tradisi, Ciri Khas, )
Senin, 15 Juni 2015
UPACARA SEBA MASYARAKAT BADUY BANTEN
Merupakan salah satu suku yang masih memegang adat istiadat yang diturunkan oleh nenek moyang mereka, warga baduy kembali menjalankan upacara penyerahan hasil panen mereka kepada pemerintah setempat. Upacara penyerahan hasil panen ini dikenal dengan nama Seba. Upacara ini sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka.
Masyarakat Baduy bersiap-siap untuk melakukan upacara Seba. Masyarakat ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu masyarakat baduy dalam dan luar. Setiap desa mengirimkan beberapa orang utusannya yang keseluruahnnya adalah laki-laki untuk membawa hasil panennya. Jumlah keseluruhan yang mengikuti upacara tersebut sekitar 1.480 orang.
Hasil penen yang mereka bawa bermacam-macam, diantaranya : Pisang, gula aren, beras, coklat, biji kopi dan lain-lain, dengan menggunakan angkutan truk yang diparkir di terminal Ciboleger, yaitu terminal terakhir yang tidak jauh dari perkampungan masyarakat baduy luar yaitu kaduketug.
Keberangkatan dimulai dari terminal Ciboleger untuk masyarakat baduy luar dengan menggunakan angkutan umum. Sedangkan untuk masyarakat baduy dalam, mereka sudah lebih dahulu berangkat menuju rangkas pada pukul 03 dinihari dengan berjalan kaki.
Mereka meninggalkan kampung selama 2 hari untuk melaksanakan upacara ini, karena upacara seba ini dilakukan di 2 tempat pemerintahan, yaitu pada hari pertama dilakukan di Kantor Bupati Lebak di Rangkasbitung dan pada hari kedua dilaksanakan di kantor Gubernur Serang.
Upacara pertama dilakukan di Kantor Bupati Lebak pada malam hari dan mereka pun istirahat dan bermalam dipendopo, menunggu pagi hari untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Serang. Didalam pendopo tempat mereka upacara ada satu buah spanduk yang bertuliskan “Upacara seba warga masyarakat Baduy ka-Bapak Gede”.
Setelah sampai di kantor Gubernur Serang mereka istirahat disana menunggu malam hari untuk kembali melakukan upacara yang sama seperti yang dilakukan dihari sebelumnya. Acara ini, juga merupakan forum silaturahmi antara warga Baduy dengan pemerintah sekaligus melaporkan situasi social kemasyarakatan, keamanan dan hasil pertanian serta keadaan lain yang terjadi selama setahun terakhir.
Setelah acara selesai mereka pun beristirahat disana sambil menyaksikan hiburan berupa wayang golek yang disediakan. Dan mereka pun tidur dipendopo.
Seba merupakan sebuah tradisi adat yang harus dilakukan setiap tahunnya bagi warga Baduy sebagai wujud nyata tanda kesetiaan dan dan ketaatan kepada Pemerintah RI yang dilaksanakan kepada penguasa Pemerintahan dimulai dari Bupati Lebak dan Gubernur Banten.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi)
***)berbagai sumber
Masyarakat Baduy bersiap-siap untuk melakukan upacara Seba. Masyarakat ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu masyarakat baduy dalam dan luar. Setiap desa mengirimkan beberapa orang utusannya yang keseluruahnnya adalah laki-laki untuk membawa hasil panennya. Jumlah keseluruhan yang mengikuti upacara tersebut sekitar 1.480 orang.
Hasil penen yang mereka bawa bermacam-macam, diantaranya : Pisang, gula aren, beras, coklat, biji kopi dan lain-lain, dengan menggunakan angkutan truk yang diparkir di terminal Ciboleger, yaitu terminal terakhir yang tidak jauh dari perkampungan masyarakat baduy luar yaitu kaduketug.
Keberangkatan dimulai dari terminal Ciboleger untuk masyarakat baduy luar dengan menggunakan angkutan umum. Sedangkan untuk masyarakat baduy dalam, mereka sudah lebih dahulu berangkat menuju rangkas pada pukul 03 dinihari dengan berjalan kaki.
Mereka meninggalkan kampung selama 2 hari untuk melaksanakan upacara ini, karena upacara seba ini dilakukan di 2 tempat pemerintahan, yaitu pada hari pertama dilakukan di Kantor Bupati Lebak di Rangkasbitung dan pada hari kedua dilaksanakan di kantor Gubernur Serang.
Upacara pertama dilakukan di Kantor Bupati Lebak pada malam hari dan mereka pun istirahat dan bermalam dipendopo, menunggu pagi hari untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Serang. Didalam pendopo tempat mereka upacara ada satu buah spanduk yang bertuliskan “Upacara seba warga masyarakat Baduy ka-Bapak Gede”.
Setelah sampai di kantor Gubernur Serang mereka istirahat disana menunggu malam hari untuk kembali melakukan upacara yang sama seperti yang dilakukan dihari sebelumnya. Acara ini, juga merupakan forum silaturahmi antara warga Baduy dengan pemerintah sekaligus melaporkan situasi social kemasyarakatan, keamanan dan hasil pertanian serta keadaan lain yang terjadi selama setahun terakhir.
Setelah acara selesai mereka pun beristirahat disana sambil menyaksikan hiburan berupa wayang golek yang disediakan. Dan mereka pun tidur dipendopo.
Seba merupakan sebuah tradisi adat yang harus dilakukan setiap tahunnya bagi warga Baduy sebagai wujud nyata tanda kesetiaan dan dan ketaatan kepada Pemerintah RI yang dilaksanakan kepada penguasa Pemerintahan dimulai dari Bupati Lebak dan Gubernur Banten.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi)
***)berbagai sumber
Minggu, 14 Juni 2015
UPACARA ADAT TEDHAK SITEN
Dalam adat tradisi Jawa ada upacara yang disebut Tedhak Siten atau upacara dimana seorang anak untuk pertama kali kakinya menginjak tanah.Tedhak Siten sering juga disebut upacara turun bumi, upacara tersebut dilaksanakan ketika anak berusia 245(dua ratus empat puluh lima) hari atau tujuhlapan (7-8) bulan.
Tradisi tedhak siten merupakan rangkaian upacara kelahiran adat Jawa. Upacara tedhak siten menggambarkan perjalanan hidup seseorang, berawal dari masih di dalam lindungan orang tua sepenuhnya (dikurung di kandang ayam), kemudian ketika dia sudah mulai bisa memobilitas dirinya sendiri (berjalan di atas jadah), dia akan mulai berjalan meniti tangga kehidupan (naik tangga) dan memilih jalan hidupnya sendiri (mengambil barang untuk dipilih).
Umumnya pelaksanaan upacara tedhak siten dilaksanakan dihalaman rumah. Adapun alat-alat yang dibutuhkan seperti; Sesaji selamatan yang terdiri dari: nasi tumpeng dengan sayur mayur, jenang (bubur) merah dan putih, jenang boro-boro, dan jajan pasar lengkap. Juwadah (uli) tujuh macam warna yaitu merah, putih, hitam, kuning, biru, jambon (jingga), ungu. Serta sekar (bunga) setaman yang ditempatkan dalam bokor besar dan tanah.
Alat lainya adalah tangga yang dibuat dari batang tebu merah hati. Sangkar ayam (kurungan ayam) yang dihiasi janur kuning atau kertas hias warna-warni. Padi, kapas, sekar telon (tiga macam bunga misalnya melati, mawar dan kenanga). Beras kuning, berbagai lembaran uang. Bermacam-macam barang berharga (seperti gelang, kalung, peniti dan lain-lain. Serta, barang yang bermanfaat (misalnya buku, alat-alat tulis dan sebagainya) yang dimasukkan ke dalam Sangkar.
Prosesi dan Makna Upacara
Untuk prosesi upacara pertama kali anak dibimbing oleh kedua orang tuanya berjalan (dititah) dengan kaki menginjak-injak juwadah atau jenang yang berjumlah tujuh warna. Jenang atau jadah yang terbuat dari ketan dan terdiri 7 warna melambangkan unsur-unsur kehidupan di dunia ini yang kelak akan dilalui oleh anak.
Merah perlambang berani, Putih itu Suci, Hijau itu Alam semesta, Biru itu Langit, Kuning itu cahaya, Jingga itu Matahari dan Coklat itu melambangkan bumi. Juwadah 7 warna juga melambangkan agar anak kelak bisa menanggulangan berbagai kesulitan. Selesai itu, anak menginjak tanah sebagai perlambang pertama kalinya iya turun ke tanah.
Kemudian anak tersebut dinaikkan ke tangga yang terbuat dari tebu wulung atau tebu itam. Artinya agar ia mendapat kehidupan sukses dan dinamis setahap demi setahap. Maknanya adalah agar sang anak mantap menjalani kehidupannya kelak yang diharapkan kian lama kian tinggi , baik usia, karier, jabatan, rohani dan pendidikannya. Dari tangga teratas kemudian anak dibopong tinggi-tinggi oleh ayahnya dengan harapan ia akan sampai ke puncak yang tertinggi. Tangga “tebu” arti dalam bahasa Jawa anteping kalbu ketetapan hati dalam mengejar cita-cita agar lekas tercapai.
Selanjutnya anak itu dimasukkan ke dalam kurungan ayam bila anak tidak mau masuk maka perlu di temani ibu atau pengasuhnya. Di dalam kurungan telah dimasukkan berisi padi, gelang, cincin, alat-alat tulis, kapas, wayang kulit dan mainan dan menanti sampai bayi tersebut mengambil. Benda yang pertama kali diambil sang bayi akan melambangkan kehidupannya kelak. Seperti kalau si anak mengambil maina pesawat kelat si anak akan menjadi pilot. Kurungan ayam dimaksudkan agar anak dapat masuk ke dalam masyarakat luas dengan baik dan mematuhi segala peraturan dan adat istiadat setempat.
Setelah selesai, beras kuning, biji-bijan dan bermacam-macam uang logam ditaburkan atau yang disebut ‘nyebar udhik-udhik’. Para undangan saling berebut uang merupakan tambahan acara yang meyemarakkan suasana. Makna lain dari prosesi ini adalah mencontohkan anak atau cucu agar kelak sang anak menjadi anak yang dermawan.
Kemudian anak dimandikan dengan air bunga setaman dengan maksud membawa nama harum keluarga di kemudian hari dan bertujuan agar ia dapat menjalani kehidupan yang bersih dan lurus. Selain itu air yang dibuat mandi merupakan air yang telah diembunkan kemudian pagi harinya di jemur matahari, atau istilahnya ‘banyu gege.’
Setelah mandi, anak dikenakan pakaian baru yang bagus agar sedap dan menyenangkan orang tua dan para undangan. Setelah berpakaian anak didudukkan pada tikar, karpet atau lampit dan didekatkan pada barang-barang yang tadi diletakkan didalam kurungan.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat,Tradisi, )
BUDAYA & TRADISI RABU PUNGKASAN YOGJAKARTA
Rabu Pungkasan adalah sebuah upacara adat yang dilakukan oleh warga desa Wonokromo. Upacara tersebut sebenarnya terdapat beberapa ritual lagi. Rabu Pungkasan sebenarnya hanya waktunya, yakni karena upacara adat tersebut dilakukan pada hari Rabu terahir bulan Shofar setiap tahunnya.
Beberapa upacara tersebut adalah; Wisuh dan ngarak Gunungan dan Boga Wiwaha yang berwujud lemper agung.
Upacara tradisional Rebo Pungkasan (Rabu terakhir) yang digelar masyarakat Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, menjadi atraksi wisata andalan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)."Upacara Rebo Pungkasan selalu menarik perhatian wisatawan yang berkunjung ke desa tersebut, sehingga diharapkan jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat," kata Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Bambang Legowo, di Bantul. Dikatakannya, upacara tradisional ini selalu mengundang perhatian seluruh lapisan masyarakat karena waktunya diperhitungkan setiap Rabu terakhir pada bulan Sapar (penanggalan Jawa/Islam), karena itu upacara ini selalu ditunggu oleh masyarakat di daerah ini.Ia mengatakan, pada tahun ini upacara puncak Rebo Pungkasan dengan kegiatan kirab gunungan dan "lemper raksasa" (sejenis makanan tradisional) diperkirakan jatuh pada Selasa malam, mulai pukul 19.00 WIB hingga larut malam. "Kirab gunungan dan ’lemper’ berukuran raksasa ini rencananya berlangsung dari depan Masjid Al Huda, Wonokromo, sampai depan Balai Desa Wonokromo," katanya. Menurut dia, upacara Rebo Pungkasan yang dimulai saat Bulan Suro dan Sapar sejak bertahun-tahun lalu selalu digelar masyarakat Wonokromo. "Ceritanya, warga desa saat itu mendapat banyak musibah (pageblug), sehingga agar terhindar dari penyakit dan bahaya, banyak orang memohon pertolongan dari tokoh agama setempat, Kyai Muhamad Fakih alias Kyai Welit," katanya.Ditambahkannya, warga diberi obat berupa selembar wifiq (tulisan arab di atas kertas). Wifiq tersebut dimasukkan ke dalam air tawar untuk diminum atau digunakan untuk mandi. "Karena semakin banyak orang yang meminta, wifiq tersebut dimasukkan ke dalam tempuran (pertemuan dua aliran sungai), yaitu sungai Gajah Wong dan Opak yang tepat melintas di Desa Wonokromo pada malam Rabu terakhir bulan Sapar 1837," katanya. Ia mengatakan, inti dari upacara Rebo Pungkasan adalah tolak bala dari segala penyakit dan prosesi upacara tersebut hingga sekarang berkembang menjadi atraksi pariwisata sekaligus melestarikan tradisi leluhur.
Para penduduk Wonokromo memiliki kepercayaan bahwa tiap satu tahun terdapat satu bulan yang berpotensi diturunkan balak, yaitu bulan Shofar, dan di bulan Shofar berpotensi diturunkan balak pada minggu terakhir, tujuh hari pada minggu terakhir dan jatuh pada hari Rabu, dan pada hari Rabu terakhir bulan Shofar berpotensi diturunkan balak pada malam Rabu antara waktu Maghrib dan Isyak, sehingga pada waktu tersebut di Wonokromo sangat dianjurkan warga untuk berdzikir dan bermunajat kepada Allah agar tidak diturunkan balak tersebut. Ngarak Lemper dan Gunungan dimaksudkan sebagai wujud rasa syukur pada Alloh SWT, untuk tolak balak dan sebagai sedekah pemerintah desa kepada warga desanya.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi,)
***)berbagai sumber
Beberapa upacara tersebut adalah; Wisuh dan ngarak Gunungan dan Boga Wiwaha yang berwujud lemper agung.
Upacara tradisional Rebo Pungkasan (Rabu terakhir) yang digelar masyarakat Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, menjadi atraksi wisata andalan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)."Upacara Rebo Pungkasan selalu menarik perhatian wisatawan yang berkunjung ke desa tersebut, sehingga diharapkan jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat," kata Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Bambang Legowo, di Bantul. Dikatakannya, upacara tradisional ini selalu mengundang perhatian seluruh lapisan masyarakat karena waktunya diperhitungkan setiap Rabu terakhir pada bulan Sapar (penanggalan Jawa/Islam), karena itu upacara ini selalu ditunggu oleh masyarakat di daerah ini.Ia mengatakan, pada tahun ini upacara puncak Rebo Pungkasan dengan kegiatan kirab gunungan dan "lemper raksasa" (sejenis makanan tradisional) diperkirakan jatuh pada Selasa malam, mulai pukul 19.00 WIB hingga larut malam. "Kirab gunungan dan ’lemper’ berukuran raksasa ini rencananya berlangsung dari depan Masjid Al Huda, Wonokromo, sampai depan Balai Desa Wonokromo," katanya. Menurut dia, upacara Rebo Pungkasan yang dimulai saat Bulan Suro dan Sapar sejak bertahun-tahun lalu selalu digelar masyarakat Wonokromo. "Ceritanya, warga desa saat itu mendapat banyak musibah (pageblug), sehingga agar terhindar dari penyakit dan bahaya, banyak orang memohon pertolongan dari tokoh agama setempat, Kyai Muhamad Fakih alias Kyai Welit," katanya.Ditambahkannya, warga diberi obat berupa selembar wifiq (tulisan arab di atas kertas). Wifiq tersebut dimasukkan ke dalam air tawar untuk diminum atau digunakan untuk mandi. "Karena semakin banyak orang yang meminta, wifiq tersebut dimasukkan ke dalam tempuran (pertemuan dua aliran sungai), yaitu sungai Gajah Wong dan Opak yang tepat melintas di Desa Wonokromo pada malam Rabu terakhir bulan Sapar 1837," katanya. Ia mengatakan, inti dari upacara Rebo Pungkasan adalah tolak bala dari segala penyakit dan prosesi upacara tersebut hingga sekarang berkembang menjadi atraksi pariwisata sekaligus melestarikan tradisi leluhur.
Para penduduk Wonokromo memiliki kepercayaan bahwa tiap satu tahun terdapat satu bulan yang berpotensi diturunkan balak, yaitu bulan Shofar, dan di bulan Shofar berpotensi diturunkan balak pada minggu terakhir, tujuh hari pada minggu terakhir dan jatuh pada hari Rabu, dan pada hari Rabu terakhir bulan Shofar berpotensi diturunkan balak pada malam Rabu antara waktu Maghrib dan Isyak, sehingga pada waktu tersebut di Wonokromo sangat dianjurkan warga untuk berdzikir dan bermunajat kepada Allah agar tidak diturunkan balak tersebut. Ngarak Lemper dan Gunungan dimaksudkan sebagai wujud rasa syukur pada Alloh SWT, untuk tolak balak dan sebagai sedekah pemerintah desa kepada warga desanya.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi,)
***)berbagai sumber
Jumat, 12 Juni 2015
UPACARA NGURAS KONG (ENCEH)
Di dusun Pajimatan desa Girirejo kecamatan
Imogiri dibagian depan terdapat empat enceh atau gentong atau padhasan yang
konon sebagai tempat berwudlu para pendiri Mataram. Pada setiap tanggal satu
bulan suro atau muharram atau pada hari yang bertepatan dengan hari jum’at
kliwon pada bulan muharram tersebut selalu dilakukan pengurasan padhasan atau
gentong atau lebih sering disebut enceh. Upacara tersebut terkenal dengan
tradisi nguras enceh. Ada empat enceh yang masing masing diberi nama Nyai Siyem
yang berasal dari Siam, Kyai Mendung dari Turki, Kyai Danumaya dari Aceh dan
Nyai Danumurti dari Palembang keempat enceh ini merupakan persembahan dari
kerajaan sahabat kepada Sultan Agung. Diyakini bahwa air dalam enceh-enceh
tersebut berkhasiat baik untuk kesuksesan, kesembuhan.
Upacara ini di awali dengan adanya kirab budaya, yakni
dengan membawa kirab peralatan untuk nguras yang berupa siwur atau gayung yang
terbuat dari tempurung kelapa mulai dari kecamatan Imogiri menuju komplek makam
raja raja imogiri sebagai tempat peristirahatan terakhir raja kasunanan
Solomaupun Raja Kasultanan Yogyakarta, Kegiatan ini dimeriahkan
dengan berbagai kegiatan seni yakni berupa kesenian tradisional.Dilanjutkan
dengan kenduri bersama yang dipimpin oleh sesepuh puralaya Imogiri. Seusainya
kenduri dilanjutkan dengan pencucian empat enceh yang ada. Berbagai sesaji
melengkapi upacara nguras enceh tersebut yakni berupa pisang, nasi, bunga mawar
dan melati serta kemenyan. Sedangkan air diambil dari sendang bekung yang
letaknya kurang lebih 2 km dari tempat berlangsungnya upacara.
Peristiwa ini sangat ditunggu tunggu oleh masyarakat hal
ini terbukti dengan mebludaknya
pengunjung setiap kali event ini digelar. Mereka pada dasarnya ingin
memperebutkan luberan air untuk mencuci keempat enceh tersebut. Hal ini
didasari atas kepercayaan mereka dimana air tersebut jika diminum akan
mendatangkan berkah baik sebagai penyembuh penyakit maupun sebagai pendatang
rejeki. Dan ada sebagian masyarakat yang lain air enceh tersebut memiliki
kandunagn air zam-zam.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
Kamis, 11 Juni 2015
ADAT & BUDAYA UPACARA GAREBEG
Upacara Garebeg diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun kalender/penanggalan Jawa yaitu pada tanggal dua belas bulan Mulud (bulan ke-3), tanggal satu bulan Sawal (bulan ke-10) dan tanggal sepuluh bulan Besar (bulan ke-12) di Kraton Surakarta dan Jogjakarta. Pada hari-hari tersebut Sultan berkenan mengeluarkan sedekahnya kepada rakyat sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran kerajaan.
Sedekah ini, yang disebut dengan Hajad Dalem, berupa pareden/gunungan yang terdiri dari Pareden Kakung, Pareden Estri, Pareden Pawuhan, Pareden Gepak, dan Pareden Dharat, serta Pareden Kutug/Bromo yang hanya dikeluarkan 8 tahun sekali pada saat Garebeg Mulud tahun Dal.
**) Gunungan kakung berbentuk kerucut yang mana dianggap sebagai bentuk lingga yang bermakna dewa atau kejantanan. Bentuk runcing pada bagian puncak bermakna ketajaman berpikir raja yang membuatnya bijaksana. Bagian mustoko atau mahkota bermakna keseimbangan dunia dan akhirat. Jadi secara umum gunungan ini bermakna hubungan kawula-gusti (hubungan manuia dengan Tuhan dan rakyat dengan rajanya)
**) Gunungan estri memiliki bentuk kerucut terbalik dan bagian dalamnya diisi dengan wajik (makanan dari ketan, santan dan gula jawa). Bagian bawah yang kecil dan terus melebar hingga bagian atas digambarkan sebagai bunga yang sedang mekar atau bentuk yoni (pasangan lingga). Gunungan yang melambangkan kesuburan ini memiliki makna yang lebih dalam yaitu pribadi seorang putri sejati yang mana untuk mencapai tujuan hidupnya harus berbekal pengetahuan dan pengalaman dalam menghadapi godaan.
**) Gunungan pawuhan memiliki bentuk seperti gunungan Putri tetapi lebih kecil. Pawuhan memiliki arti tempat sampah yang mana diibaratkan sebagai tempat menyimpan kekayaan. Jadi gunungan pawuhan memiliki makna apabila seseorang dapat mengatur pendapatan dan pengeluaran secara seimbang maka ia akan hidup tentram dan teratur.
**) Gunungan gepak gunungan yang unik karena berbeda dengan bentuk gunungan lainnya (bagian sesaji). Sesaji gunungan ini diletakan pada jodhang yang ditutup dengan kain Bango Tulak dan bagian dalamnya tertata Panjang Ilang (piring yang terbuat dari janur). Makna gunungan ini adalah dalam rumah tangga, seorang istri harus pandai mengatur ekonomi.
**) Gunungan dharat memiliki bentuk seperti gunungan Putri tapi tidak diisi wajik, tidak ditempatkan diatas jodhang (bagian dasar untuk meletakan gunungan) dan pada bagian mustoko-nya berwarna merah. Dharat memiliki arti tanah, dan gunungan dharat berarti bahwa dunia memiliki beragam kekayaan alam seperti hutan dan hasil bumi.
**) Gunungan kutug/bromo memiliki bentuk khas karena secara terus menerus mengeluarkan asap (kutug) yang berasal dari kemenyan yang dibakar. Gunungan yang satu ini tidak diperebutkan oleh masyarakat melainkan dibawa kembali ke dalam keraton untuk di bagikan kepada kerabat kerajaan. gunungan yang hanya keluar 8 tahun sekali. Bentuk yang mirip dengan gunungan Putri tetapi bentuknya bagian dasarnya tambun dan puncaknya seperti gunung berapi. Gunungan ini benar-benar menyerupai gunung berapi karena bagian puncaknya ditempatkan sebuah Anglo yang mana digunakan untuk membakar kemenyan dan mengepulkan asap jika angin berhembus. Gunungan ini bermakna orang hidup harus berani dan tidak mudah putus asa seperti kobaran api.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat.Tradisi, Tradisi, )
Sedekah ini, yang disebut dengan Hajad Dalem, berupa pareden/gunungan yang terdiri dari Pareden Kakung, Pareden Estri, Pareden Pawuhan, Pareden Gepak, dan Pareden Dharat, serta Pareden Kutug/Bromo yang hanya dikeluarkan 8 tahun sekali pada saat Garebeg Mulud tahun Dal.
**) Gunungan kakung berbentuk kerucut yang mana dianggap sebagai bentuk lingga yang bermakna dewa atau kejantanan. Bentuk runcing pada bagian puncak bermakna ketajaman berpikir raja yang membuatnya bijaksana. Bagian mustoko atau mahkota bermakna keseimbangan dunia dan akhirat. Jadi secara umum gunungan ini bermakna hubungan kawula-gusti (hubungan manuia dengan Tuhan dan rakyat dengan rajanya)
**) Gunungan estri memiliki bentuk kerucut terbalik dan bagian dalamnya diisi dengan wajik (makanan dari ketan, santan dan gula jawa). Bagian bawah yang kecil dan terus melebar hingga bagian atas digambarkan sebagai bunga yang sedang mekar atau bentuk yoni (pasangan lingga). Gunungan yang melambangkan kesuburan ini memiliki makna yang lebih dalam yaitu pribadi seorang putri sejati yang mana untuk mencapai tujuan hidupnya harus berbekal pengetahuan dan pengalaman dalam menghadapi godaan.
**) Gunungan pawuhan memiliki bentuk seperti gunungan Putri tetapi lebih kecil. Pawuhan memiliki arti tempat sampah yang mana diibaratkan sebagai tempat menyimpan kekayaan. Jadi gunungan pawuhan memiliki makna apabila seseorang dapat mengatur pendapatan dan pengeluaran secara seimbang maka ia akan hidup tentram dan teratur.
**) Gunungan gepak gunungan yang unik karena berbeda dengan bentuk gunungan lainnya (bagian sesaji). Sesaji gunungan ini diletakan pada jodhang yang ditutup dengan kain Bango Tulak dan bagian dalamnya tertata Panjang Ilang (piring yang terbuat dari janur). Makna gunungan ini adalah dalam rumah tangga, seorang istri harus pandai mengatur ekonomi.
**) Gunungan dharat memiliki bentuk seperti gunungan Putri tapi tidak diisi wajik, tidak ditempatkan diatas jodhang (bagian dasar untuk meletakan gunungan) dan pada bagian mustoko-nya berwarna merah. Dharat memiliki arti tanah, dan gunungan dharat berarti bahwa dunia memiliki beragam kekayaan alam seperti hutan dan hasil bumi.
**) Gunungan kutug/bromo memiliki bentuk khas karena secara terus menerus mengeluarkan asap (kutug) yang berasal dari kemenyan yang dibakar. Gunungan yang satu ini tidak diperebutkan oleh masyarakat melainkan dibawa kembali ke dalam keraton untuk di bagikan kepada kerabat kerajaan. gunungan yang hanya keluar 8 tahun sekali. Bentuk yang mirip dengan gunungan Putri tetapi bentuknya bagian dasarnya tambun dan puncaknya seperti gunung berapi. Gunungan ini benar-benar menyerupai gunung berapi karena bagian puncaknya ditempatkan sebuah Anglo yang mana digunakan untuk membakar kemenyan dan mengepulkan asap jika angin berhembus. Gunungan ini bermakna orang hidup harus berani dan tidak mudah putus asa seperti kobaran api.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat.Tradisi, Tradisi, )
UPACARA RUWATAN BUMI KABUPATEN SUBANG
Ruwatan merupakan ungkapan rasa syukur atas keberhasilan pertanian, upaya tolak bala, sebagai media penghormatan pada leluhur yang berjasa dalam sejarah perkembangan kampung Banceuy serta sarana silaturahmi masyarakat. Ngaruwat Bumi diyakini masyarakat Banceuy mempunyai manfaat keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan kehidupan pertanian. Kesenian Gemyung digelar pada malam hari, sampai jauh tengah malam. Dan tahap akhir upacara dilakukan besok paginya dengan mengarak Dewi Sri yaitu mengiring panganten Dewi Sri ke makam leluhur, diikuti oleh kuda kosong, kokolot/sesepuh, membawa parupuyan, panteret buah kelapa sambil menyanyi beluk, kesenian gemyung, penari pembawa hanjuang, penari pembawa janur, penari pencak silat dengan kendang pencanya, kesenian dogdog reog, kesenian genjring, kesenian tanji dan diiring dengan masyarakat lainnya mengikuti dibelakang. Kesenian pada acara Ruatan Bumi di Kampung Banceuy Kab.Subang:
Selain hal tersebut diatas helaran juga dimeriahkan berbagai kesenian lain seperti tari-tarian yang di bawakan oleh anak-anak Banceuy, Sisingaan dan kesenian tradisional lainnya. Setelah diawali dengan doa, upacara ngarak dewi Sri dilakukan dengan berkeliling kampung. Rute yang dilalui melewati 3 makam leluhur yang sangat dihormati, di setiap makam yang dilalui abah Karman, juru kunci adat, berdoa di depan makam para leluhur.Setelah diarak keliling kampung, kemudian dilakukan upacara nyawer Dewi Sri. Abah Karman kembali berdoa di depan simbol Dewi Sri kemudian memercikan air dan menaburkan beras. Rangkaian upacara kemudian diakhiri dengan ritual Ijab Rosul, yaitu berupa doa penutup seluruh rangkaian acara ruwatan yang sudah dimulai dari hari sebelumnya.
(Adat, Budaya, Karakter., upacara adat.Tradisi., Tradisi, )
Rabu, 10 Juni 2015
UPACARA PANJANG JIMAT DI CIREBON
Upacara Panjang Jimat merupakan puncak dari serangkaian berbagai acara tradisi Muludan yang berlangsung di keraton Kesepuhan, Keraton Kesultanan Kanoman dan Keraton Kecirebonan. Bagi masyarakat rakat kota Cirebon dan sekitarnya, acara tradisi Muludan tersebut sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka sejak kecil, meski lambat laun pengaruh kultural Keraton semakin pudar ditelan kemajuan zaman. Puncak dari seluruh rangkaian acara tersebut adalah upacara pelal Panjang Jimat yang diselenggarakan langsung oleh kerabat keraton dan dipimpin oleh sultan masing-masing juga dihadiri oleh para undangan serta pejabat penting.
Sultan Sepuh XIII Maulana Pakuningrat, menjelaskan nama Panjang Jimat terdiri atas dua kata, yaitu “panjang” yang artinya terus menerus tanpa terputus dan “jimat” yang merupakan akronim dalam bahasa Jawa : siji kang dirumat (satu yang dipelihara, red).
Menurut Sultan Sepuh, Jimat yang dimaksud adalah dua kalimat syahadat yang menjadi pegangan utama umat muslim sedunia. Jadi, makna Panjang Jimat adalah pesan kepada setiap umat Islam untuk selalu berpegang kepada dua kalimat syahadat selamanya, terus menerus tanpa terputus.
Sedangkan Pelal adalah kata bahasa jawa cirebonan yang mempunyai arti ujung atau akhir. Puncak dari seluruh rangkaian acara tersebut adalah upacara pelal Panjang Jimat yang diselenggarakan langsung oleh kerabat keraton dan dipimpin oleh sultan masing-masing juga dihadiri oleh para undangan serta pejabat penting.
Pelaksanaan upacara panjang jimat, ramai di kunjungin banyak masyarakat dari berbagai daerah, terlihat di Keraton Kasepuhan dan Kanoman. Di kedua keraton ini, tampak ribuan warga masyarakat dari berbagai daerah itu memadati seluruh area keraton sejak Jumat siang hingga malam terakhir Muludan.
Di Cirebon, bukan hanya di 3 keraton kasultanan yang memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW, di makan Sunan Gunung Jati, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon juga di gelar acara Muludan. Dimakam Sunan Gunung Jati juga, turut dipadati oleh ribuan Masyrakat yang sengaja ingin menghabiskan waktu malam Maulid Nabi dan ada juga yang ingin mencari berkah.
Upacara panjang jimat adalah puncak dari acara peringatan maulid Nabi di tiga keraton. Salah satunya di keraton
Kanoman, upacara digelar sekira pukul 21.00 WIB yang ditandai dengan sembilan kali bunyi lonceng Gajah Mungkur yang berada di gerbang depan keraton. Suara lonceng tersebut merupakan tanda dibukanya upacara malam panjang jimat atau biasa orang cirebon menyebut malam terakhir atau malam pelal.
Pelaksaanaan puncak upacara Panjang Jimat dilangsungkan di Bangsal Panembahan dan Bangsal Prabayaksa, dua ruang utama Keraton Kasepuhan. Bangsal Panembahan merupakan ruangan paling sakral di keraton, tempat para ulama dan kyai berdoa. Sementara, Bangsal Prabayaksa adalah tempat Sultan dan seluruh keluarga serta para tamu undangan mengikuti upacara. Setelah payung kebesaran diserahkan, satu demi satu perlengkapan upacara dikeluarkan dari Keputren dan Bangsal Pringgadani untuk disemayamkan sejenak di Bangsal Prabayaksa, sebelum dibawa dalam sebuah prosesi menuju Langgar Agung.
Di Keraton Kasepuhan, prosesi Panjang Jimat terdiri atas sembilan kelompok, yang masing-masing memiliki makna tersendiri berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad Saw.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
Sultan Sepuh XIII Maulana Pakuningrat, menjelaskan nama Panjang Jimat terdiri atas dua kata, yaitu “panjang” yang artinya terus menerus tanpa terputus dan “jimat” yang merupakan akronim dalam bahasa Jawa : siji kang dirumat (satu yang dipelihara, red).
Menurut Sultan Sepuh, Jimat yang dimaksud adalah dua kalimat syahadat yang menjadi pegangan utama umat muslim sedunia. Jadi, makna Panjang Jimat adalah pesan kepada setiap umat Islam untuk selalu berpegang kepada dua kalimat syahadat selamanya, terus menerus tanpa terputus.
Sedangkan Pelal adalah kata bahasa jawa cirebonan yang mempunyai arti ujung atau akhir. Puncak dari seluruh rangkaian acara tersebut adalah upacara pelal Panjang Jimat yang diselenggarakan langsung oleh kerabat keraton dan dipimpin oleh sultan masing-masing juga dihadiri oleh para undangan serta pejabat penting.
Pelaksanaan upacara panjang jimat, ramai di kunjungin banyak masyarakat dari berbagai daerah, terlihat di Keraton Kasepuhan dan Kanoman. Di kedua keraton ini, tampak ribuan warga masyarakat dari berbagai daerah itu memadati seluruh area keraton sejak Jumat siang hingga malam terakhir Muludan.
Di Cirebon, bukan hanya di 3 keraton kasultanan yang memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW, di makan Sunan Gunung Jati, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon juga di gelar acara Muludan. Dimakam Sunan Gunung Jati juga, turut dipadati oleh ribuan Masyrakat yang sengaja ingin menghabiskan waktu malam Maulid Nabi dan ada juga yang ingin mencari berkah.
Upacara panjang jimat adalah puncak dari acara peringatan maulid Nabi di tiga keraton. Salah satunya di keraton
Kanoman, upacara digelar sekira pukul 21.00 WIB yang ditandai dengan sembilan kali bunyi lonceng Gajah Mungkur yang berada di gerbang depan keraton. Suara lonceng tersebut merupakan tanda dibukanya upacara malam panjang jimat atau biasa orang cirebon menyebut malam terakhir atau malam pelal.
Pelaksaanaan puncak upacara Panjang Jimat dilangsungkan di Bangsal Panembahan dan Bangsal Prabayaksa, dua ruang utama Keraton Kasepuhan. Bangsal Panembahan merupakan ruangan paling sakral di keraton, tempat para ulama dan kyai berdoa. Sementara, Bangsal Prabayaksa adalah tempat Sultan dan seluruh keluarga serta para tamu undangan mengikuti upacara. Setelah payung kebesaran diserahkan, satu demi satu perlengkapan upacara dikeluarkan dari Keputren dan Bangsal Pringgadani untuk disemayamkan sejenak di Bangsal Prabayaksa, sebelum dibawa dalam sebuah prosesi menuju Langgar Agung.
Di Keraton Kasepuhan, prosesi Panjang Jimat terdiri atas sembilan kelompok, yang masing-masing memiliki makna tersendiri berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad Saw.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
Selasa, 09 Juni 2015
BUDAYA & TRADISI NADRAN DI INDRAMAYU JAWA BARAT
Jawa Barat merupakan wilayah persisir pantai utara Jawa yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai nelayan. Para nelayan Indramayu memiliki tradisi yang cukup unik, yaitu tradisi nadran atau pesta laut yang merupakan agenda rutin bagi para nelayan yang diadakan dua tahun sekali. Nadran dilakukan dua minggu setelah hari raya Idul Fitri.
Tradisi Nadran yang digelar oleh para nelayan Indramayu adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan, baik berupa keselamatan ketika berlayar di laut maupun hasil ikan yang melimpah sepanjang tahun yang lalu.
Tradisi nadran diawali dengan pemotongan kerbau sehari sebelum acara puncak. Sesaji dan doa dipanjatkan sebelum kerbau disembelih agar proses penyembelihan lancar. Kepala kerbau yang sudah dipotong kemudian akan menjadi sesaji yang dilarung ke tengah laut dengan pendamping beragam tumpeng, kembang, dan jajanan pasar.
Tradisi nadran sendiri mula-mula diawali dengan diadakannya pagelaran tari-tarian dan hiburan rakyat tradisional seperti reog, jaipong, genjring, tari kerbau dan lain-lain. Semua warga nelayan indramayu yang hadir hari itu tumplek blek menikmati pesta tahunan ini hingga pesta ini menjadi begitumeriah.
Kemeriahan pun tampak di dalam ruangan khusus di mana ibu-ibu dan bapak-bapak nelayan yang dianggap kompeten menyiapkan meron yang akan dilarung keesokan harinya. Meron sendiri merupakan sebuah miniatur perahu yang didalamnya diisi dengan kepala kerbau, kulit kerbau, dan berbagai macam sesaji yang nantinya akan diangkut kedalam perahu sungguhan untuk kemudian dilarung ke tengah-tengah lautan (± 50 meter dari pantai).
Ketika meron telah dimuat kedalam perahu, para nelayan dengan perahunya masing-masing akan mengawal merahu yang membawa meron. Ketika tiba ditujuan, dan meron itu dilarungkan, para nelayan yang tadi mengawal akan berbondong-bondong ikut terjun kelaut memperebutkan segala sesaji dari meron yang dilarungkan tersebut. Mereka percaya bahwa berbagai sesaji yang mereka dapat dari meron, dapat berkhasiat menjadi penolak bala sekaligus mendatangkan rezeki yang melimpah ketika dibawa berlayar untuk mencari ikan.
Setelah acara larungan meron, sang dukun yang bertugas sebagai pembaca mantra dan doa-doa itu pun akan mengambil air laut yang nantinya akan dipakai dalam acara ruwatan pada malam berikutnya. Upacara ruwatan itu sendiri berupa upacara untuk meminta keselamatan yang ditandai dengan digelarnya pertunjukan wayang kulit dengan lakon tertentu.
Air laut yang siang tadi diambil ketika upacara larung meron dan telah dicampur dengan air-air lainnya oleh sang dukun, akan dibagikan kepada warga setelah acara ruwatan selesai sebagai ajimat agar sentiasa diberikan keselamatan.
Upacara ruwatan tersebut juga merupakan acara penutup pada acara tradisi nadran. Usai acara ruwatan, para nelayan pun pulang kerumah masing-masing untuk kembali menjalankan rutinitas sehari-hari mereka yang tak lepas dari jaring dan perahu.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat,Tradisi., )
Tradisi Nadran yang digelar oleh para nelayan Indramayu adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan, baik berupa keselamatan ketika berlayar di laut maupun hasil ikan yang melimpah sepanjang tahun yang lalu.
Tradisi nadran diawali dengan pemotongan kerbau sehari sebelum acara puncak. Sesaji dan doa dipanjatkan sebelum kerbau disembelih agar proses penyembelihan lancar. Kepala kerbau yang sudah dipotong kemudian akan menjadi sesaji yang dilarung ke tengah laut dengan pendamping beragam tumpeng, kembang, dan jajanan pasar.
Tradisi nadran sendiri mula-mula diawali dengan diadakannya pagelaran tari-tarian dan hiburan rakyat tradisional seperti reog, jaipong, genjring, tari kerbau dan lain-lain. Semua warga nelayan indramayu yang hadir hari itu tumplek blek menikmati pesta tahunan ini hingga pesta ini menjadi begitumeriah.
Kemeriahan pun tampak di dalam ruangan khusus di mana ibu-ibu dan bapak-bapak nelayan yang dianggap kompeten menyiapkan meron yang akan dilarung keesokan harinya. Meron sendiri merupakan sebuah miniatur perahu yang didalamnya diisi dengan kepala kerbau, kulit kerbau, dan berbagai macam sesaji yang nantinya akan diangkut kedalam perahu sungguhan untuk kemudian dilarung ke tengah-tengah lautan (± 50 meter dari pantai).
Ketika meron telah dimuat kedalam perahu, para nelayan dengan perahunya masing-masing akan mengawal merahu yang membawa meron. Ketika tiba ditujuan, dan meron itu dilarungkan, para nelayan yang tadi mengawal akan berbondong-bondong ikut terjun kelaut memperebutkan segala sesaji dari meron yang dilarungkan tersebut. Mereka percaya bahwa berbagai sesaji yang mereka dapat dari meron, dapat berkhasiat menjadi penolak bala sekaligus mendatangkan rezeki yang melimpah ketika dibawa berlayar untuk mencari ikan.
Setelah acara larungan meron, sang dukun yang bertugas sebagai pembaca mantra dan doa-doa itu pun akan mengambil air laut yang nantinya akan dipakai dalam acara ruwatan pada malam berikutnya. Upacara ruwatan itu sendiri berupa upacara untuk meminta keselamatan yang ditandai dengan digelarnya pertunjukan wayang kulit dengan lakon tertentu.
Air laut yang siang tadi diambil ketika upacara larung meron dan telah dicampur dengan air-air lainnya oleh sang dukun, akan dibagikan kepada warga setelah acara ruwatan selesai sebagai ajimat agar sentiasa diberikan keselamatan.
Upacara ruwatan tersebut juga merupakan acara penutup pada acara tradisi nadran. Usai acara ruwatan, para nelayan pun pulang kerumah masing-masing untuk kembali menjalankan rutinitas sehari-hari mereka yang tak lepas dari jaring dan perahu.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat,Tradisi., )
Senin, 08 Juni 2015
TRADISI & BUDAYA PESTA NELAYAN PELABUHAN RATU BANDUNG
Nelayan Palabuhanratu dalam menyambut hari nelayan ke-54
menggelar ritual adat istiadat yakni Larung Saji atau menabur sesajen ke Laut
Selatan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.
Kegiatan yang dilakukan oleh ribuan nelayan di Palabuhanratu tersebut mengerahkan ratusan kapal perahu tradisional untuk mengiring sesaji yang sudah dipersiapkan oleh sesepuh ada di Palabuhanratu khususnya di Desa Jayanti.
Kegiatan yang dilakukan oleh ribuan nelayan di Palabuhanratu tersebut mengerahkan ratusan kapal perahu tradisional untuk mengiring sesaji yang sudah dipersiapkan oleh sesepuh ada di Palabuhanratu khususnya di Desa Jayanti.
Adapun barang-barang yang dibuat menjadi sesajen adalah
satu kepala kerbau, ayam bakakak, buah-buahan, uang dan hasil bumi lainnya.
"Ritual Larung Saji ini sudah ada sejak nenek moyang kami, acara hari nelayan ini kami laksanakan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan berkah dan rizkinya kepada para nelayan," kata Ketua Panitia Larung Saji Desa Jayanti.
"Ritual Larung Saji ini sudah ada sejak nenek moyang kami, acara hari nelayan ini kami laksanakan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan berkah dan rizkinya kepada para nelayan," kata Ketua Panitia Larung Saji Desa Jayanti.
Adat istiadat warga di Palabuhanratu yang sudah melakukan
ritual ini sejak ratusan tahun lalu.
Sehingga, dengan masih adanya ritual seperti ini bukan
berarti berbeda pemahaman dengan pihak Pemkab Sukabumi yang perayaan Hari
Nelayan tersebut hanya sebatas menebar tukik atau benih ikan kakap merah dan
putih.
Walaupun ada sesajen yang ditaburkan pada Hari Nelayan itu, tujuannya sebagai ucapan terima kasih yang selama setahun ini para nelayan di Palabuhanratu tidak henti-hentinya menangkap ikan dan bukan berarti sesajen itu diberikan kepada makhluk halus atau jin tetapi ditebar ke laut agar menjadi sumber makanan untuk ikan.
Adapun lokasi Larung Saji tersebut berada di 5 mil laut dari Desa Jayanti yakni di spot Jero Kidul Ciracek yang merupakan tempat berkumpulnya ikan atau Fishing Ground.
"Ritual Larung Saji ini akan kami pertahankan sampai anak cucu kami, jika ada perbedaan dalam merayakan Hari Nelayan dengan Pemkab ini bukanlah masalah karena pihak pemerintah lebih kepada acara seremoninya," tambahnya.
Sementara, sesepuh nelayan Desa Jayanti, Ibong mengatakan, Larung Saji ini juga bertujuan sebagai permintaan rizki kepada Allah SWT produksi ikan terus meningkat sepanjang tahun, selain itu juga untuk membersihkan diri dari jiwa yang kotor selama satu tahun ini.
Adapun pada ritual tersebut nelayan berebut hasil bumi yang ditabur di tengah laut dan memandikan perahunya dengan air laut yang, sudah menjadi kebiasaan para nelayan yang menganggap hal itu bisa membawa berkah.
Walaupun ada sesajen yang ditaburkan pada Hari Nelayan itu, tujuannya sebagai ucapan terima kasih yang selama setahun ini para nelayan di Palabuhanratu tidak henti-hentinya menangkap ikan dan bukan berarti sesajen itu diberikan kepada makhluk halus atau jin tetapi ditebar ke laut agar menjadi sumber makanan untuk ikan.
Adapun lokasi Larung Saji tersebut berada di 5 mil laut dari Desa Jayanti yakni di spot Jero Kidul Ciracek yang merupakan tempat berkumpulnya ikan atau Fishing Ground.
"Ritual Larung Saji ini akan kami pertahankan sampai anak cucu kami, jika ada perbedaan dalam merayakan Hari Nelayan dengan Pemkab ini bukanlah masalah karena pihak pemerintah lebih kepada acara seremoninya," tambahnya.
Sementara, sesepuh nelayan Desa Jayanti, Ibong mengatakan, Larung Saji ini juga bertujuan sebagai permintaan rizki kepada Allah SWT produksi ikan terus meningkat sepanjang tahun, selain itu juga untuk membersihkan diri dari jiwa yang kotor selama satu tahun ini.
Adapun pada ritual tersebut nelayan berebut hasil bumi yang ditabur di tengah laut dan memandikan perahunya dengan air laut yang, sudah menjadi kebiasaan para nelayan yang menganggap hal itu bisa membawa berkah.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
Sabtu, 06 Juni 2015
BUDAYA & TRADISI PERNIKAHAN DI JAWA
Ada 7 Pitulungan (penolong) yang melakukan proses siraman. Airnya merupakan campuran dari kembang setaman yang disebut Banyu Perwitosari yang jika memungkinkan diambil dari 7 mata air. Diawali siraman oleh orangtua calon pengantin, acara siraman ditutup oleh siraman pemaes yang kemudian memecahkan kendi.
Beranjak malam, acara dilanjutkan dengan Midodareni, yaitu malam kedua mempelai melepas masa lajang. Dalam acara Midodareni yang digelar di kediaman perempuan ini, ada acara nyantrik untuk memastikan pengantin laki-laki akan hadir pada ijab kabul dan kepastian bahwa keluarga mempelai perempuan siap melaksanakan perkawinan dan upacara panggih di hari berikutnya.
Upacara Panggih
Usai acara akad nikah dilakukan upacara Panggih, di mana kembang mayang dibawa keluar rumah dan diletakkan di persimpangan dekat rumah yang tujuannya untuk mengusir roh jahat. Setelah itu pengantin perempuan yang bertemu pengantin laki-laki akan melanjutkan upacara dengan melakukan
1) Balangan suruh
Melempar daun sirih yang melambangkan cinta kasih dan kesetiaan
2) Wiji dadi
Mempelai laki-laki menginjak telur ayam hingga pecah, kemudian mempelai perempuan akan membasuh kaki sang suami dengan air bunga. Proses ini melambangkan seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya.
3) Pupuk
Ibu mempelai perempuan mengusap mempelai mantu laki-laki sebagai tanda ikhlas menerimanya sebagai bagian dari keluarga.
4) Sinduran
Berjalan perlahan-lahan dengan menyampirkan kain sindur sebagai tanda bahwa kedua mempelai sudah diterima sebagai keluarga.
5) Timbang
Kedua mempelai duduk di pangkuan bapak mempelai perempuan sebagai tanda kasih sayang orangtua terhadap anak dan menantu sama besarnya.
6) Kacar-kucur
Kacar-kucur yang dituangkan ke pangkuan perempuan sebagai simbol pemberian nafkah.
7) Dahar Klimah
Saling menyuapi satu sama lain yang melambangkan kedua mempelai akan hidup bersama dalam susah maupun senang.
8 Mertui
Orangtua mempelai perempuan menjemput orangtua mempelai laki-laki di depan rumah untuk berjalan bersama menuju tempat upacara.
9) Sungkeman
Kedua mempelai memohon restu dari kedua orangtua.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
Jumat, 05 Juni 2015
BUDAYA & TRADISI PERNIKAHAN DI LAMPUNG
Masyarakat asli Lampung terbagai dalam dua kelompok besar
yaitu Pepadun dan Saibatin. Kelompok Lampung Pepadun umumnya mendiami daerah
pedalaman sementara masyarakat Lampung Saibatin lebih banyak mendiami wilayah
sepanjang pantai timur, selatan, dan barat, karenanya sering disebut juga
sebagai Lampung Pesisir. Baik Lampung Pepadun maupun Saibatin memiliki keunikan
masing-masing dari segi adat istiadat, busana, juga tatacara melangsungkan
pernikahan. Prosesi pernikahan adat berikut merupakan tata cara yang
lebih sering dilakukan oleh masyarakat Lampung Pepadun.
Sebelum Pernikahan
Pada zaman dahulu ada beberapa tahapan yang dilakukan sebelum sampai ke proses pernikahan. Namun beberapa sudah tak lagi dilakukan mengingat pergaulan yang semakin luas, pria dan wanita sudah lebih bebas memilih pasangan masing-masing tanpa keterlibatan orangtua.
Pada zaman dahulu ada beberapa tahapan yang dilakukan sebelum sampai ke proses pernikahan. Namun beberapa sudah tak lagi dilakukan mengingat pergaulan yang semakin luas, pria dan wanita sudah lebih bebas memilih pasangan masing-masing tanpa keterlibatan orangtua.
a. Nindai/Nyubuk
Yakni proses awal dimana orangtua calon mempelai pria akan menilai apakah si gadis berkenan dihati atau tidak. Zaman dahulu pada upacara Begawi (Cakak Pepadun) biasanya diadakan Cangget Pilangan, dimana bujang dan gadis hadir dengan mengenakan busana adat, disinilah utusan keluarga calon pengantin pria nyubuk atau nindai gadis dibalai adat.
Yakni proses awal dimana orangtua calon mempelai pria akan menilai apakah si gadis berkenan dihati atau tidak. Zaman dahulu pada upacara Begawi (Cakak Pepadun) biasanya diadakan Cangget Pilangan, dimana bujang dan gadis hadir dengan mengenakan busana adat, disinilah utusan keluarga calon pengantin pria nyubuk atau nindai gadis dibalai adat.
b. Be ulih-ulihan (Bertanya-tanya)
Usai proses Nindai, apabila gadis sudah berkenan dihati, berarti selangkah menuju perkawinan sudah ditapaki. Calon mempelai pria mencari tahu apakah gadis tersebut sudah ada yang punya atau masih bebas, keturunannya bagaimana (bibit, bobot). Jika sudah cocok, maka diadakan pendekatan. Yang dilanjutkan dengan bekado atau berkunjung ke kediaman si gadis dengan membawa alat-alat makan dan minum untuk mengutarakan isi hati.
Usai proses Nindai, apabila gadis sudah berkenan dihati, berarti selangkah menuju perkawinan sudah ditapaki. Calon mempelai pria mencari tahu apakah gadis tersebut sudah ada yang punya atau masih bebas, keturunannya bagaimana (bibit, bobot). Jika sudah cocok, maka diadakan pendekatan. Yang dilanjutkan dengan bekado atau berkunjung ke kediaman si gadis dengan membawa alat-alat makan dan minum untuk mengutarakan isi hati.
c. Nunang (ngelamar)
Pada hari yang sudah ditentukan calon pengantin pria datang melamar dengan membawa bawaan berupa makanan, kue-kue, dodol, alat merokok, alat-alat nyireh ugay cambai (sirih pinang). Jumlah dalam satu macam disesuaikan dengan tahta atau kedudukan calon pengantin pria. Dalam kunjungan tersebut dikemukakan maksud dan tujuan kepada orangtua si gadis yaitu untuk meminang si gadis.
Pada hari yang sudah ditentukan calon pengantin pria datang melamar dengan membawa bawaan berupa makanan, kue-kue, dodol, alat merokok, alat-alat nyireh ugay cambai (sirih pinang). Jumlah dalam satu macam disesuaikan dengan tahta atau kedudukan calon pengantin pria. Dalam kunjungan tersebut dikemukakan maksud dan tujuan kepada orangtua si gadis yaitu untuk meminang si gadis.
d. Nyirok (ngikat)
Acara ini bisa dijadikan sekaligus pada waktu melamar, dimana calon pengantin pria memberikan tanda pengikat dan hadiah istimewa bagi si gadis berupa mas berlian, kain jung sarat dan sebagainya. Tata cara Nyirok adalah:
Orang tua calon pengantin pria mengikat pinggang si gadis dengan benang lutan (benang terbuat dari kapas berwarna putih, merah, hitam atau tridatu) sepanjang 1 meter dengan niat semoga menjadi jodoh dan dijauhkan dari halangan.
Acara ini bisa dijadikan sekaligus pada waktu melamar, dimana calon pengantin pria memberikan tanda pengikat dan hadiah istimewa bagi si gadis berupa mas berlian, kain jung sarat dan sebagainya. Tata cara Nyirok adalah:
Orang tua calon pengantin pria mengikat pinggang si gadis dengan benang lutan (benang terbuat dari kapas berwarna putih, merah, hitam atau tridatu) sepanjang 1 meter dengan niat semoga menjadi jodoh dan dijauhkan dari halangan.
e. Berunding (Menjeu)
Utusan calon pengantin pria datang kerumah calon mempelai wanita (manjau) dengan membawa dudul cumbi untuk berunding mengenai uang jujur, mas kawin, adat macam apa yang akan dilaksanakan, dan menentukan tempat dilakukannya akad nikah. Menurut tradisi adat Lampung, umumnya pernikahan dilaksanakan di rumah calon pengantin pria, tetapi hal itupun dapat dibicarakan bersama.
Utusan calon pengantin pria datang kerumah calon mempelai wanita (manjau) dengan membawa dudul cumbi untuk berunding mengenai uang jujur, mas kawin, adat macam apa yang akan dilaksanakan, dan menentukan tempat dilakukannya akad nikah. Menurut tradisi adat Lampung, umumnya pernikahan dilaksanakan di rumah calon pengantin pria, tetapi hal itupun dapat dibicarakan bersama.
f. Sesimburan (dimandikan)
Upacara sesimburan dilaksanakan di kali atau di sumur dengan arak-arakan. Calon pengantin wanita dipayungi dengan payung gober dan diiringi tetabuhan (gender, gujih dan lain-lain), talo lunik. Lalu calon pengantin wanita dan gadis-gadis beserta ibu-ibu mandi bersama saling simbur, mengandung makna bahwa masa bermain telah berakhir dan sebagai tolak bala karena besok akan melaksanakan akad nikah.
Upacara sesimburan dilaksanakan di kali atau di sumur dengan arak-arakan. Calon pengantin wanita dipayungi dengan payung gober dan diiringi tetabuhan (gender, gujih dan lain-lain), talo lunik. Lalu calon pengantin wanita dan gadis-gadis beserta ibu-ibu mandi bersama saling simbur, mengandung makna bahwa masa bermain telah berakhir dan sebagai tolak bala karena besok akan melaksanakan akad nikah.
g. Betanges (mandi uap)
Merebus rempah-rempah wewangian yang disebut pepun sampai mendidih dan diletakkan dibawah kursi. Calon pengantin wanita duduk di atas kursi tersebut dan dilingkari dengan tikar pandan (dikurung), bagian atas tikar ditutup dengan tampah atau kain, sehingga uap menyebar ke seluruh tubuh, agar tubuh mengeluarkan aroma harum, dan tidak terlalu banyak mengeluarkan keringat. Lama betanges kira-kira 15-25 menit.
Merebus rempah-rempah wewangian yang disebut pepun sampai mendidih dan diletakkan dibawah kursi. Calon pengantin wanita duduk di atas kursi tersebut dan dilingkari dengan tikar pandan (dikurung), bagian atas tikar ditutup dengan tampah atau kain, sehingga uap menyebar ke seluruh tubuh, agar tubuh mengeluarkan aroma harum, dan tidak terlalu banyak mengeluarkan keringat. Lama betanges kira-kira 15-25 menit.
i. Berparas (mencukur)
Setelah betanges dilanjutkan dengan berparas atau menghilangkan bulu-bulu halus dan membentuk alis agar tampak menarik dan mempermudah membentuk cintok pada dahi dan pelipis. Pada malam hari dilanjutkan memasang pacar pada kuku calon mempelai wanita.
Setelah betanges dilanjutkan dengan berparas atau menghilangkan bulu-bulu halus dan membentuk alis agar tampak menarik dan mempermudah membentuk cintok pada dahi dan pelipis. Pada malam hari dilanjutkan memasang pacar pada kuku calon mempelai wanita.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
Rabu, 03 Juni 2015
BUDAYA & TRADISI TABOT DI BENGKULU
Perayaan Tabot pada mulanya dibawa dan dikembangkan oleh orang-orang India asal Siphoy yang datang bersama datangnya tentara Inggris ke Bengkulu tahun 1685. Mereka datang ke Bengkulu dari Madras-Benggali India bagian selatan, bersama-sama bangsa Inggris semasa pendudukannya di Bengkulu. Salah satu pendatang tersebut adalah Ulama Syiah bernama Syeh Burhanuddin yang kemudian lebih dikenal dengan nama Imam Senggolo. Seperti telah diuraikan sebelumnya, nama "Tabut" berasal dari kata Arab yaitu Tabut, yang secara harfiah berarti Kotak Kayu atau Peti. Konon menurut kepercayaan kaum Bani Israil pada waktu itu bahwa bila Tabut ini muncul dan berada di tangan pemimpin mereka, akan mendatangkan kebaikan bagi mereka. Namun sebaliknya bila Tabut tersebut hilang maka akan dapat mendatangkan malapeta bagi mereka.
Karena upacara ini sudah cukup lama tumbuh dan berkembang di sebagian masyarakat Kota Bengkulu, maka akhirnya dipandang sebagai upacara tradisional orang Bengkulu. Baik dari kalangan kaum Sipai maupun oleh seluruh masyarakat Melayu Bengkulu. Dengan demikian jadilah Upacara Tabot sebagai Upacara Tradisional dari suku Melayu Bengkulu.
Di Bengkulu sendiri, upacara Tabot ini merupakan upacara hari berkabung atas gugurnya Syaid Agung Husien bin Ali bin Abi Thalib, salah seorang cucu Nabi Muhammad SAW. Inti dari upacara tersebut adalah mengenang usaha dan upaya para pemimpin Syi'ah dan kaumnya yang berupaya mengumpulkan bagian-bagian dari jenazah Husien. Setelah semua bagian tubuhnya terkumpul kemudian diarak dan dimakamkan di Padang Karbala. Seluruh upacara berlangsung selama 10 hari, yaitu dari tanggal 01 sampai dengan 10 Muharram. Adapun tahapan dari upacara Tabot tersebut adalah sebagai berikut : Mengambil Tanah, Duduk Penja, Meradai, Merajang, Arak Penja, Arak Serban, Gam (masa tenang/berkabung) dan Arak Gedang serta Tabot terbuang.
Upacara Tabot di Bengkulu mengandung aspek ritual dan non ritual. Aspek ritual hanya boleh dilakukan oleh Keluarga Keturunan Tabot yang dipimpin oleh sesepuh keturunannya langsung, serta memiliki ketentuan-ketentuan khusus dan norma-norma yang harus ditaati oleh mereka. Sedangkan acara yang mengandung aspek non ritual dapat diikuti oleh siapa saja.
Tabot yang terus berkembang dari tahun ke tahun itu lama-kelamaan sudah semakin meninggalkan arti upacara tabot itu sendiri. Tabot yang sekarang lebih ke acara festival dan Tabot sendiri dijadikan suatu objek pariwisata di Bengkulu.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
***)berbagai sunber
Karena upacara ini sudah cukup lama tumbuh dan berkembang di sebagian masyarakat Kota Bengkulu, maka akhirnya dipandang sebagai upacara tradisional orang Bengkulu. Baik dari kalangan kaum Sipai maupun oleh seluruh masyarakat Melayu Bengkulu. Dengan demikian jadilah Upacara Tabot sebagai Upacara Tradisional dari suku Melayu Bengkulu.
Di Bengkulu sendiri, upacara Tabot ini merupakan upacara hari berkabung atas gugurnya Syaid Agung Husien bin Ali bin Abi Thalib, salah seorang cucu Nabi Muhammad SAW. Inti dari upacara tersebut adalah mengenang usaha dan upaya para pemimpin Syi'ah dan kaumnya yang berupaya mengumpulkan bagian-bagian dari jenazah Husien. Setelah semua bagian tubuhnya terkumpul kemudian diarak dan dimakamkan di Padang Karbala. Seluruh upacara berlangsung selama 10 hari, yaitu dari tanggal 01 sampai dengan 10 Muharram. Adapun tahapan dari upacara Tabot tersebut adalah sebagai berikut : Mengambil Tanah, Duduk Penja, Meradai, Merajang, Arak Penja, Arak Serban, Gam (masa tenang/berkabung) dan Arak Gedang serta Tabot terbuang.
Upacara Tabot di Bengkulu mengandung aspek ritual dan non ritual. Aspek ritual hanya boleh dilakukan oleh Keluarga Keturunan Tabot yang dipimpin oleh sesepuh keturunannya langsung, serta memiliki ketentuan-ketentuan khusus dan norma-norma yang harus ditaati oleh mereka. Sedangkan acara yang mengandung aspek non ritual dapat diikuti oleh siapa saja.
Tabot yang terus berkembang dari tahun ke tahun itu lama-kelamaan sudah semakin meninggalkan arti upacara tabot itu sendiri. Tabot yang sekarang lebih ke acara festival dan Tabot sendiri dijadikan suatu objek pariwisata di Bengkulu.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi, )
***)berbagai sunber
Selasa, 02 Juni 2015
RUMAH ADAT NUWO SESAT DI LAMPUNG
Rumah adat Nuwo Sesat yang berasal dari daerah Lampung Sumatera. Rumah tradisional adat Lampung ini termaksud kategori rumah panggung. Atapnya terbuat dari anyaman ilalang dan sebagian besar bahnnya terbuat dari kayu. Bentuk rumah panggun ini untuk menghindari serangan hewan dan lebih kokoh bila terjadi gempa bumi, karena masyarakat lampung telah mengenal gempa dari zaman dahulu dan lampung terletak di pertemuan lempeng Asia dan Australia.
Terdapat ornamen yang khas pada bagian sisi bangunan tertentu rumah sessat ini. Umumnya bentuk rumah sessat berbentuk rumah besar. Namun saat ini bentuknya tidak terlalu besar. Di perkampungan penduduk asli Lampung sebagian besar rumah adat ini dibangun tidak bertiang dan berlantai di tanah dengan fungsi yang tetap sama.Ciri khas lainnya di rumah sesat ini adalah hiasan payung besar di atapnya [Rurung Agung] yang berwarna putih, kuning, dan merah yang melambangkan tingkat Kepenyimbangan bagi masyarakat adat Lampung Pepadun.
Bentuk bangunan tempat tinggal masyarakat Kabupaten Lampung boleh di bilang cukup beraneka ragam. Hal ini dapat di lihat dari keragaman bentuk rumah yang didirikan oleh warga setempat sebagai tempat tinggal.
Fungsi rumah adat Nuwo Sesat pada dasarnya merupakan balai pertemuan adat tempat para Perwatin pada saat mengadakan Pepung atau musyawarah adat, karenanya itu juga disebut sebagai Sesat Balai Agung. Bagian bagian dari bangunan ini adalah :
a). Ijan Geladak merupakan tangga masuk yang dilengkapi dengan atap yang disebut Rurung Agung.
b). Anjungan, yaitu serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil
c). Pusiban sebagai ruang tempat musyawarah resmi.
d). Ruang Tetabuhan merupakan tempat menyimpan alat musik tradisional.
e). Ruang Gajah Merem sebagai tempat istirahat bagi para Penyimbang.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, Rumah adat,)
Senin, 01 Juni 2015
BUDAYA & TRADISI PERANG KETUPAT DI BANGKA
Perang ketupat bangka
ditempilang merupakan suatu seni adat istiadat budaya bangka belitung, perang
ketupat tempilang adalah perayaan pesta adat yang telah berlangsung sejak zaman
nenek moyang masyarakat tempilang. Konon kabarnya kegiatan ini telah
berlangsung sejak masyarakat belum mengenal adanya agama.
Acara perang ketupat
tempilang biasanya dilakukan atau diselenggarakan setiap masuk tahun baru islam
(1
Muharam), perayaan ini dilakukan dipantai tempilang bangka barat,
uniknya saat melakukan tradisi ini serta berlangsungnya acara ini , penduduk
sekitar pantai Tempilang yang menyelenggarakan acara ini akan membuka pintu
rumah sebesar-besarnya untuk menyambut tamu-tamu yang berkunjung ke desa
mereka.
Perang ketupat di
tempilang ini diawali dengan prosesi pemanggilan roh “halus” oleh dukun kampung
dengan pemberian sesajen kepada mahluk halus tersebut, menurut sesepuh
masyarakat disana mereka para mahluk halus itu didatangkan ke pinggir pantai
pasir kuning kemudian disambut dengan pesta dan tarian adat, setelah itu
barulah para peserta yang ikut dalam lempar ketupat ini saling melempar
ketupat ke setiap orang yang mereka temui, adat istiadat budaya perang ketupat
tempilang bangka.
Acara ini cukup digemari
oleh kaum muda di daerah Bangka, banyak pemuda yang sengaja datang dari jauh,
atau malah pulang dari perantauan untuk menghadiri acara ini. Wialayh tempilang
merupakan wilayah bangka barat untuk menuju desa tempilang ini membutuhkan
jarak tempuh sekitar 2 jam perjalanan
dari kota pangkal pinang, adat istiadat budaya perang ketupat tempilang
bangka.
Langganan:
Komentar (Atom)























